Arina.id - Burung Hudhud adalah hewan yang menjadi salah satu pasukan Nabi Sulaiman, di antara tugas utamanya adalah sebagai intelijen untuk mencari dan mengumpulkan informasi penting. Suatu hari, Hudhud ingin menjamu Nabi Sulaiman beserta pasukannya dengan jamuan yang cukup unik, yaitu seekor belalang.
Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I‘anatut Thalibin (Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah: 1415 H/II:589) mengungkapkan kisah yang bersumber dari Al-Qazwaini. Dikisahkan, burung Hudhud pernah mengundang Nabi Sulaiman AS beserta pasukannya sebagai tamu kehormatan. Sebagaimana diketahui, salah satu mukjizat Nabi Sulaiman adalah mampu berkomunikasi dengan binatang.
“Wahai Nabi Sulaiman, aku ingin engkau dan pasukanmu menjadi tamuku pada hari dan pulau yang telah aku tentukan,” ujar burung Hudhud yang disusul persetujuan Nabi Sulaiman .
Saat hari yang ditentukan tiba, Nabi Sulaiman bersama pasukannya berangkat menuju pulau yang dimaksud. Setelah mereka menginjakkan kaki di pulau tersebut, Hudhud mulai mendekat sambil membawa seekor belalang yang telah mati, tidak lama kemudian dia melemparkan belalang tersebut di atas permukaan laut.
"Selamat menikmati hidangan! Bagi yang tidak kebagian dagingnya, nikmatilah kuahnya,” ucap burung Hudhud kepada Nabi Sulaiman dan pasukannya.
Perkataan dan aksi burung Hudhud tersebut sontak membuat Nabi Sulaiman dan pasukannya tidak bisa menahan tawa. Pasalnya, daging yang diberikan burung Hudhud hanya sedikit namun kuahnya sangat luas, yaitu lautan.
Kisah burung Hudhud ini juga termuat dalam syair sebagaimana berikut:
جاءت سليمان يوم العرض هدهدة * أهدت إليه جرادا كان في فيها
وأنشدت - بلسان الحال - قائلة: * إن الهدايا على مقدار مهديها
لو كان يهدى إلى الإنسان قيمته: * لكان يهدى لك الدنيا بما فيها
Artinya: “Telah datang burung Hudhud kepada Nabi Sulaiman pada hari pertemuan *
Membawa hadiah belalang yang ada di dalam paruhnya.
Dan dia bersyair – dengan bahasa tubuh – seolah berkata: *
Sesungguhnya hadiah itu sesuai dengan kadar pemberinya.
Seandainya hadiah diberikan sesuai dengan nilai penerimanya, *
Niscaya dunia beserta isinya akan dihadiahkan kepadamu."
***
Kisah burung Hudhud ini mengingatkan kita tentang pentingnya berbagi dengan orang lain. Selanjutnya, dalam hal berbagi tidak diukur dengan besar atau kecilnya sebuah pemberian, melainkan dinilai dari ketulusan dan kemampuan pihak yang memberi. Pasalnya, setiap orang mempunyai standar ekonomi yang berbeda, sehingga nilai sebuah hadiah seharusnya tidak dinilai dari standar pihak yang menerimanya. Sebagaimana terlihat pada burung Hudhud yang hanya mampu memberikan seekor belalang, namun tetap berusaha berbagi dengan penuh keikhlasan.
Selain itu, kisah ini juga mengajarkan bahwa berbagi tidak harus menunggu sampai menjadi orang kaya terlebih dahulu. Jika seseorang berpikir demikian, belum tentu kesempatan untuk berbagi akan datang kembali, karena umur seseorang tidak ada yang tahu dan jika panjang umur pun belum tentu juga akan bernasib menjadi orang kaya yang memiliki banyak harta. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi


