Dark
Light
Dark
Light

5 Hikmah di Balik Musibah: Ujian Keimanan hingga Peringatan Tobat

5 Hikmah di Balik Musibah: Ujian Keimanan hingga Peringatan Tobat

Arina.id - Selalu ada dinamika yang mewarnai perjalanan hidup kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini . Di antara dinamika tersebut adalah terjadinya bencana atau musibah yang bisa mengundang air mata dan kesedihan. Dalam ajaran Islam, di balik musibah setidaknya ada 5 hikmah yang bisa dipetik pelajarannya sebagaimana berikut:

1. Ujian Keimanan

Datangnya bencana atau musibah yang menimpa umat Islam merupakan momentum untuk menguji keimanan. Dari ujian tersebut akan terlihat orang yang benar-benar beriman dan orang yang hanya mengaku beriman. Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 2:

 أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?”

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Al-Qurthubi menjelaskan, musibah merupakan bagian dari hukum alam yang telah ditetapkan oleh Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Adanya berbagai musibah seperti bencana alam, penindasan, tekanan hidup, penyakit, dan sebagainya, merupakan sarana untuk menyingkap isi hati manusia serta membersihkan jiwa mereka dari berbagai macam penyakit batin, seperti sombong, riya, dan sejenisnya. (Imam A-Qurthubi, Al-Jami'ul Ahkamil Qur'an [Beirut, Al-Muassasah Ar-Risalah: 2006], juz 16, h. 333-334)

2. Pembersih Dosa

Manusia adalah makhluk yang sering berbuat salah dan dosa. Adanya musibah berupa sakit, bencana, kehilangan, dan sebagainya, bisa menjadi sarana untuk membersihkan dosa-dosa tersebut. Dengan datangnya musibah bisa menjadi pertanda kasih sayang Allah agar hamba-Nya bisa bersih dari dosa yang telah dilakukan.

Rasulullah bersabda:

ما يُصيبُ المسلمَ مِن نَصَبٍ ولا وَصَبٍ، ولا هَمٍّ ولا حُزْنٍ، ولا أذًى ولا غَمٍّ، حتّى الشوكةِ يُشاكُها، إلّا كفّرَ اللهُ بها من خطاياه

Artinya: “Tidaklah seorang Muslim ditimpa oleh keletihan, sakit berkepanjangan, kegelisahan, kesedihan, penderitaan, ataupun kesempitan, bahkan sekadar duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dari dosa-dosanya dengan sebab itu." (HR. Bukhari Muslim)

Imam Ibnu HajarAl-Asqalani menjelaskan, musibah bisa dalam bentuk lahir, seperti sakit yang menahun, dan musibah dalam bentuk batin, seperti kegelisahan, kesedihan, dan sejenisnya.

Dalam konteks kehidupan modern, musibah juga bisa hadir dalam bentuk bencana alam, masalah kesehatan atau sosial, dan sebagainya. Semua musibah tersebut adalah penderitaan yang termasuk dalam cakupan hadits di atas.

Oleh sebab itu, di balik setiap kesulitan dan penderitaan terdapat secercah harapan untuk membersihkan diri dari gelimang dosa. (Imam Ibnu HajarAl-Asqalani, Fathul Bari [Beirut, Ar-Risalah Al-Alamiyah: 2013], juz 17, h. 359-360)

3. Mendapat Aneka Kemudahan

Ibarat dua sisi mata uang, kesulitan dan kemudahan merupakan dwi tunggal atau dua hal yang berada dalam satu rangkaian kehidupan manusia. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-Insyarah ayat 5-6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  ۝٦ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan [5]. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan[6]. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.: 5–6)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, lafaz al-ushr (kesulitan) adalah bentuk ma’rifat (khusus) dan lafaz yusr (kemudahan) adalah bentuk nakirah (umum). Dalam kebiasaan bahasa Arab, sesuatu yang disebut dalam bentuk ma‘rifat lalu diulang menunjuk pada satu hal yang sama. Sedangkan lafaz nakirah yang diulang menunjuk pada dua hal yang berbeda. Dengan demikian, di balik satu kesulitan Allah menjanjikan dua kali lipat kemudahan. Mengingat hal tersebut, orang yang beriman mestinya tidak berputus asa ketika mendapatkan musibah. (Imam A-Qurthubi, Al-Jami'ul Ahkamil Qur'an [Beirut, Al-Muassasah Ar-Risalah: 2006], juz 22, h. 358)

4. Mendapat Kebaikan

Musibah juga bisa menjadi “madrasah kehidupan” untuk mendapatkan kebaikan dari Allah sekaligus menaikkan derajat seorang muslim. Tidak sedikit dari hamba-hamba Allah yang naik derajatnya dan mendapatkan kedudukan mulia setelah diberi ujian dari-Nya.

Rasulullah bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللّٰهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki selain itu baginya, maka Allah menahan hukuman atas dosanya sampai ia menerimanya pada hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Al-Mubarakfuri menjelaskan, hadits ini menjelaskan bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, maka Allah akan menyegerakan musibah kepadanya di dunia untuk membersihkan dosanya sekaligus mengangkat derajatnya sehingga ketika kembali kepada Allah berada dalam keadaan bersih dari dosa. Hadits ini juga menegaskan bahwa besarnya balasan berbanding lurus dengan besarnya musibah yang diberikan. (Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi, [Beirut, Darul Fikr: t.t], juz 7, h. 77)

5. Peringatan Tobat

Datangnya musibah bisa menjadi “rambu lalu lintas kehidupan”yang mengingatkan seseorang untuk segera kembali kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Mungkin saja selama ini kita menjalani kehidupan dengan cara yang jauh dari aturan-Nya, sehingga musibah hadir sebagai pengingat agar kita kembali ke jalan yang benar.

Allah berfirman dalam surat As-Sajdah ayat 21: 

وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: “Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, di antara makna dalam ayat tersebut adalah bahwa Allah menurunkan berbagai musibah dan azab di dunia ini dengan tujuan agar manusia kembali kepada-Nya. Melalui musibah itu, Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dari kelalaian dan mendorong mereka untuk kembali ke jalan yang benar serta meninggalkan perbuatan dosa. (Imam A-Qurthubi, Al-Jami'ul Ahkamil Qur'an [Beirut, Al-Muassasah Ar-Risalah: 2006], juz 17, h. 39-40)

Pada akhirnya, meskipun musibah yang datang kepada umat Islam bisa membawa kesedihan, namun di balik itu semua terdapat sejumlah hikmah yang bisa dipetik pelajarannya, di antaranya adalah sebagai ujian keimanan, menjadi pembersih dosa, akan mendapat aneka kemudahan, akan mendapat kebaikan, dan peringatan untuk bertobat kepada Allah. Wallahu a’lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo