Dark
Light
Dark
Light

Kisah Air Laut Jadi Tawar di Malam Lailatul Qadar

Kisah Air Laut Jadi Tawar di Malam Lailatul Qadar

Arina.id - Terdapat sebuah kisah menarik tentang Allah Yarham Syaikhana Maimoen Zubair dengan salah satu santrinya di malam Lailatul Qadar. Kisah ini penulis dapatkan dari salah satu dewan pengajar LP. Muhadloroh Pesantren Al-Anwar Sarang sewaktu penulis menduduki marhalah tsalitsah di tahun 2012, tepatnya pada waktu pembelajaran Tafsir Jalalain oleh Ust. Huda yang berkediaman di Bulu Bancar Tuban.

Ust. Huda menceritakan kepada penulis dan teman-teman satu kelas bahwa salah satu tanda Lailatul Qadar yang efektif dan mudah diinvestigasi oleh santri Sarang adalah berubahnya rasa air laut yang mulanya asin menjadi tawar. Hal ini mudah dibuktikan oleh santri sebab lokasi pesantren Sarang berada dekat di pesisir pantai utara Jawa. 

Beliau menambahkan keterangan itu dengan kisah salah satu santri Pesantren Al-Anwar yang izin kepada Syaikhuna Maimoen akan pulang kampung dan bertepatan pada malam salah satu hari di sepuluh akhir bulan Ramadan.  

Saat itu, Mbah Moen tidak mengizinkannya untuk pulang di malam itu. Beliau mengizinkan si santri untuk pulang di pagi harinya. Bukan tanpa alasan, Mbah Moen membisiki santri itu bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadar. Sontak dia mengiyakan dawuh Mbah Moen untuk pulang di pagi harinya.

Santri itu sempat ragu akan dawuh Mbah Moen bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadar. Terbesit dalam hatinya ingin membuktikan dengan meminum air laut. Pasalnya, dia pernah mendengar keterangan bahwa salah satu tanda malam Lailatul Qadar adalah air laut menjadi tawar.

Dia bergegas menuju pesisir pantai dan meneguk air laut dengan kedua tangannya pada malam tersebut. Ia pun terheran sebab merasakan air laut menjadi tawar. Sontak dia beribadah sholat sunah dan berdikir hingga adzan subuh berkumandang. Di pagi harinya dia baru bergegas untuk pulang kampung.

Keterangan terkait tanda Lailatul Qadar berupa air laut menjadi tawar, penulis temukan di dalam catatan Imam Qurthubi mengutip Ubaid bin Umair al-Makki, seorang tabi’in dan perawi hadits sebagai berikut:

وَقَالَ عُبَيْدُ بْنُ عُمَيْرٍ: كُنْتُ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ فِي الْبَحْرِ، فَأَخَذْتُ مِنْ مَائِهِ، ‌فَوَجَدْتُهُ ‌عَذْبًا ‌سَلِسًا

Artinya: "Ubaid bin Umair berkata: aku berada di laut pada malam 27 Ramadan, aku meraup airnya dan aku rasakan airnya tawar dan enak diminum." (Tafsir al-Qurthubi Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Kairo: Darul Kutub al-Mishriyah, 1964], juz 20, hal. 137.).

Catatan lain terkait air laut berubah tawar ketika Lailatul Qadar adalah riwayat Imam Baihaqi dalam Syu’bul Iman no. 3690 dan dalam Fadha’ilul Auqat no. 106 mengutip perkataan Abdah bin Abi Lubabah, seorang tabi’in sebagai berikut:

 ‌عبدة ‌بن ‌أبي ‌لبابة قال: ذقت ماء البحر ليلة سبع وعشرين من شهر رمضان فإذا هو عذب

Artinya: "Abdah bin Abi Lubabah berkata:  aku mencicipi air laut di malam 27 Ramadan, aku tak menyangka rasanya tawar."

Ibnu Abdil Barr juga mencatat kisah air laut menjadi tawar ketika malam Lailatul Qadar dari Zuhrah bin Ma’bad, seorang tabi’in sebagai berikut:

 عن ‌زُهرةَ ‌بن ‌مَعبدٍ، ‌قال: أصابَني احتِلامٌ في أرضِ العدوِّ وأنا في البحرِ ليلةَ ثلاثٍ وعشرين في رمضان. قال: فذهَبتُ لأغتسِلَ. قال: فزلَقْتُ فسقطتُ في الماء، فإذا الماءُ عذبٌ، فآذنتُ أصحابي وأعلَمتُهم أني في ماءٍ عذب

Artinya: "Dari Zuhrah bin Ma’bad berkata: aku mengalami ihtilam (keluar mani saat tidur) di wilayah musuh, dan aku berada di laut pada malam 23 Ramadan, kemudian aku pergi mandi, tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke air, dan ternyata airnya tawar, kemudian aku memberi tahu teman-temanku bahwa airnya tawar." (Al-Tamhid, [London: Mu’assasah al-Furqan, 2018], juz 13, hal. 428.).

Ibnul Mulaqqin juga menceritakan kisah air laut menjadi tawar di malam Lailatul Qadar sebagai berikut:

وحكى أهل الزهد أيضاً أن جماعة منهم سافروا في البحر في رمضان فلما كانت ليلة ثلاث وعشرين سقط أحدهم من السفينة في البحر فجرجر الماء في حلقه. فإذا به حلو. وكأن ما ينزل من السماء في تلك الليلة من البركة والرحمة يقلب الإِجاج الملح عذباً، فما ظنك بها إذا وجدت ذنباً.

Artinya: "Orang-orang zuhud bercerita juga bahwa ada suatu kelompok yang bepergian di laut ketika bulan Ramadan. Pada waktu malam 23, salah satu dari mereka jatuh dari kapal dan tercebur ke laut, tenggorokannya berkumur air, dan ternyata airnya manis, seakan rahmat dan berkah turun dari langit di malam itu, merubah rasa asin air laut menjadi tawar, lantas apa yang kamu pikirkan tentang Lailatul Qadar jika kamu berdosa?." (Al-I’lam bi Fawa’idi Umdatil Ahkam, [Saudi Arabia: Darul Ashimah, 1997], juz 5, hal. 405.).

Perlu diketahui bahwa tawarnya air laut di malam Lailatul Qadar bukan merupakan sebuah kepastian. Kisah-kisah yang sudah disebutkan merupakan pengalaman spiritual pribadi dan tidak bisa disamakan dengan apa yang terjadi pada orang lain.

Kisah-kisah ini juga masih diragukan jika dikaji dari sisi kredibilitas sanadnya. Kisah ini juga bukan merupakan hadits sahih dari Rasulullah, melainkan pengalaman spiritual para tabi’in.  Hal yang paling bijak untuk dilakukan demi menggapa Lailatul Qadar adalah meningkatkan intensitas beribadah di bulan Ramadan sejak malam pertama hingga malam hari raya Idul Fitri. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo