Dark
Light
Dark
Light

Syair dan Peran Ganda Penyair

Syair dan Peran Ganda Penyair

Kemenangan pasukan Muslim di perang Badar membuat nyali sebagian orang Quraisy ciut. Abu ‘Azza, penyair sekaligus pembawa bendera perang ketika pertempuran Badar terjadi, mengundurkan diri dari pasukannya setelah mereka mengalami kekalahan dalam perang yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah itu.

Hidup miskin dan memiliki anak perempuan, Abu ‘Azza tidak sanggup menebus dirinya yang menjadi tawanan perang Badar. Nabi kemudian membebaskannya dengan syarat Abu ‘Azza tidak akan mengulurkan bantuan kepada siapa pun yang memusuhi Muhammad SAW.

Namun, di wilayah padang pasir yang masyarakatnya memiliki kecintaan begitu dalam terhadap ungkapan verbal, hampir tidak mungkin mengobarkan semangat perang tanpa bantuan para penyair.

Orang-orang Quraisy pun kembali mendatangi Abu ‘Azza dan mengajaknya pergi berperang. Di pertempuran Uhud, dia kembali menggunakan syair-syairnya untuk membakar amarah pasukan Quraisy agar mereka mengangkat senjata melawan pasukan Muslim. Di perang itu ia kembali tertangkap oleh pasukan Muslim dan dieksekusi mati.

“Abu ‘Azza tidak jauh beda bahayanya dengan Ka’b bin Asyraf, Yahudi yang mencoba mendalangi pembunuhan terhadap Nabi dan mengobarkan semangat pasukan Quraisy dengan syair-syairnya. Ketajaman kata-kata dua orang penyair ini sangat membahayakan keamanan kaum Muslimin, oleh karena itu mereka akhirnya dijatuhi hukuman mati,” tulis Tim FKI Sejarah Atsar dalam Lentera Kegelapan.

Selain untuk membangkitkan semangat para laskar di medan perang, bangsa Arab juga menggunakan syair untuk kepentingan-kepentingan yang lain. Beberapa di antaranya; melestarikan suatu budaya, mengungkapkan ekspresi estetis, sebagai sarana pengajaran moral, dan menunjukkan identitas kelompok.

Philip K. Hitti dalam History of The Arabs mengungkap bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang memiliki apresiasi begitu besar terhadap ungkapan bernuansa puitis. Mereka mudah tersentuh oleh keindahan kata-kata baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

“Ritme, bait, syair, dan irama bahasa itu memberikan dampak psikologis kepada mereka, layaknya hembusan sihir yang halal,” tutur Philip K. Hitti.

Saking kagumnya orang-orang Arab Badui terhadap keindahan bahasa lisan, mereka mengukur kecerdasan seseorang berdasarkan kemampuan verbalnya. Bagi mereka, kefasihan seseorang dalam mengungkapkan jati dirinya secara tegas dan elegan dalam bentuk prosa atau puisi sama pentingnya dengan keahlian memanah dan menunggang kuda. Ketiga hal ini menurut orang-orang Arab Badui adalah ciri-ciri utama "manusia sempurna".

Dalam kehidupan masyarakat Arab pra-Islam, penyair menduduki peranan penting di tengah-tengah komunitasnya. Mereka adalah sejarawan, dukun, sekaligus propagandis. Banyak kepentingan kelompok yang kemudian dibebankan pada pundak mereka.

Sebagai seorang sejarawan, penyair bertanggung jawab merawat informasi silsilah keluarga yang dimiliki oleh kelompoknya. Selain itu mereka juga punya kewajiban merekam keberhasilan apa saja yang pernah dicapai kelompoknya di masa lalu dan mengenali batas-batas geografis milik mereka.

Sebagai seorang dukun, penyair dianggap memiliki kemampuan untuk menyingkap informasi tersembunyi.  Mereka diyakini dapat berkomunikasi dengan hal-hal gaib sehingga menjadi rujukan anggota kelompok yang lain.

Sementara sebagai seorang propagandis, para penyair menjalankan tugasnya dengan cara mengamati kelemahan psikologis atau kegagalan historis suku-suku musuh. Mereka menyusun kelemahan-kelemahan itu dalam bentuk syair lantas melakukan serangan verbal terhadap suku-suku lawan.

“Seorang penyair dapat membuat sebuah suku mengambil tindakan tertentu, dipengaruhi oleh puisi-puisinya yang mirip dengan hasutan seorang demagog dalam sebuah kampanye politik modern. Sebagai agen pembuat berita atau jurnalis pada masanya, ia banyak mendapat hadiah untuk pemberitaannya, seperti yang terlihat dalam catatan-catatan istana Hirah dan Ghassan,” tulis Philip K. Hitti.

Di suatu pasar bernama ‘Ukaz, sebuah festival perlombaan syair digelar setiap tahunnya. Festival tersebut berlangsung pada bulan-bulan suci di mana orang-orang Arab dilarang untuk berperang yaitu: Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharram.

Di tempat itu para penyair berdatangan dari berbagai penjuru. Mereka bersilat lidah dan menunjukkan “olah kata” terbaiknya. Syair terbaik memperoleh penghargaan dengan wujud ditulis menggunakan tinta emas lalu digantung pada dinding-dinding Ka’bah.

Meskipun demikian, tak banyak syair Arab pra-Islam yang terdokumentasikan karena saat itu sistem penulisan belum berkembang secara utuh. Philip K. Hitti mengatakan hanya ada beberapa catatan saja yang ditemukan yakni: catatan Imru’ al-Qais di Namarah, Zabad di sebelah tenggara Aleppo, dan Harran di al-Laja.

“Untaian kata yang digunakan untuk memuji seseorang” dan “sindiran yang dipakai untuk merendahkan pihak lain” diyakini sebagai bentuk awal dari syair yang populer digunakan. Istri Nabi, Sayyidah ‘Aisyah RA, pernah mendapatkan serangan semacam ini dari orang-orang munafik.

Hal itu bermula ketika ‘Aisyah kehilangan kalungnya dalam sebuah ekspedisi militer bersama Nabi. Dikisahkan bahwa seusai perang al-Muraisi, rombongan pasukan Muslim melakukan perjalanan kembali menuju Madinah. Sehari sebelum memasuki kota Madinah, rombongan tersebut beristirahat di suatu tempat dan mendirikan tenda.

Di tempat itulah ‘Aisyah menyadari bahwa kalungnya telah hilang. Karena kalung tersebut merupakan hadiah pernikahan dari Nabi, ia pun segera mencarinya. ‘Aisyah pergi menelusuri tempat-tempat yang pernah dia datangi tapi tak kunjung menemukan apa yang dia cari. Menyerah karena tidak menemukan kalungnya, akhirnya ‘Aisyah kembali menuju rombongannya. Namun, rombongan pasukan Muslim telah pergi ketika ‘Aisyah datang.

Beruntung seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu’athal menemukan ‘Aisyah. Shafwan adalah salah satu anggota pasukan Muslim yang diperintahkan menempati garis belakang. Tugasnya memastikan bahwa tidak ada anggota rombongan yang tertinggal.

‘Aisyah sedang berteduh di bawah naungan pohon ketika Shafwan melihatnya. Dia pun segera mendatangi ‘Aisyah dan memberikan tunggangan untuknya. Shafwan kemudian berjalan kaki dan menuntun unta yang ditunggangi oleh ‘Aisyah sejauh 32 kilometer.

Sesampainya di Madinah, orang-orang munafik menggunjing kedatangan mereka berdua. Mereka menuduh bahwa ‘Aisyah dan Shafwan telah berbuat selingkuh. Dengan cepat tuduhan tersebut menyebar sehingga menimbulkan kegaduhan di seantero kota.

“Malam itu juga, para penyair sibuk mengolah kata-kata. Mereka kolumnis gosip, penyunting opini, blogger, singkatnya berita hiburan pada masa itu, dan syair yang mereka tulis bukan lagi ode liris, melainkan bentuk puisi tradisional Arab yang sudah dikenal luas: satir. Dengan permainan kata nan bermakna ganda, syair-syair ini sangat gampang dihafal dan menyebar dengan cepat. Kuplet dengan rima penuh sindiran tajam ini seperti ujung tombak, sebagai bentuk serangan verbal paling efektif dalam suatu masyarakat di mana persekutuan antara suku bergantung pada janji dan jabat tangan, dan orang dilihat secara harfiah dari kata-kata mereka,” tulis Lesley Hazleton dalam After The Prophet.

Kabar bohong itu reda beberapa bulan kemudian ketika Nabi memperoleh wahyu yang menyatakan bahwa ‘Aisyah terbebas dari tuduhan-tuduhan orang munafik. Para penuduhnya pun memperoleh hukuman cambuk di depan umum.

Dilestarikan dalam ingatan dan ditransmisikan melalui tradisi lisan, bahasa yang menggugah itu bernama syair. Ia bisa menggerakkan hati manusia untuk melakukan kebaikan atau mendorong mereka menuju kepunahan dalam bentuk propaganda perang.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Minanullah
Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Guru di SMP Darussalam, Jogjakarta.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo