Dark
Light
Dark
Light

Kisah Layla Majnun (4-Habis): Saat Haji dan Ziarah Tak Sirnakan Cintaku Padanya

Kisah Layla Majnun (4-Habis): Saat Haji dan Ziarah Tak Sirnakan Cintaku Padanya

Dikisahkan bahwa ayah Layla, Mahdi bin Sa’ad al-Amiri mengajak Layla pergi berhaji bersamanya ketika mengetahui banyak orang ingin melamar Layla setelah kisah cintanya bersama Qays viral menjadi perbincangan masyarakat.

Abu Bakar al-Wabili meriwayatkan dalam Diwanu Qays bin al-Mulawwah Majnuni Layla, dalam analisis Yusri Abdul Ghani [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1999, hal. 105] Mahdi dan Layla bertemu dengan seorang pria dari Bani Tsaqif, dia melamar Layla dan menikahinya. Informasi itu sampai kepada Qays dan dia melantunkan syair berikut:

أَيا بائِعَي لَيلى بِمَكَّةَ ضَلَّةً ... تَبايَعتُما هَل يَستَوي الثَمَنانِ

Wahai dua orang yang menjual Layla di kota Makkah dengan tanpa keadilan, apakah kalian berdua menjualnya dengan harga yang sepadan ?

فَما غُبِنَ المُبتاعُ لَيلى بِمالِهِ ... بَلِ البائِعا لَيلى هُما غَبِنانِ

Orang yang membeli Layla tidaklah rugi atas uang yang dia keluarkan, akan tetapi kedua penjual Layla mereka adalah orang yang rugi.

Abdus Sattar Faraj dalam dalam Diwanu Majnuni Layla [Mesir: Maktabah Mishr, hal. 177] mencatat syair tentang “Fatwa Cinta”, yakni Qays yang meminta fatwa kepada mufti Makkah terkait cintanya kepada Layla. Berikut syairnya:

أَقولُ لِمُفتٍ ذاتَ يَومٍ لَقيتُهُ ... بِمَكَّةَ وَالأَنضاءُ مُلقىً رِحالُها

Aku berkata kepada seorang mufti yang kutemui suatu hari di kota Makkah, sedangkan unta-unta kurus telah diletakkan pelananya.

بِرَبِّكَ أَخبِرني أَلَم تَأثَمِ الَّتي ... أَضَرَّ بِجِسمي مِن زَمانٍ خَيالُها

Demi Tuhanmu, katakanlah kepadaku, apakah tidak berdosa seorang wanita yang telah melukai tubuhku dengan imajinasinya sejak waktu yang lama.

فَقالَ بَلى وَاللَهِ سَوفَ يَمَسُّها ... عَذابٌ وَبَلوى في الحَياةِ تَنالُها

Dia menjawab “memang. Demi Allah dia akan mendapatkan siksa dan bencana”.

فَقُلتُ وَلَم أَملِك سَوابِقَ عَبرَةٍ ... سَريعٍ إِلى جَيبِ القَميصِ اِنهِمالُها

Aku berkata “aku tidak bisa mengendalikan derasnya air mata yang membasahi saku gamisku.

عَفا اللَهُ عَنها ذَنبَها وَأَقالَها ... وَإِن كانَ في الدُنيا قَليلاً نَوالُها

Semoga Allah mengampuni segala dosanya dan menjaganya, meskpun dia di dunia tidak banyak memberi.

Abu Bakar al-Wabili [hal. 118] mencatat syair yang menunjukkan Qays sangat ingin berhaji bersama Layla, dia mendambakan akan bertemu dengannya di Baitullah, meskipun hal itu bagi Qays hanya sebatas harapan semu. Berikut syairnya:

فَيا لَيتَ لَيلى وَافَقَت كُلَّ حَجَّةٍ ... قَضاءً عَلى لَيلى وَأَنّي رَفيقُها

Andai saja Layla setiap berhaji harus menyelesaikan sesuatu yang harus dia selesaikan, maka aku akan menemaninya.

فَتَجمَعَنا مِن نَخلَتَينِ ثَنِيَّةٌ ... يَغَصُّ بِأَعضادِ المَطِيِّ طَريقُها

Kami dikumpulkan di jalan yang berliku-liku di dekat dua pohon kurma, lintasan yang berbelok menyempitkan langkah hewan tunggangan untk melewatinya.

فَأَلقاكِ عِندَ الرُكنِ أَو جانِبَ الصَفا ... وَيَشغَلَ عَنّا أَهلَ مَكَّةَ سوقُها

Aku menemuinya di rukun Ka’ban atau di samping bukit Shafa ketika keramaian pasar kota Makkah mengalihkan perhatian para manusia disekitarnya.

فَأُنشِدُها أَن تَجزِيَ الهَونَ وَالهَوى ... وَتَمنَحَ نَفساً طالَ مَطلاً حُقوقُها

Aku memintanya untuk mengganti rugi kehinaan, dan membalas rasa cinta, dan memberikan kepada diriku hak-hak yang telah lama aku nantikan.

Setelah berhaji tidak bisa menyembuhkan Qays dari cintanya kepada Layla, justru semakin membuatnya tenggelam dalam lautan cinta Layla, dan menjadikannya tidak sadarkan diri hingga menjadi gila cinta akan Layla. Ziarah ke makam Rasulullah pun tidak bisa membuatnya sembuh dari penderitaan cintanya kepada Layla.

Abu al-Farj Ali bin Husain al-Isfahani (w. 356 H) dalam Kitabu Al-Aghani [Beirut: Dar Shadir, 2008, vol. 2, hal. 17.] meriwayatkan suatu kisah dari Haitsam bin Ady dari Abu Miskin. Dia berkata bahwa terdapat seorang pemuda keluar berjalan hingga sampai di Bi’r Maimun (sumur di daerah kota Makkah). Dia bertemu dengan kelompok orang yang berada di atas gunung-gunung sekitar tempat itu.

Mereka bersama seorang pria berkulit putih, bertubuh tinggi, berambut ikal, seperti bentuk fisik pria yang ideal, dengan kondisi kurus dan pucat, mereka terhubung dengannya. Aku bertanya tentangnya, mereka mengatakan: "Ini adalah Qays al-Majnun, dia berpergian bersama ayahnya melindunginya untuk menuju Baitullah, dia akan berziarah ke makam Rasulullah, agar ayahnya mendoakannya di sana atas kesembuhannya. Dia berbuat hal yang sangat disukai oleh musuhnya."

Qays berkata kepada mereka: “Keluarkan aku dari tempat ini, mudah-mudahan aku bisa mencium bau harum angin Najd." Mereka mengeluarkannya dan mengarahkannya untuk pergi ke Najd. Mereka khawatir Qays akan jatuh dari gunung. Mereka mengatakan kepadaku jika kamu ingin imbalan, maka mendekatlah kepadanya, dan katakan bahwa engkau datang dari Najd.

Maka aku mendekat kepada Qays dan mereka menghadap kepadanya dan berkata: "Hai Qays !, anak muda ini datang dari Najd." Maka dia bernafas dengan nafas panjang seperti livernya telah terluka. Kemudian dia bertanya kepadaku tentang lembah demi lembah, tempat demi tempat, dan aku memberi tahunya, sontak dia menangis dengan tangisan yang membara, dan sangat menyentuh hati.

Kemudian dia melantunkan syair berikut:

أَلا حَبَّذا نَجدٌ وَطيبُ تُرابِها ... وَأَرواحُها إِن كانَ نَجدٌ عَلى العَهدِ

Sungguh sangat ku cintai debu-debu tanah Najd yang wangi, sungguh sangat ku cintai udaranya, jika Najd masih tetap menjaga janjinya.

أَلا لَيتَ شِعري عَن عُوارِضَتَي قَنا ... لِطولِ التَنائي هَل تَغَيَّرَتا بَعدي

Andai saja syairku terlihat, apakah gunung Awaridh dan gunung Qin akan berubah setelah kepergianku yang sangat lama dari keduanya.

وَعَن أُقحُوانِ الرَملِ ما هُوَ فاعِلٌ ... إِذا هُوَ أَمسى لَيلَةٌ بِثَرىً جَعدِ

Apakah bunga Aster masih tetap tumbuh dan terlihat di atas pasir sebagaimana ketika dihinggapi embun.

وَعَن جارَتَينا بِالبَتيلِ إِلى الحِمى ... عَلى عَهدِنا أَم لَم تَدوما عَلى عَهدِ

Dan tetang kedua tetangga kita di dalam lindungan gunung Batil, apakah mereka berdua masih tetap dalam janji, atau keduanya sudah berubah.

وَعَن عُلُوِيّاتِ الرِياحِ إِذا جَرَت ... بِريحِ الخُزامى هَل تَهُبُّ إِلى نَجدِ

Dan tentang angin tinggi yang membawa aroma bunga Khizami yang sangat wangi, apakah masih tetap terhembus di Najd.

وَهَل أَنفُضَنَّ الدَهرَ أَفنانَ لِمَّتي ... عَلى لاحِقِ المَتنَينِ مُندَلِقِ الوَخدِ

Dan apakah debu-debu bercucuran di rambut cambangku setelah bercerai-berai di atas dua pangkal punggung yang murah hati, yang kurus, yang cepat, dan yang luas langkah kakinya.

وَهَل أُسمِعَنَّ الدَهرَ أَصواتَ هَجمَةٍ ... تَطالَعُ مِن وَهدٍ خَصيبٍ إِلى وَهدِ

Dan apakah mungkin suatu hari bagiku untuk mendengarkan suara yang baru dari langkah unta gemuk yang bergerak antara jurang-jurang tanah yang subur.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo