Dark
Light
Dark
Light

Masjid Bir Ali: Tempat Miqat Jemaah Haji Indonesia Gelombang Pertama

Masjid Bir Ali: Tempat Miqat Jemaah Haji Indonesia Gelombang Pertama

Arina.id - Setiap musim haji, jutaan umat Islam dari seluruh dunia memulai perjalanan spiritual mereka ke Tanah Suci. Bagi jemaah haji Indonesia Gelombang Pertama yang melakukan perjalanan haji dari Tanah Air menuju Madinah terlebih dahulu baru kemudian ke Makkah, salah satu tempat penting yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji mereka adalah Masjid Bir Ali. Masjid ini merupakan lokasi miqat, atau titik batas niat ihram sebelum memasuki Makkah untuk menunaikan ibadah haji atau umrah.

Nama asli dari Masjid Bir Ali ialah Masjid Dzul Hulaifah, karena memang terletak di daerah yang bernama Dzul Hulaifah. Lokasinya terletak sekitar 11 kilometer dari pusat kota Madinah dan sekitar 450 kilometer dari Makkah. Masjid ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena di sinilah Rasulullah SAW dan para sahabatnya berniat ihram ketika melakukan ibadah haji Wada' (haji perpisahan).

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah menentukan Dzul Hulaifah sebagai tempat miqat bagi jemaah haji asal Madinah. Di tempat tersebut jemaah akan mulai mengenakan kain ihram dan niat melaksanakan nusuk (haji atau umrah):

عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; { أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( وَقَّتَ لِأَهْلِ اَلْمَدِينَةِ: ذَا الْحُلَيْفَةِ, وَلِأَهْلِ اَلشَّامِ: اَلْجُحْفَةَ, وَلِأَهْلِ نَجْدٍ: قَرْنَ اَلْمَنَازِلِ, وَلِأَهْلِ اَلْيَمَنِ: يَلَمْلَمَ, هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ اَلْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ, وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ, حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas RA, Nabi SAW telah menetapkan miqat untuk penduduk Madinah yaitu Dzul Hulaifah, penduduk Syam yaitu Al-Juhfah, penduduk Najd yaitu Qarnul Manazil, penduduk Yaman yaitu Yalamlam. Miqat-miqat itu untuk mereka dari negeri-negeri tersebut dan untuk mereka yang melewatinya dari negeri-negeri lain yang ingin menunaikan haji dan umrah. Adapun bagi orang-orang di dalam miqat, maka miqatnya dari tempat yang ia kehendaki, sehingga penduduk Makkah, miqatnya adalah dari Makkah”. (HR. Bukhari, no. 1524 dan Muslim, no. 1181)

Masjid Bir Ali disebut juga dengan nama Masjid Muhrim (Masjidnya orang yang ihram) karena saat melaksanakan ibadah haji wada’, Nabi melakukan ihram di masjid ini, tepatnya di sebelah masjid. Sebuah riwayat hadis menyebutkan:

عَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: مَا أَهَلَّ رَسُولُ اَللَّهِ ( إِلَّا مِنْ عِنْدِ اَلْمَسْجِدِ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: “Dari Ibnu ‘Umar RA, Rasulullah SAW berniat ihram dan bertalbiyah dimulai dari sisi masjid Dzulhulaifah”. (HR. Bukhari, no. 1541 dan Muslim, no. 1186).

Belakangan ini, nama “Bir Ali” lebih akrab di telinga jemaah haji khususnya yang berasal dari Indonesia. Secara pelafalan lidah Nusantara, mengucapkan Bir Ali memang lebih mudah ketimbang Dzul Hulaifah. Asal mula penamaan Bir Ali sendiri ialah karena di lokasi tersebut terdapat banyak sekali birr (sumur) terutama di lembah Aqiq. Sementara penisbatan Ali mengarah kepada Ali bin Abi Thalib menurut sebagian keterangan yang dianggap lemah.

Keterangan yang lebih valid mengarahkan kepada Sultan Ali bin Dinar, seorang raja dari Darfur (wilayah barat Sudan) yang menunaikan ibadah haji pada tahun 1898/1315 H dan merasa prihatin dengan kondisi wilayah Dzul Hulaifah. Beliau lantas berinisitaif untuk merevitalisasi sumur-sumur yang ada di daerah tersebut demi kenyamanan jemaah haji. Kedua keterangan ini pada prinsipnya sama-sama masih bisa diperdebatkan. Satu hal yang pasti bahwa Bir Ali kemudian menjadi nama yang melekat pada kawasan ini, khususnya pada bangunan Masjidnya.

Masjid Bir Ali dibangun di atas lokasi asli miqat Dzul Hulaifah dan kini menjadi salah satu masjid terbesar dan paling lengkap fasilitasnya di sekitar Madinah. Pemerintah Arab Saudi telah memperluas dan merenovasi masjid ini untuk menampung ribuan jemaah yang setiap harinya mampir untuk memulai ihram mereka.

Masjid Bir Ali tidak hanya berfungsi sebagai tempat miqat, tetapi juga menyediakan berbagai fasilitas bagi jemaah haji dan umrah, seperti: tempat wudhu dan mandi, loker penitipan barang, area parkir luas untuk bus-bus jemaah, dan toko perlengkapan ihram serta oleh-oleh.

Masjid ini juga memiliki arsitektur yang indah dan suasana yang tenang, sangat mendukung bagi jemaah untuk mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki Tanah Haram.

Masjid Bir Ali bukan sekadar tempat singgah, tetapi merupakan saksi bisu dari perjalanan spiritual jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Bagi jemaah haji Indonesia, masjid ini menjadi gerbang awal menuju tanah haram, tempat dimulainya ibadah haji dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada Allah SWT. Sejarah dan keberadaannya akan terus menjadi bagian penting dari perjalanan haji setiap muslim.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo