Dark
Light
Dark
Light

Setan: dari Bangsa Jin dan Manusia, Lebih Membahayakan Mana?

Setan: dari Bangsa Jin dan Manusia, Lebih Membahayakan Mana?

Sekali waktu Abdu Dzar hendak menunaikan shalat. Lantas Rasulullah berseru padanya, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan bangsa jin dan setan bangsa manusia!” Dengan heran Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasul, apakah ada setan dari bangsa manusia?” Rasul menjawab, “Ya, ada.”

Setan merupakan satu konsep spiritual penting dalam kehidupan umat beragama, terutama dalam agama-agama yang memiliki konsep tentang roh jahat atau kuasa jahat yang berlawanan dengan kehendak Ilahi. Peran setan dalam kehidupan umat beragama dapat mencakup beberapa aspek.

  • Pertama, sebagai penggoda dan penyesat. Dalam banyak agama, setan dianggap sebagai penggoda dan penyesat yang mencoba menghalangi manusia dari mengikuti jalan yang benar dan taat kepada kehendak Ilahi. Setan diyakini berusaha menggoda manusia agar melakukan tindakan dosa atau melanggar perintah agama.
  • Kedua, ujian dan cobaan. Dalam beberapa keyakinan, setan dianggap berperan sebagai pengujian bagi manusia. Kehadiran setan dan godaan yang ditawarkannya dipandang sebagai ujian untuk menguji kesetiaan, keimanan, dan ketekunan umat beragama dalam menghadapi cobaan dan mengatasi godaan.
  • Ketiga, pengaruh negatif. Setan juga dipercayai memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia dengan cara yang merugikan. Mereka dapat merangsang nafsu buruk, kebencian, iri hati, dan tindakan-tindakan negatif lainnya.'
  • Keempat, perlindungan dari setan. Banyak agama juga menekankan pentingnya berusaha melindungi diri dari pengaruh setan. Ini dapat dilakukan melalui doa, amalan spiritual, dan mengikuti perintah agama guna menjaga diri dari godaan dan pengaruh setan.
  • Kelima, pertempuran spiritual. Konsep pertempuran antara kebaikan dan kejahatan sering kali melibatkan peran setan. Umat beragama diyakini terlibat dalam pertempuran spiritual melawan pengaruh setan dan kekuatan jahat.
  • Keenam, upaya pembalasan. Dalam beberapa tradisi, setan diyakini memiliki misi untuk membalas dendam kepada manusia atas pengusiran mereka dari surga atau atas kegagalan mereka untuk tunduk kepada Allah. Oleh karena itu, setan akan mencoba membujuk manusia agar ikut jalan mereka menuju kebinasaan.

Setan menurut Islam
Pandangan tentang setan dan peran mereka bervariasi antara agama-agama dan aliran-aliran dalam sejumlah agama. Dalam pandangan Islam sendiri, secara bahasa setan berasal dari serapan Arab syaithān (شيطان), yang memiliki akar kata syathana (شطن), memiliki arti jauh dari kebenaran. Pendapat lain mengatakan memiliki akar kata syātha (شاط), berarti terbakar karena amarah. Menurut Dr. ‘Audah Khalil, pendapat pertama lebih kuat (‘Audah Khalil, t.t.: 478).

Sedangkan menurut istilah, setan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang membangkang, baik dari kalangan jin, manusia, maupun hewan (al-Ashfahani, t.t.: 60). Dari definisi ini dapat dipahami bahwa setan menurut Islam diartikan sebagai sifat buruk yang mendorong pelakunya untuk berbuat hal-hal negatif. Jadi setan bukan makhluk halus atau roh jahat sebagaimana dikenal publik selama ini. Definisi ini didukung oleh para mufassir dengan mengutip firman Allah ta’ala berikut,


وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ

Artinya, “Demikianlah (sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh) Kami telah menjadikan (pula) bagi setiap nabi musuh yang terdiri atas setan-setan (berupa) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka, tinggalkan mereka bersama apa yang mereka ada-adakan (kebohongan).” (QS Al-An’am [6]: 112).

Sejumlah mufassir sepakat bahwa ayat ini diturunkan sebagai peneguh bagi Rasulullah saw. Pedihnya jalan dakwah yang ditempuh Rasul kadang membuatnya lelah dan membutuhkan penyemangat. Betapa tidak, upaya kafir Quraisy dalam menggagalkan misi risalah nabi terakhir ini luar biasa; mulai serangan secara mental, fisik, hingga ancaman pembunuhan. Untuk menyemangati Nabi Muhamad, Allah ta’ala menyampaikan kepada nabi-Nya bahwa dari dulu setiap utusan pasti mengalami cobaan yang sama.

Pendek kata Allah ingin menyampaikan bahwa Nabi Muhammad tidak sendirian, melainkan berada dalam barisan jalan dakwah para nabi-nabi terdahulu.

Arti kalimat syayāthīnil jinni wal insi menunjukkan bahwa cobaan yang dihadapi Nabi Muhammad ada pada dua pihak, yaitu dari setan bangsa jin dan setan bangsa manusia. Maksud setan di sini adalah sifat buruk. Mereka yang disebut setan adalah jin atau manusia yang berupaya menghalangi dakwah Rasulullah. Jadi jelas setan dalam ayat ini bukan diartikan sebagai roh jahat. (Ibnu Katsir, 2011: vol, 4, h. 229).

Dari penafsiran ini dapat dipahami bahwa ada setan dari kalangan manusia yang selain melakukan pengingkaran terhadap ajaran Islam juga mengajak sesama manusia untuk melakukan keburukan. Demikian setan dari bangsa jin, selain sebagai pribadi melanggar perintah agama juga menjerumuskan sesama jin untuk berbuat hal-hal negatif. Penjelasan ini didukung oleh sejumlah hadits Nabi, salah satunya adalah riwayat berikut,


:قَالَ قَتَادَةُ

وَبَلَغَنِي أَنَّ أَبَا ذَرٍّ كَانَ يَوْمًا يُصَلِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ:

"تَعَوَّذ يَا أَبَا ذَرٍّ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ". فَقَالَ: أَوَ إِنَّ مِنَ الْإِنْسِ شَيَاطِينَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِﷺ: "نَعَمْ"

Artinya, “Qatadah berkata, telah sampai kepadaku bahwa sekali waktu Abu Dzar menunaikan shalat. Kemudian Nabi Muhammad berseru padanya, ‘Wahai Abu Dzar, berlindunglah dari godaan setan-setan dari bangsa manusia dan jin.’ Abu Dzar lantas bertanya, ‘Apakah ada setan dari bangsa manusia? Rasul menjawab, ‘Ya, ada.’"

Dalam penafsiran lain, al-Baghawi menyampaikan bahwa maksud setan dalam ayat ini bukan perangai buruk yang ada pada diri jin dan manusia, melainkan sosok iblis yang bertugas untuk memperdaya jin dan manusia agar dijauhkan dari nilai-nilai agama. Jika mengacu pada penafsiran ini setan diartikan sebagai ‘roh jahat’ atau dalam Islam disebut dengan istilah ‘iblis’ (al-Baghawi, 1988: 124).

Penulis lebih setuju dengan penafsiran pertama yang menyebutkan setan sebagai perangai, bukan sosok roh jahat atau iblis. Sebab, definisi ini didukung banyak ulama, termasuk para mufasir dengan mengutip sejumlah hadist Nabi sebagai landasan argumentasinya.

Lebih bahaya mana?
Mengacu penafsiran di atas, dapat dipahami bahwa setan dari bangsa jin akan menyesatkan sesama jin, demikian juga setan manusia memperdaya sesama manusia. Tapi nyatanya setan dari bangsa jin juga bisa menggoda manusia, tidak sebaliknya manusia mengganggu jin karena manusia sendiri tidak bisa melihat sosok gaib ini.

Konsep ini sudah ditegaskan dalam surat al-Jinn ayat 6 yang menjelaskan bahwa dulu pada zaman jahiliyah manusia terbiasa meminta perlindungan kepada jin kafir, terutama ketika berada di tempat-tempat yang dinilai angker agar tidak diganggu. Islam kemudian melarang karena dengan meminta jin tersebut, manusia justru akan berada di bawah pengaruh makhluk tak kasat mata itu, termasuk jika harus melakukan perbuatan musyrik.

Jika ada setan dari kalangan jin dan manusia, yang kedua-duanya bisa menggoda manusia, lantas mana yang lebih bahaya? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis ingin mengutip hadis berikut,


روي عن أبي ذر قال قال رسول الله عليه وسلم هل تعوذت بالله من شر شياطين الجن والإنس فقلت يا رسول الله وهل للإنس من شياطين قال نعم هم شر من شياطين الجن.

Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, ‘Rasulullah saw pernah bertanya padanya, ‘Apakah engkau sudah meminta perlindungan kepada Allah agar terhindar dari gangguan setan-setan dari bangsa jin dan manusia?’ Lantas saya menajawab, ‘Wahai Rasulullah, memang ada setan dari bangsa manusia?’ Rasul menjawab, ‘Ya, ada. Bahkan mereka lebih berbahaya dari setan bangsa jin.”

Redaksi hadist ini jelas menyebutkan bahwa setan dari bangsa manusia lebih berbahaya dibanding dari bangsa jin. Meski belum menemukan penjelasan lebih detail (syarah) dari hadist ini, tapi penulis memiliki asumsi. Boleh jadi setan bangsa manusia lebih berbahaya karena kita lebih banyak berinteraksi dengan sesama manusia dibanding dengan makhluk gaib (jin). Dalam waktu 24 jam kita sangat mungkin dipengaruhi oleh godaan dari orang-orang berperangai buruk yang kita temui baik secara langsung atau tidak.

Meski begitu, dalam perspektif yang berbeda sejumlah mufassir (seperti dikemukakan ar-Razi dan Ibnu Katsir) menilai setan dari bangsa jin lebih berbahaya dibanding setan bangsa manusia. Dalam konteks perang pada masa Rasulullah misalnya, jika seorang Muslim kalah berperang melawan orang kafir (setan dari bangsa manusia) maka muslim tadi tetap memperoleh pahala. Berbeda jika kalah dengan bisikan jahat dari setan bangsa jin (setan tak kasat mata), akidah Muslim tadi bisa terancam.

Begitupun ketika seorang Muslim meninggal melawan orang kafir, dia terhitung mati syahid. Berbeda jika kalah dengan perdaya setan bangsa jin hingga ia terpengaruh dan sampai akhir hayatnya masih dalam kesesatan, ia akan meninggal dalam keadaan kufur. Na’ūdzubillāh (ar-Razi, 1981: vol. 1, h. 99).

Terlepas dari perbedaan pandangan ini, yang jelas setan pada dasarnya merupakan sifat buruk yang bisa mempengaruhi siapa saja, tanpa pandang bulu. Sebagai entitas yang tidak berwujud, sangat sulit bagi manusia untuk terhindar dari sifat-sifat syathāniyyah (sifat-sifat buruk). Oleh karena itu, Islam selalu mengajarkan pemeluknya untuk selalu meminta berlindung kepada Allah yang Maha Mampu dan Menguasai Segalanya. Semoga kita semua dijauhkan dari perangai buruk dan pengaruh setan bangsa jin dan manusia.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo