Arina.id - Para pelajar pesantren lebih mengenal sosok Syekh Abdul Hamid Kudus sebagai penulis kitab Kanzun Najah was Surur yang sering kali menjadi rujukan peribadatan masyarakat Islam. Kitab ini sering digunakan pada momentum bulan-bulan tertentu seperti bacaan doa awal dan akhir tahun, ritual sholat hajat Rabo Wekasan dan sejenisnya.
Namun sebenarnya, karya beliau yang dipelajari di pesantren Jawa tidaklah hanya itu saja. Syekh Abdul Hamid juga mempunyai kitab dalam kajian serupa yakni berjudul Latha’iful Isyarat ala Tashilit Thuruqat li Nadzmil Waraqat. Kitab ini juga merupakan karya beliau tentang kajian ushul fiqih seperti kitab-kitab lainnya yang ditulis oleh ulama berdarah Nusantara seperti karya Syekh Ahmad bin Abdul Lathif al-Minangkabawi al-Jawi yakni kitab Hasyiyah An-Nafahat ala Syarhil Waraqat.
Keduanya merupakan ulama berdarah Indonesia yakni Syekh Ahmad Khathib dilahirkan dari tanah Minangkabau sedangkan Syekh Abdul Hamid dilahirkan dari seorang ayah yang berasal dari Hadramaut ke kota Kudus Jawa Tengah. Keduanya juga menulis syarah (penjelasan) terhadap keilmuan yang sama dan objek kitab yang sama yakni kitab al-Waraqat tentang ilmu ushul fiqih.
Jika Syekh Ahmad Khathib mengomentari syarah Imam Mahalli terhadap kitab al-Waraqat milik Imam Haramain al-Juwaini, maka Syekh Abdul Hamid juga mengomentari kitab yang ditulis oleh Syekh Syarafuddin al-Amrithi dari kitab al-Waraqat karya Imam Haramain menjadi bentuk nadzam (prosa bersajak).
Keduanya juga merupakan termasuk ulama yang mempunyai legalitas untuk mengajar di Masjidil Haram dan juga termasuk dalam komunitas Jawiyun yang menghuni kota Makkah. Beliau turut serta mewarnai perkembangan khazanah keilmuan ulama Nusantara di kancah internasional.
Kitab ini ditulis dengan susunan bahasa Arab yang tinggi, dengan analisis yang mendalam, dan kritik teks yang kuat. Kitab ini tidak cocok jika dibaca oleh santri yang baru belajar ushul fiqih, bahkan santri menengahdalam kajian ushul fiqih. Kitab ini lebih cocok untuk dipelajari oleh santri yang sudah mencapai level tinggi dalam kajian ushul fiqih.
Tidak jarang Syekh Abdul Hamid Kudus menguraikan komentarnya dengan menggunakan kata-kata bahasa Arab yang sangat tidak familiar bagi santri tingkat menengah dan juga menggunakan model susunan kalimat yang sangat personifikatif sehingga butuh kedalaman pemahaman untuk memahami bahasa Arab agar bisa memahami setiap redaksinya.
Syekh Abdul Hamid menulis kitab ini karena permintaan beberapa orang. Beliau sendiri menyatakan bahwa masih belum ada orang yang mensyarah Nadzm Tashilut Thuruqat sebelum beliau. Oleh karena itu beliau menyanggupi permintaan mereka untuk menulis kitab ini (hal. 2).
Syekh Abdul Hamid mencatat dalam penutupnya bahwa kitab ini selesai ditulis pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1326 Hijriyah (hal. 64). Beliau juga memberikan uraian panjang bagi para pembaca untuk mengkritisi kitabnya dan juga memberikan komentar ilmiah sesuai dengan kapasitasnya (hal. 63).
Syekh Abdul Hamid mengatakan bahwa hal yang tertulis sekarang pasti suatu saat akan dikomentari oleh generasi selanjutnya, baik dengan menambah, mengurangi atau bahkan merubah redaksi dengan signifikan. Hal ini menurut beliau merupakan salah satu tanda kemanusiaan dalam diri beliau khususnya, dan para penulis lain pada umumnya, yang tidak bisa terbebas dari kesalahan sekecil apapun.
Terdapat beberapa pernyataan di akhir kitab ini dari beberapa ulama terpandang di eranya (hal. 65). Seperti Ahmad bi Ahmad al-Husaini al-Syafi’i mengatakan bahwa kitab ini mengandung analisis mendalam dan makna-makna tersirat terhadap setiap narasinya.
Kemudian dari Syekh Ja’far bin Abi Bakr al-Labani yang juga termasuk salah satu ulama Masjidil Haram, beliau mengatakan bahwa kitab ini sesuai dengan namanya mengandung isyarat kritis yang mendalam. Redaksi yang diungkapkan sesuai dengan maknanya, baik tersirat atau tersurat.
Kemudian dari Syekh Muhammad bin Yusuf al-Khayyath mengatakan bahwa kitab ini sangat sesuai untuk disebut sebagai syarah yang menguraikan setiap kata dari matan nadzam Tashilnya al-Amrithi yang sesuai dengan maknanya. Bahkan Syekh al-Khayyath mengungkapkan bahwa kitab-kitab Syekh Abdul Hamid ini sudah banyak dijadikan rujukan ilmu oleh para santri.
Syekh Abdul Hamid Kudus mencatat dalam epilognya (hal. 156) bahwa beliau menulis kitab ini di area makam sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Umar bin Khatthab di daerah Fakh dekat dengan pusat kota Makkah untuk mencari keberkahan di tempat yang penuh berkah.
Syekh Abdul Hamid bercerita ketika berada di sana, kondisi kesehatannya menurun dan beliau jatuh sakit. Kemudian beliau meminta kesembuhan kepada Allah dengan bertawasul kepada Sahabat Abdullah bin Umar serta Khalifah Umar bin Khattab. Beliau yakin bahwa Allah tidak akan menolak doa orang yang berdoa kepada-Nya melalui tawasul kepada kekasih-Nya.
Identitas Kitab
Judul kitab : Lathaiful Isyarat Ila Syarhi Tashilit Thuruqat Linadzmil Waraqat
Penulis: Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus
Percetakan: Musthafa al-Babi al-Halabi, Kairo, Mesir
Tahun: 1950 M./1369 H.
Jumlah Halaman: 68
Editor: Muhammad Faizin


