Dark
Light
Dark
Light

Kisah Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur Dinasihati Seorang Jemaah Haji

Kisah Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur Dinasihati Seorang Jemaah Haji

Khalifah Abu Ja’far al-Mansur merupakan khalifah kedua dinasti Abbasid yang berkuasa selama 22 tahun (136-158 H/754-775 M). Dikisahkan oleh Muhammad al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2016, vol. 2, hal. 469] yang diriwayatkan dari Ibnu al-Muhajir tentang Khalifah al-Mansur yang pernah dinasihati oleh seorang jemaah haji ketika dia sedang berhaji.

Al-Mansur datang di kota Makkah dengan tujuan berhaji, dia keluar dari Darun Nadwah (auditorium elit Arab era dahulu) untuk berthawaf di akhir malam. Dia thawaf dan sholat sampai tidak merasakan hingga terbit fajar. Kemudian dia kembali ke Darun Nadwah. Para muadzin datang dan mengucapkan salam kepadanya, lalu sholat didirikan dan dia sholat bersama masyarakat.

Dia keluar di suatu malam pada waktu sahur untuk berthawaf, dia mendengar seorang pria berdiri di depan Multazam berdoa berikut:

اللهم إني أشكو إليك ظهور البغي والفساد في الأرض وما يحول بين الحق وأهله من الظلم والطمع

Artinya: "Ya Allah, sungguh aku mengadu kepadamu munculnya kekejian dan kerusakan di bumi, dan hal yang bisa memalingkan kebenaran dan pelakunya dari kezaliman dan ketamakan."

Al-Mansur bergegas mempercepat jalannya hingga pendengarannya dipenuhi oleh doa itu. Kemudian dia keluar dan duduk di salah satu arah Masjid al-Haram. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari pria itu dan berhasil menemukannya. Mereka berkata: “penuhilah panggilan Amirul Mukminin”. Dia sedang sholat dua rakaat dan mengusap rukun Ka’bah.

Pria itu menghadap al-Mansur bersama utusannya dan mengucapkan salam kepada al-Mansur. Al-Mansur betanya kepadanya, “Apakah yang kau maksud dari doamu, sehingga aku terngiang dan terusik telingaku?”. 

Dia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, jika nyawaku terjamin, aku akan menceritakannya kepadamu hingga ke akar-akarnya, jika tidak, maka cukup aku saja yang tahu, bagiku terdapat kepentingan orang-orang tertentu dari hal ini.”

Al-Mansur menjawab “Kamu, dan nyawamu aman”

Pria itu berkata “Orang yang dirasuki ketamakan hingga dia terhalang dari kebenaran dan meperbaiki kerusakan di bumi adalah engkau” 

Al-Mansur berkata "Sialan kau!, bagaimana bisa aku diracuni ketamakan sedangkan emas putih dan kuning di tanganku, manis dan asam ada di genggamanku."

Dia menjawab dan balik bertanya:

"Apakah orang lain dirasuki ketamakan sebagaimana engkau, wahai Amirul Mukminin ?. Sungguh Allah memberimu pemerintahan segala urusan masyarakat Muslim dan harta mereka, sedangkan engkau melalaikannya, dan mementingkan untuk mengumpulkan harta mereka."

"Engkau jadikan antara mereka dengan dirimu pembatas yang terbuat dari tembok beton, dan gerbang-gerbang dari besi, dan penjaga bersenjata, lalu kau tahan dirimu dari mereka di dalamnya. Kau utus petugasmu untuk mengumpulkan uang, kau bentuk para menteri dan staf-stafnya yang zalim, mereka tidak mengingatmu jika kau lalai, dan mereka tidak menolongmu jika kau ingat."

"Kau kuatkan mereka untuk berbuat zalim kepada masyarakat dengan uang, pasukan, dan senjata. Kau perintahkan tidak ada orang yang bisa menemuimu kecuali orang-orang tertentu dari golongan tertentu. Sedangkan kau tidak memerintahkan untuk menyelamatkan orang yang terzalimi, orang teraniaya, orang lapar, orang tak berbusana, orang lemah, orang fakir, dan tidak ada seorangpun kecuali mereka mempunyai hak dari harta ini."

"Ketika golongan yang telah kamu pilih untukmu melihatmu, dan telah kamu prioritaskan dari rakyatmu, dan kau perintahkan agar mereka tidak terhalangi darimu, ternyata kau tarik uang-uang itu dan tidak kau bagikan. Mereka berkata “dia telah mengkhianati Allah, bagaimana bisa kita tidak menghianatinya, sedangkan dia telah mempermalukan kita”.

"Mereka bersepakat untuk tidak melaporkan informasi yang terjadi di masyarakat kecuali yang mereka kehendaki dan tidak mengutus pegawai untukmu dan dia berselisih dengan mereka kecuali mereka merendahkannya dan menurunkan jabatannya dan menghinanya."

"Ketika pembelotan ini semakin menyebar antara kamu dengan mereka, masyarakat akan memuliakan dan mengagumi mereka, orang yang pertama kali merayu mereka adalah para pegawaimu, mereka memberikan hadiah dan uang kepada masyarakat agar mereka menjadi kuat untuk berbuat zalim kepada rakyatmu."

"Kemudian orang yang berpengaruh dan kaya dari rakyatmu melakukan hal yang sama agar mereka mendapatkan kezaliman dari rakyat yang stratanya di bawah mereka. Maka negara Allah dipenuhi dengan ketamakan atas dasar kezaliman dan kerusakan, dan golongan itu menjadi sekutumu dalam kekasannmu sedangkan engkau terlalai."

"Jika datang orang yang mengadu, maka dia dihalangi untuk bisa bertemu denganmu, jika dia ingin bersuara dan menceritakan kisahnya kepadamu ketika kamu muncul ke permukaan, kamu mencegah hal itu terjadi."

"Kau mengangkat seorang pria untuk memantau kezaliman yang terjadi di antara masyarakat. Jika dia datang menyampaikan niatmu, mereka meminta korban kezaliman untuk tidak melaporkan hal yang menimpanya, jika korban itu mempunyai kehormatan tetap tidak mungkin akan menyampaikan apa yang dia derita sebab dia takut akan intimidasi dari mereka, dan korban kezaliman itu mondar-mandir, meminta tolong, mendekat sedangkan mereka menolak menolong dengan berbagai alasan."

"Jika korban kezaliman itu berusaha, bersih keras, berteriak dihadapanmu meminta tolong ketika kamu muncul di permukaan, maka dia akan mendapatkan pukulan yang menyakitkan sebagai peringatan bagi yang lain, dan kau melihatnya, dan membiarkannya. Maka bagaimana Islam bisa abadi dengan pengikutnya yang semacam ini?"

"Bani Umayyah dan umumnya orang Arab ketika dilapori kasus kezaliman, maka korbannya tidak berhenti kecuali kezaliman telah dihapuskan darinya dan dia mendapatkan keadilannya. Terdapat seorang pria yang datang dari negeri jauh hingga gerbang istana, dia berteriak “Wahai penduduk Islam”. Mereka bergeas menemuinya dan bertanya “Kenapa kamu?, kenapa kamu?”. mereka melaporkan kasus kezaliman yang dia alami, dan sultan memperlakukannya dengan adil."

"Sesungguhnya aku telah bekelana ke negeri Cina wahai Amirul Mukminin, di sana terdapat seorang raja, aku mengunjunginya sekali, dan dia sungguh telah kehilangan pendengarannya, dia menangis, dan para menterinya bertanya “Mengapa raja menganis?”. melihat hal itu kedua mataku ikut menangis."

"Raja itu menjawab “aku menangis bukanlah atas musibah yang terjadi kepadaku, aku menangisi korban kezaliman yang berteriak di depan pintu istana sedangkan aku tidak mendengarnya”. Dia melanjutkan perkataannya “jika aku kehilangan pendengaranku, aku masih mempunyai pengelihatan, serukanlah kepada masyarakat bahwa tidaklah ada yang memakai baju merah kecuali korban kezaliman”. Dia menunggangi gajah berjalan menyusuri bantaran sungai, mencari korban kezaliman dan dia berikan keadilan."

"Inilah, wahai Amirul Mukminin seorang raja yang menyekutukan Allah yang sangat memenangkan untuk menyayangi orang-orang musyrik dan belaku lembut kepada mereka mengalahkan keterbatasan dirinya sendiri dalam kerajaannya. Sedangkan engkau beriman kepada Allah, cucu paman Nabi tidak memenangkan kemurahan hatimu dan kelembutanmu kepada umat Islam dan mengalahkan kebutuhan pribadimu. "

"Sungguh engkau tidak mengumpulkan harga kecuali hanya untuk salah satu dari tiga hal: pertama, jika engkau berkata “aku mengumpulkan harta untuk anakku”, maka Allah telah memperlihatkanmu pengetahuan tentang anak kecil yang terlahir dari perut ibunya yang tidak membawa harta apapun kecuali tangan kecil yang dia gunakan untuk mengais rezeki." 

Allah senantiasa memberikan belas kasih kepada anak kecil itu hingga Allah membuat orang-orang di sekitarnya menyukainya. Bukanlah engkau yang memberi, akan tetapi Allah lah yang memberi orang-orang yang Dia kehendaki.?"

"Kedua, jika engkau berkata “aku mengumpulkan harta untuk memperkuat kerajaanku”, maka Allah telah memberi pengetahuan kepadamu terkait orang-orang sebelummu. Tiada guna bagi mereka apapun yang mereka kumpulkan dari sekian emas dan perak, pasukan, senjata, dan hewan ternak, tidak membahayakan bagimu dan anak orang tuamu kondisi kekurangan semangat dan kelemahan jika Allah sudah berkehendak kepada kalian."

"Ketiga, jika engkau berkata “aku mengumpulkan harga demi tujuan yang lebih besar dari tujuan yang ada sekarang”, maka demi Allah tidaklah ada tujuan dari apa yang ada padamu sekarang kecuali tempat yang tidak bisa digapai kecuali dengan amal saleh."

"Wahai Amirul Mukminin !, apakah engkau menghukum rakyatmu yang membangkang kepadamu dengan hukuman yang lebih berat dari mati?" Al-Mansur menjawab “tidak” .

Pria itu kembali bertanya "Bagaimana engkau berbuat terhadap kerajaan yang dititipkan oleh Allah kepadamu? dan terhadap kejaraan duniawi? sedangkan Allah tidak menghukum orang yang bermaksiat kepada-Nya dengan hukuman mati, akan tetapi dengan siksaan pedih yang abadi. Allah lah yang melihat apa yang terikat dihatimu, dan yang disimpan oleh tubuh fisikmu."

"Maka apa yang engkau katakan ketika Allah, Sang Maha Raja yang nyata mencabut kekuasaan duniawi dari kekuasannmu, dan memanggilmu untuk perhitungan amal (hisab)?. Apakah yang kamu miliki sekarang bisa mengatasi hal itu?, yang kamu miliki dari sekian harta yang kikiri dari kekuasaan duniawi?"

Mendengar hal itu, Khalifah al-Mansur menangis histeris, terisak, dan suaranya semakin mengeras, dia berkata “Aduhai, seandainya aku tidak diciptakan, dan tidak menjadi apa-apa”. Kemudian al-Mansur bertanya “Apalah dayaku terkit apa yang telah diserahkan kepadaku, dan aku tidak melihat masyarakat kecuali penghianat ?”.

Pria itu menjawab “Wahai Amirul Mukminin, engkau harus bersama para pemimpin yang berilmu tinggi dan sebagai petunjuk bagi umat” 

Al-Mansur bertanya “Siapakah mereka?” 

Pria itu menjawab “Para ulama”

Al-Mansur berkata “Mereka telah lari menjauh dariku”

Pria itu menjawab “Mereka lari darimu karena khawatir akan tertimpa hal yang berlaku dalam pemerintahanmu dari menghadapi para pegawaimu. Akan tetapi bukalah gerbang, permudah protokoler, tolonglah korban kezaliman, hapuskan kezaliman, ambillah hal yang halal dan yang baik, bagikan dengan hak dan adil. Aku menjamin orang-orang yang lari darimu akan mendatangi dan membantumu untuk memperbaiki pemerintahan dan rakyatmu”

Al-Mansur kemudian membaca doa berikut:

اللهم وفقني أن أعمل بما قال هذا الرجل

Artinya: "Ya Allah semoga Engkau membantuku untuk bisa mengerjakan apa yang dikatakan oleh pria ini."

***

Para muadzin telah datang dan memberi salam kepada al-Mansur bertanda sholat akan didirikan. Kemudian dia sholat berjemaah bersama mereka. Setelah selesai sholat, al-Mansur berkata kepada ajudannya “Temukan pria itu !. jika tidak, maka lehermu akan ku potong.” Al-Mansur sangat marah dengannya.

Ajudan al-Mansur kemudian keluar dan mencari pria tersebut, ketika dia berthawaf, dia bertemu dengan pria itu, dia sedang shalat di sebagian bukit-bukit kecil kota Makkah. Ajudannya duduk dan shalat, kemudian dia berkata “wahai Pria, apakah kau bertakwa kepada Allah?”.

Dia menjawab “Iya” 

Ajudan bertanya “Apakah kau tahu siapa dia?”

Dia menjawab “Iya”

Ajudan berkata “Ayo pergi bersamaku menemui Amirul Mukminin, dia berniat akan membunuhku jika aku tidak membawamu menghadapnya”

Dia menjawab “Aku tidak ada urusan dengan itu”

Ajudan berkata “Dia akan membunuhku”

Dia berkata “Tidak akan”

Ajudan berkata “Bagaimana bisa?”

Dia berkata “Kau bisa membaca?”

Ajudan menjawab “Tidak”

Kemudian pria itu mengeluarkan kain yang tertulis sesuatu dari ranselnya, dia berkata kepada ajudan al-Mansur “Ambillah ini taruh disakumu, ini adalah doa al-Faraj”.

Ajudan bertanya “Apakah doa al-Faraj itu?”

Dia menjawab “Tidak ada yang diberikan doa ini kecuali para syuhada"

Ajudan berkata “Semoga Allah merahmatimu, kau telah berbuat baik kepadaku, jika kau memberi tahuku doa apa ini dan apa fadhilahnya”.

Dia menjawab “Barang siapa yang membacanya di sore dan pagi, maka dosa-dosanya akan dihancurkan, kebahagiaannya akan abadi, kesalahannya akan dihapuskan, rezekinya akan dilapangkan, harapannya akan diwujudkan, diselamatkan dari musuhnya, dan ditulis di sisi Allah sebagai sahabat dan tidak meniggal dunia kecuali syahid.

Ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِيْ عَظَمَتِكَ دُوْنَ اللُّطَفَاءِ وَعَلَوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى العُظَمَاءِ وَعَلِمْتَ مَا تَحْتَ أَرْضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ وَكَانَ وَسَاوِسُ الصُّدُوْرِ كَالعَلَانِيَّةِ عِنْدَكَ وَعَلَانِيَّةُ القَوْلِ كَالسِّرِّ فِيْ عِلْمِكَ وَاَنْقَادَ كُلُّ شَيْءٍ لِعَظَمَتِكَ وَخَضَعَ كُلُّ ذِيْ سُلْطَانٍ لِسُلْطَانِكَ وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ كُلُّهُ بِيَدِكَ إِجْعَلْ لِيْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ أَمْسَيْتُ فِيْهِ فَرَجاً وَمَخْرَجاً

اَللَّهُمَّ إِنَّ عَفْوَكَ عَنْ ذُنُوْبِيْ وَتَجَاوُزَكَ عَنْ خَطِيْئَتِيْ وَسِتْرَكَ عَلَى قَبِيْحِ عَمَلِيْ أَطْمَعَنِيْ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَا أَسْتَوْجِبُهُ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيْهِ أَدْعُوْكَ آمِناً وَأَسْأَلُكَ مُسْتَأْنِساً وَإِنَّكَ الْمُحْسِنُ إِلَيَّ وَأَنَا الْمُسِيْءُ إِلَى نَفْسِيْ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ تَتَوَدَّدُ إِلَيَّ بِنِعْمَتِكَ وَأَتَبَغَّضُ إِلَيْكَ بِالْمَعَاصِيْ وَلَكِنْ الثِّقَةُ بِكَ حَمَلَتْنِيْ عَلَى الجَرَاءَةِ عَلَيْكَ فَجُدْ بِفَضْلِكَ وَإِحْسَانِكَ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Artinya: "Ya Allah, sebagaimana Engkau berlemah lembut dalam keagungan-Mu melebihi segala yang lembut. Engkau Maha tinggi dengan keagungan-Mu di atas segala yang agung. Engkau mengetahui segala apa yang ada di bawah bumi-Mu sebagaimana Engkau mengetahui segala apa yang ada di atas Arasy-mu. Bisikan hati bagi-Mu seperti ucapan terang-terangan. Ucapan terang-terangan bagi-Mu seperti rahasia dalam ilmu-Mu. Segala sesuatu tertunduk kepada keagungan-Mu. Segala raja yang memiliki kerajaan tertunduk kepada kerajaan-Mu. Segala urusan dunia dan akhirat berada dalam kekuasaan-Mu. Jadikanlah bagiku kelapangan dan jalan keluar untuk setiap sesuatu yang mengkhawatirkan yang akan terjadi kepadaku.

Ya Allah, sesungguhnya ampunan-Mu atas dosa-dosaku. Maaf-Mu atas segala kesalahanku. Penutupmu atas segala keburukan amalku. Aku sangat menginginkan untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang tidak pantas dikabulkan untukku dari sekian keteledoranku. Aku berdoa kepada-Mu dalam kondisi aman, aku meminta-Mu dalam kondisi berbahagia. Dan sesungguhnya Engkau dzat yang berbuat baik kepadaku, sedangkan aku adalah orang yang berbuat buruk kepada diriku sendiri tentang hal antara aku dengan-Mu. Engkau selalu membuatku senang dengan nikmat-nikmat yang Engkau berikan kepadaku, sedangkan aku membuat-Mu marah dengan kemaksiatan yang ku perbuat. Namun, kepercayaanku kepada-Mu membawaku untuk berani meminta kepada-Mu. Maka anugerahkanlah aku dengan keutamaan-Mu dan kebaikan-mu. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha menerima taubat dan Maha mengasihi."

Ajudan berkata “Aku bawa doa itu, aku letakkan disakuku, tidak ada yang ku khawatirkan kecuali Amirul Mukminin, aku masuk, ku ucapkan salam padanya. Dia langsung mengangkat kepalanya dan memandangiku dengan senyuman”

Al-Mansur berkata “Celaka bagimu, sedangkan kamu membuat mantera yang baik”

Ajudan menjawab “Tidak, demi Allah wahai Amirul Mukminin”

Kemudian ajudan menceritakan kisahnya bersama pria itu, dan al-Mansur berkata “Berikan kepadaku secarik kain yang diberikannya kepadamu itu!”. Lalu al-Mansur menerimanya dengan tangisan.

Al-Mansur berkata “Sungguh kau telah selamat”

Dia memerintahkan untuk menghapusnya dan menggantinya dengan 10 ribu, kemudian dia bertanya “Kau tahu siapa pria itu?” 

Ajudan menjawab “Tidak”

Al-Mansur berkata “Dia adalah Nabi Khidir”. 


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo