Arina.id - Baru saja tersiar kabar seorang ulama muda mengalami kecelakaan di jalan tol hingga merenggut nyawa. Kejadian pilu ini menambah daftar panjang kecelakaan di jalan tol.
Angka kecelakaan yang begitu tinggi di jalan tol menjadi PR tersendiri yang harus dicarikan solusinya. Terlebih data dari Korlantas Polri pada Oktober 2024 menunjukkan jumlah kecelakaan di jalan tol dari tahun ke tahun masih tinggi.
Melansir dari Suara Surabaya, pada tahun 2022, tercatat 1.464 kecelakaan lalu lintas dengan 688 korban meninggal dunia, 237 luka berat, dan 2.564 luka ringan.
Jumlah ini meningkat di tahun 2023 menjadi 1.656 kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 704 orang, 285 luka berat, dan 2.971 luka ringan. Fakta ini menunjukkan perlunya upaya konkret untuk meningkatkan keselamatan di jalan tol.
Faktor keselamatan berkendara secara umum dipengaruhi oleh pengemudi atau supir. Harus diakui, setiap pengemudi memiliki karakter berkendara masing-masing. Ada yang taat aturan lalu lintas, ada pula yang ngawur. Bahkan ada juga menjadikan jalan tol ajang kebut-kebutan dan nyalip secara ngawur di bahu jalan tol.
Tidak hanya itu, ada pula yang sambil merokok dan membuang putung rokok keluar hingga mengenai pengendara di belakangnya. Ini jelas pelanggaran berat. Sebaiknya para pengemudi yang memang suka merokok bisa berhenti di rest area.
Micro Sleep dan Cara Mengantisipasinya
Seringkali saat berkendara tiba-tiba supir terserang kantuk berat yang menyebabkan konsentrasi buyar dan tiba-tiba tertidur sepersekian detik. Ini patut diwaspadai karena dia mengalami microsleep. Apa itu fenomena microsleep?
Dilansir dari laman kepripolri.go.id microsleep merupakan suatu kejadian hilangnya kesadaran atau perhatian seseorang karena merasa mengantuk, sehingga pengemudi tertidur secara tiba-tiba, namun hanya dalam waktu yang sangat singkat, yakni sekitar satu detik hingga dua menit yang disertai dengan sentakan kepala yang keras. Sentakan kepala secara tiba-tiba ini tanda ketiduran.
Perlu diketahui, dalam keadaan normal, otak bisa menangkap dan memproses berbagai stimulus. Namun bila mengalami kelelahan akan membuat konsentrasi seseorang terganggu sehingga otak menjadi lebih terbatas terhadap stimulus yang lebih kuat. Dan ini bisa sangat membahayakan bagi pengendara.
Solusinya bagaimana? beberapa hal yang bisa dilakukan pertama, menepikan kendaraan secara berkala ketika terasa mengantuk berat. Gunakan kesempatan ini untuk menggerakkan badan, memejamkan mata, atau melakukan peregangan.
Kedua, istirahat secara berkala ketika harus berkendara jarak jauh. Misalkan jika bepergian dari Surabaya ke Tasikmalaya, maka setiap 2-3 jam sekali berhenti di rest area, lalu pejamkan mata atau upayakan tidur singkat selama 20 menit sampai 30 menit.
Ketiga, jika punya kecenderungan microsleep, upayakan jangan berkendara sendirian. Sebaiknya ajak kerabat dekat, kawan agar bicara di sepanjang jalan.
Di sinilah peran penting seorang penumpang atau teman selama perjalanan. Sebisa mungkin dia peduli kondisi supir, memperhatikannya, dan mengajak ngobrol dalam rangka menghindari microsleep.
Sebab percakapan dapat membangunkan sel otak, mempercepatan pernapasan, dan memompa oksigen ekstra ke aliran darah, sehingga pengendara tidak gampang mengantuk. Bisa juga dengan cara menyetel musik kesukaan atau radio sebagai pemecah keheningan.
Keempat, 30 menit sebelum berkendara, sebaiknya minum asupan berkafein seperti kopi atau teh. Bisa pula membawa termos berisi minuman rempah. Sediakan air mineral. Kelima, apabila ada rencana berkendara jauh, pastikan sang supir tidurnya berkualitas, agar kondisi tubuh fit selama berkendara. Jangan dipaksakan.
Safety Riding: Meminimalisir Kecelakaan di Jalan Tol
Peristiwa kecelakaan di jalan tol dapat dibilang sangat tinggi, mengingat jalan tol adalah jalan bebas hambatan yang mudah memicu adrenalin pengemudi supaya melaju cepat. Bahkan sebagian pengemudi tergoda untuk tes kecepatan kendaraan.
Memang kecelakaan di tol tidak sepenuhnya faktor dari pengemudi. Apalagi jika posisinya sebagai ajudan atau khadam yang harus patuh pada atasan yang kebetulan menjadi penumpang.
Posisi seperti ini, supir harus punya sikap dan menyampaikannya kepada atasan dengan santun. Ini yang harus ditekankan. Jangan sungkan dan rikuh, sebab 90 persen kontrol kemudi yang pegang adalah supir. Bukan penumpang.
Deru mesin, pijakan persneling, gas dan rem sepenuhnya berada di tangan supir. Ini artinya, para supir mendapatkan privilege untuk mengendalikan kemudi dengan aman dan memastikan keselamatan berkendara (safety riding).
Mengutip keterangan dari buku Fiqih Lalu Lintas yang diterbitkan oleh UINSA, Yayasan Astra dan Polda Jawa Timur menyebutkan bahwa safety riding atau keselamatan berkendara itu harus mencakup beberapa hal, yaitu:
- Sehat jasmani dan rohani. Maksudnya pengemudi harus memiliki stamina yang prima, mampu mengontrol emosi, tidak sedang lelah, dan mengantuk.
- Sehat kendaraan. Maksudnya cek terlebih dahulu kondisi kendaraan, misalnya aki, rem, oli, radiator, wiper, lampu sign, tekanan angin, balancing, rack steer dan sebagainya.
- Sehat navigasi dan sistem keselamatan kendaraan. Maksudnya paham dengan peta, simbol rambu lalu lintas, safety belt, airbag, hazard.
- Membudayakan sehat berkendaraan. Maksudnya berkendara dengan aman misalnya menjaga jarak aman, dan jaga kecepatan terbaik. Biasanya di jalan tol ada standar kecepatan yang diperbolehkan karena tiap ruas jalan ada pantangannya masing-masing seperti hempasan angin dari samping kendaraan, kondisi jalan menanjak, turun dan belokan tajam.
- Membiasakan berdoa agar selamat. Maksudnya membaca sering-sering zikir, shalawat, dan doa-doa lainya selama perjalanan.
Walhasil, tulisan singkat ini semoga menjadi pelajaran bersama khususnya bagi para supir yang mengendalikan kendaraan dan para penumpang yang menemaninya. Semoga dapat meminimalisir kecelakaan yang berulang kali terjadi akibat kelelahan atau keteledoran. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


