Safar adalah nama bulan kedua setelah bulan Muharram pada sistem penanggalan Hijriyah. Meskipun Safar masuk dalam kalender hijriyah (Islam), namun tak jarang sebagian kalangan meyakini jika Safar adalah bulan yang membawa kesialan, dan penuh dengan mara bahaya. Anggapan itu telah lama menjadi keyakinan, dan diajarkan secara turun temurun. Lantas dari mana keyakinan itu bermula?
Safar terkait erat dengan ragam pengertian dalam pemahaman bahasa dan tradisi masyarakat Arab kuno pra Islam. Ada multi-makna dari kata Safar, diantaranya 1). Safar (صفر) berarti penyakit kuning; lapar; cacing perut; bulan kedua sesudah Muharraram. 2) Sifr (صفر) berarti kosong atau sunyi. 3) Sufr (صفر) bermakna kuning.
Orang-orang Arab pada masa Jahiliyah memiliki tradisi berangkat mengembara. Mereka meninggalkan kediaman pada bulan tersebut sehingga rumah-rumah tinggal menjadi 'kosong' (صفر) dan pada suatu waktu pernah mereka berangkat bertepatan musim panas dan kering, bersamaan saat daun-daun manjadi 'kekuning-kuningan' (صفر) dan banyaknya penderitaan dan petaka yang dialami oleh mereka (صفر) (Husein Nafarin: 2021).
Mengutip dari buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah karya Ida Fitri Shohibah, orang Arab Jahiliyah beranggapan bahwa bulan Safar adalah bulan kesialan. Mereka beranggapan bahwa bulan Safar adalah bulan di mana Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke dunia. Oleh karena itu, mereka berpikir ada banyak musibah dan bencana terjadi di bulan ini, khususnya pada Rabu pekan terakhir.
Dalam berbagai literatur juga disebutkan, pada masa pra-Islam, suku-suku Arab kuno memiliki berbagai tradisi dan keyakinan terkait dengan bulan-bulan tertentu, termasuk bulan Safar. Beberapa suku di Arab percaya bahwa di bulan-bulan tertentu memiliki pengaruh khusus terhadap nasib atau keberuntungan, sehingga di masa lalu orang-orang Arab Jahiliyah menggunakan bulan Safar untuk meramal. Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Malik ra, bahwa penduduk Jahiliyah meramalkan nasib dengan Safar dan mengatakan bahwa Inilah bulan yang diramalkan. Namun, Nabi Muhammad SAW kemudian menafikan hal itu.
Kepercayaan akan adanya kesialan di bulan Safar di kalangan bangsa Arab, termasuk pada hari Rabu terakhir (arba mustamir) di bulan Safar pada setiap tahunnya turun tiga ratus dua puluh ribu (320.000) bala. Hari itu adalah hari yang paling sulit dalam setahun, Bala-bala ini kemudian disebarkan dalam hari- hari selama setahun itu. Penjelasan demikian dapat kita temukan antara lain di dalam kitab: Syekh Abd al-Hamid Muhammad al-Quds, seorang mudarris (pengajar dan Imam di Masjid Al Haram Makkah (1280 - 1334 H); Kitab Kanz al-Najah wa al-Surur fi al-Ad'iyah allati Tasyrah al-Shudur. Selebaran tuan Guru Haji Jamhuri yang menyebutkan diambil dari Kitab Fath al-Malik al Majid oleh al-Dairubi, dan M. Qusairi Hamzah, “Risalah Amaliah” yang dikutip dari Kitab Fawa'id al-Ukhrawiyah.
Sebagian bangsa Arab mengundurkan bulan Muharram ke bulan Safar sehingga mereka berperang di bulan Muharram; dan menjadikan bulan Safar sebagai bulan Muharram. Di antara mereka ada yang beranggapan bahwa Safar (dibaca: صفر) adalah sejenis ular maksudnya cacing (حية في البطن) di dalam perut yang menggigit manusia jika ia lapar, sehingga perut terasa perih dan nyeri karena gigitannya. Hal ini diartikan bahwa mereka merasa pesimis (tasya'um) dengan datangnya bulan Safar karena akan terjadi banyak bencana dan kegalauan.
Imam Abul Fida Ismail bin Umar ad-Dimisyqi, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) menjelaskan bahwa penamaan itu tidak lepas dari kekosongan atau kesepian perkampungan Arab di bulan tersebut.
“Di balik penamaan bulan Safar tidak lepas dari keadaan orang Arab tempo dulu pada bulan ini. Safar yang memiliki arti “sepi” atau “sunyi” sesuai keadaan masyarakat Arab yang selalu sepi pada bulan Safar,” tulis Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Bangkalan, dalam tulisannya di NU Online berjudul Bulan Safar: Latar Belakang Nama dan Mitos Kesialan di Dalamnya yang dikutip pada Sabtu, (19/8/2023).
Sepi, menurutnya sebagaimana dikutip dari Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim, dalam arti senyapnya rumah-rumah mereka karena orang-orang keluar meninggalkan rumah untuk perang dan bepergian.
Adnani Iskandar seperti dikutip oleh Husein Nafarin pernah menjelaskan bahwa dalam tarikh pernah diriwayatkan bahwa hancurnya bendungan Ma'rib di Yaman terjadi pada bulan Safar. Diriwayatkan pula bahwa sesudah perang Sa'iba, seorang wanita Yahudi memberikan paha kambing masak beracun kepada Nabi saw. dengan maksud membunuhnya. Tetapi beliau selamat, namun seorang sahabat bernama Barra bin Azib tewas. Ini terjadi pada bulan Safar.
H A Zahri dalam buku Pokok-Pokok Akidah yang Benar, mengungkapkan, kepercayaan bahwa Safar mendatangkan kesialan dapat disebut juga sebagai jenis khurafat atau mitos, yakni cerita bohong, cerita rekaan atau khayalan.
Kepercayaan akan Safar sebagai bulan penuh nahas dibantah langsung oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang berbunyi:
لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر
“Tidak ada kesialan karena ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliyah tentang rengkarnasi) dan tidak pula Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat).” (HR Bukhari).
Muhammad Khoirul Huda dalam Ilmu Matan Hadis, menyitir Abu ‘Ubaid bahwa melalui hadits di atas, Rasulullah SAW sedang berupaya mengkritik keyakinan khurafat kaum jahiliyyah, yaitu keyakinan bahwa kesialan, keburukan nasib, dan mara bahaya disebabkan sesuatu di luar takdir Allah seperti karena pengaruh hama/wabah (‘adwa), maupun musim atau waktu tertentu seperti Safar.
Editor: Muhammad Zunus


