Dark
Light
Dark
Light

Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad: Kegagalan Mengorbankan Abdullah bin Abdul Muthalib

Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad: Kegagalan Mengorbankan Abdullah bin Abdul Muthalib

Rabiul Awwal menjadi satu di antara sekian bulan mulia bagi umat Muslim di seluruh dunia. Sebab, pada titimangsa inilah sang penghulu, manusia terbaik bernama Muhammad SAW lahir. Syair- syair dan puji-pujian ditulis dengan bahasa paling tinggi untuk menggambarkan betapa bahagia alam semesta menyambut kelahiran Muhammad SAW, sosok yang ditunggu-tunggu dan terus diramalkan bahkan sebelum ia lahir.

Kenabian Muhammad tidak secara tiba-tiba menjadi sejarah besar dan penting. Ia dibangun atas historisitas yang material. Berbagai riwayat dan maqalah menyebutkan bagaimana Muhammad SAW adalah seorang yang rupawan, cerdas, lagi pejuang. Ia ibarat matahari di tengah masyarakat Arab yang zalim dan jahiliyah, ibarat purnama di tengah gelapnya kemanusiaan, peumpamaan embun yang mengusap dada orang-orang yang dilemahkan. Demikian ibarah itu seolah tak cukup untuk menggambarkan bagaimana pendaran cahaya Muhammad SAW, ia nuur fauqa nuur. 

Sebelum Muhammad SAW lahir dan diangkat sebagai rasul, tanda-tanda kenabian Muhammad SAW bahkan telah diketahui oleh sebagian kelompok suku Arab. Rabi-rabi Yahudi, Pendeta-pendeta Nasrani, termasuk sejumlah dukun Arab telah dikabarkan melalui kitab-kitab mereka bahwa kelak akan hadir seorang nabi dari kaum Quraisy lengkap dengan ciri-ciri fisik dan perangainya. Tidak hanya itu, tanda-tanda kenabian Muhammad SAW juga muncul melalui ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib dan Ibunya, Aminah bint Wahb. Berbagai peristiwa yang terjadi pada Abdullah bin Abdul Muthalib maupun Aminah bint Wahb seolah saling susun-menyusun, menjadi penanda bahwa dari keduanya-lah seorang nabi pembawa risalah akan lahir.

Penyembelihan Abdullah bin Abdul Muthalib yang Gagal

Salah satu peristiwa besar yang jarang diketahui adalah adanya rencana penyembelihan terhadap Abdullah bin Abdul Muthalib oleh sang ayah, Abdul Muthalib bin Hasyim. Alkisah, seperti yang diceritakan dalam kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Abdul Muthalib pernah bernazar ketika ia mendapatkan kepercayaan dari orang-orang Quraisy untuk menggali sumur Zam-zam bahwa ia akan menyembelih salah seorang anaknya jika ia memiliki genap sepuluh anak. Saat itu Abdul Muthalib baru memiliki satu anak bernama Harits bin Abdul Muthalib yang juga turut membantunya tatkala menggali sumur Zam-zam. 

Jauh sebelum Qushay bin Kilab alias kakek Abdul Muthalib menjadi pemimpin kota Mekah dan mengelola baitullah, kota itu pernah dipimpin oleh Suku Jurhum yang zalim di bawah kendali Mudhadh bin Amr Al Jurhumi. Mereka berbuat zalim pada orang-orang di luar Mekah dan memakan sendiri kekayaan yang dihadiahkan untuk Ka'bah. Karena kelalimannya, Suku Jurhum diusir dari Mekah, tetapi sebelum suku Jurhum pergi meninggalkan kota itu, mereka mengambil dua patung kijang emas Ka’bah dan dua batu tiang kemudian menanamnya tepat di sumur Zam-zam sehingga mata air itu tertutup. Penguasa kota Mekah dan pengelola Baitullah kemudian digantikan oleh kepemimpinan berikutnya yang sama zalimnya sampai datang suatu masa dimana Qushay bin Kilab dari Quraisy terpilih menjadi pemimpin kota itu dan turun temurun hingga Abdul Muthalib.

Suatu hari, datanglah masa itu, saat anak Abdul Muthalib berjumlah genap sepuluh dan mereka semua telah dewasa dan terjaga. Abdul Muthalib mengumpulkan anak-anaknya untuk menjelaskan dan menetapi  nazarnya. Anak-anak Abdul Muthalib menaati apa yang disampaikan sang ayah, sebab nazar itu ditujukan kepada Allah.

Anak-anak Abdul Muthalib berkata: "Apa yang semestinya harus kami lakukan?" Abdul Muthalib menjawab: "Setiap orang dari kalian mengambil satu dadu lalu menulis namanya di atasnya, lalu tunjukkan hasilnya padaku." Mereka pun mengerjakan apa yang diperintahkan Abdul Muthalib lalu mereka menemui bapaknya.

Setelah itu Abdul Muthalib membawa mereka ke Patung Hubal yang terletak di atas sumur di dalam Ka'bah dan menyerahkan dadu kepada penjaga dadu di Ka’bah. Sumur tersebut adalah tempat dikumpulkannya apa yang mereka persembahkan untuk Ka'bah. Begitulah cara orang Mekah pada masa itu mengundi nasib, mereka mempercayakannya pada penjaga dadu di Ka’bah dan membawa diyat.

Tatkala penjaga dadu mengambil dadu untuk mengadakan undian, Abdul Muthalib bangkit dari duduknya kemudian berdoa kepada Allah di sisi Hubal, sementara penjaga dadu mengocok dadunya, namun ternyata dadu yang muncul adalah atas nama Abdullah.

Abdul Muthalib memanggil Abdullah dan mengambil pisau panjang lalu membawa Abdullah ke patung Isaf dan Nailah untuk disembelih. Kemudian datanglah rombongan orang-orang Quraisy yang mengetahui rencana Abdul Muthalib tersebut dan melarang Abdul Muthalib menyembelih Abdullah. Hal itu dikarenakan Abdul Muthalib adalah orang yang dipercaya dan menjadi tauladan suku Quraisy pada masa itu. Jika Abdul Muthalib nekat menyembelih Abdullah, para orang tua suku Quraisy yang memiliki anak juga akan melakukan hal yang demikian.

Setelah berdebat tiada ujung antara Abdul Muthalib dan orang-orang Quraisy, muncullah kesepakatan untuk mengundi nama Abdullah dengan sepuluh unta milik Suku Quraisy hingga sepuluh kali. Penjaga dadu kemudian mengundi, dan yang muncul adalah nama Abdullah. Mereka kemudian menggantinya dengan sepuluh unta. Undian kedua, muncul lagi nama Abdullah, maka ditambahkannya lagi sepuluh unta hingga berjumlah dua puluh. Undian ketiga, keempat dan seterusnya sampai unta terkumpul hingga sembilan puluh ekor nama Abdullah terus muncul. Undian terakhir, ternyata yang muncul adalah nama unta. 

Meski demikian, Abdul Muthalib bersumpah untuk mengundinya tiga kali lagi. Namun apa yang terjadi, undian pertama, kedua dan ketiga, yang muncul adalah nama unta. Maka gagallah rencana penyembelihan Abdullah bin Abdul Muthalib yang kelak menjadi ayah dari Muhammad SAW berkat penjagaan Allah melalui orang-orang Quraisy.

Cahaya dalam Perut Aminah bint Wahb dan Penamaan Muhammad

Dalam Sirah Nabawiyah, Ibnu Ishaq berkata: “Banyak orang mengatakan, dan hanya Allah yang lebih tahu, bahwa Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bercerita: Saat mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia bermimpi didatangi seseorang kemudian orang itu berkata kepadanya: "Sesungguhnya engkau sedang mengandung penghulu umat ini. Jika dia telah lahir ke bumi, maka ucapkanlah: Aku berlindung kepada Allah Tuhan Yang Esa dari keburukan semua pendengki,' dan namakanlah dia Muhammad", (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah).

Bukan hanya Aminah binti Wahb, Abdul Muthalib dalam sebuah riwayat juga disebut mendapatkan mimpi untuk menamai cucunya dengan nama “Muhammad”. Sebuah nama yang asing dan tidak biasa di kalangan orang-orang Arab. 

“Maka ditafsirkan mimpi itu dengan dilahirkannya seorang (anak) dari tulang punggungnya yang akan diikuti oleh manusia dari Timur dan Barat. Penduduk langit dan bumi akan memujinya. Karena itu, Abdul Muttalib menamainya Muhammad.” (Imam al-Muhaddits Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Radul al-Unuf wa ma’ahu al-Sîrah al-Nabawiyyah li Ibni Hisyâm).

Dalam kitab al-Raudl al-Unuf, Imam al-Muhaddits Abu al-Qasim al-Suhaili (w. 581 H) mengatakan, Abdul Muttalib melihat dalam mimpinya rantai dari emas keluar dari punggungnya. Ujungnya menyebar ke langit, bumi, timur dan barat. Lalu rangkaian rantai itu menjadi pohon yang setiap daunnya mengeluarkan cahaya, dan penduduk bumi di Barat dan Timur semuanya bergantung kepadanya.

Aminah binti Wahb juga melihat cahaya yang keluar dari perutnya saat ia mengandung Muhammad SAW, ia diperlihatkan istana-istana Bushra di wilayah Syam. Sebuah tempat di mana seorang pendeta Buhaira melihat tanda-tanda kenabian Muhammad SAW kelak.

Dari kisah tersebut Allah seolah memperlihatkan bahwa Dia telah menjaga Rasulullah SAW melalui berbagai cara bahkan sejak sebelum ia dilahirkan, dengan menjaga ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib dan memilih Aminah binti Wahb untuk mengandung. 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo