Arina.id - Sa’d bin Abi Waqqash adalah sahabat Nabi yang pernah menjabat sebagai Gubernur Kufah di era kekhalifahan Umar bin Khattab. Sebenarnya kepemimpinan Sa’d bin Abi Waqqash berjalan dengan adil dan normal, namun di balik itu semua ada seseorang yang mencoba memfitnah dan menghasut penduduk Kufah hingga akhirnya Sa’d dilaporkan kepada Umar bin Khattab.
Ibnu Abdi Dunya dalam kitab Mujabud Da‘awah (Kairo, Maktabatul Qur’an: t.t) halaman 69-70 menjelaskan, suatu hari penduduk Kufah melaporkan Sa’d bin Abi Waqqash kepada Umar bin Khattab, bahkan mereka sampai berkata:
"Sa’d bin Abi Waqqash shalatnya tidak sesuai dengan ajaran Nabi,"
Sebagai pemimpin yang bijaksana, Umar bin Khattab tidak langsung percaya begitu saja atas aduan masyarakat Kufah. Umar pun kemudian memanggil Sa’d bin Abi Waqqash untuk dimintai keterangan dan tabayun atau klarifikasi.
"Sesungguhnya aku shalat bersama mereka (penduduk Kufah) sebagaimana shalatnya Rasulullah, aku tidak menguranginya sedikit pun. Aku memanjangkan shalat di dua rakaat pertama dan meringankannya di dua rakaat terakhir," jawab Sa’d dengan jujur.
Rupanya, Umar bin Khattab lebih percaya pada keterangan yang disampaikan Sa’d bin Abi Waqqash karena Umar tahu betul kepribadiannya. Namun demikian, untuk memastikan kebenarannya, Umar mengutus sejumlah orang pergi ke Kufah untuk menyelidiki dan menggali informasi tentang Sa’d bin Abi Waqqash.
Semua utusan Umar bin Khattab menjalankan tugasnya dengan cermat. Mereka berpencar mendatangi majelis-majelis di Kufah untuk menggali informasi tentang kepribadian dan perilaku Sa’d bin Abi Waqqash.
Setelah bekerja dengan profesional, "tim intelijen" Umar bin Khattab ini menyimpulkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berada di jalan yang lurus. Penilaian ini disimpulkan berdasarkan fakta di lapangan bahwa orang-orang Kufah memuji dan menyebutkan kebaikan Sa’d.
Namun demikian, ketika menemui seseorang di sebuah masjid, ada seorang pria bernama Abu Sa’dah. Dia malah memfitnah dan menyampaikan informasi tidak baik tentang sosok Sa’d bin Abi Waqqash.
“Sesungguhnya Sa’d tidak berlaku adil dalam hukum, tidak membagi secara merata, dan tidak memimpin pasukan dengan baik,” ucap pria itu.
Ketika mendengar fitnah dari Abu Sa’dah, Sa’d tidak banyak berkata apalagi membantah, ia hanya menengadahkan tangan seraya berdoa kepada Allah dengan doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ كَاذِبًا فَأَعْمِ بَصَرَهُ، وَأَطِلْ فَقْرَهُ، وَعَرِّضْهُ لِلْفِتَنِ
Artinya: “Ya Allah, jika dia berdusta, maka butakanlah matanya, perpanjanglah kemiskinannya, dan timpakanlah berbagai fitnah (ujian) kepadanya.”
Beberapa waktu kemudian, seseorang bernama Abdul Malik melihat sosok Abu Sa’adah, pria yang sebelumnya memfitnah Sa’d bin Abi Waqqash itu sedang menggoda sejumlah perempuan di lorong jalan. Abdul Malik kemudian bertanya:
“Bagaimana keadaanmu, wahai Abu Sa‘dah?”
Abu Sa’adah kemudian menjelaskan bahwa dirinya telah menerima hukuman dari Allah akibat fitnah yang ia lontarkan kepada Sa'd bin Abi Waqqash. Ia juga mengaku telah menjadi seorang tua yang terjebak dalam ujian hidup; menjadi buta, miskin, dan nafsunya tidak terkontrol, semuanya itu karena doa Sa'd bin Abi Waqqash yang mustajab.
***
Kisah ini mengajarkan umat Islam untuk selalu menjaga sikap dan tidak menebar fitnah kepada siapa pun, terlebih kepada orang-orang saleh yang istiqamah di jalan Allah. Ketika hati mereka tersayat oleh tuduhan palsu, bisa jadi hatinya terus menjerit memohon perlindungan dan keadilan dari Allah yang pada akhirnya fitnah itu berbalik dan menghancurkan pelakunya sendiri, sebagaimana terjadi pada Abu Sa’adah.
Lebih dari itu, kisah ini juga mengingatkan umat Islam agar tidak berbuat zalim kepada siapa pun. Pasalnya, di antara doa yang akan dikabulkan oleh Allah adalah doanya orang yang terzalimi. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah hadits: "Takutlah kalian pada doa orang yang terzalimi, sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
Editor: Aiz Luthfi


