Dark
Light
Dark
Light

Mengenal Syaikh Izzuddin bin Abdussalam, Sosok Raja Para Ulama

Mengenal Syaikh Izzuddin bin Abdussalam, Sosok Raja Para Ulama

Bernama lengkap Abdul Aziz bin Abdussalam bin Abil Qasim bin Hasan bin Muhammad bin Muhaddab al-Sullami. Lahir di Maghrib pada tahun 578 Hijriah dan menghabiskan masa kecil hingga menjadi ulama di tanah Syam. Ia menimba ilmu kepada sejumlah ulama, di antaranya Ibnu Asakir yang dikenal sebagai ulama ahli hadits, al-Amidi seorang ulama ushul fikih, dan beberapa ulama lainnya. 

Al-Izz adalah ulama besar yang namanya tercatat dalam lembaran sejarah Islam. Al-Subki dalam Thabaqah al-Syafi’iyah menyebutkan: 

شيخ الْإِسْلَام وَالْمُسْلِمين وَأحد الْأَئِمَّة الْأَعْلَام سُلْطَان الْعلمَاء إِمَام عصره بِلَا مدافعة الْقَائِم بِالْأَمر بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْي عَن الْمُنكر فِي زَمَانه المطلع على حقائق الشَّرِيعَة وغوامضها الْعَارِف بمقاصدها لم ير مثل نَفسه وَلَا رأى من رَآهُ مثله علما وورعا وقياما فِي الْحق وشجاعة وَقُوَّة جنان وسلاطة لِسَان

Artinya: “(Izzuddin bin Abdus Salam adalah) Syaikhul Islam wal Muslimin, seorang imam yang mumpuni, raja para ulama, imam di masanya tanpa keraguan, pelaksana amar ma’ruf nahi munkar di zamannya, mendalami inti dan hakikat agama, mengerti maqashidus syariah yang tidak ada padanannya dalam hal ilmu, kewaraan, konsisten pada kebenaran, keberaniaan dalam tindakan dan ucapannya”. 

Di antara murid-muridnya adalah Ala al-Din al-Baji, Taj al-Farakat, al-Hafidz Abu Muhammad dan Ibnu Daqiq al-Ied. Nama yang terakhir ini menurut beberapa sumber adalah orang yang memberi gelar pada Izzuddin bin Abdussalam sebagai “Sulthanul Ulama” yang berarti “Raja para Ulama”. 

رَوَى عَنهُ تَلاَمِذَتُهُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ دَقِيْقِ الْعِيْدِ وَهُوَ الَّذِي لّقَّبَ الشَّيْخَ عِزَّ الدّيْنِ سُلْطَانَ الْعلمَاَءِ

Artinya: “Ibnu Daqiq al-Iid, murid Izzuddin adalah orang yang meriwayatkan ilmu dari Izzuddin. Ibnu Daqiq pula yang memberinya laqab “Sulthanul Ulama”. 

Dalam Thabaqatus Syafi’iyah al-Kubra, Ibnu Daqiq al-Iid berkata: 

قَالَ شيخ الْإِسْلَام ابْن دَقِيق الْعِيد كَانَ ابْن عبد السَّلَام أحد سلاطين الْعلمَاء

Artinya: “Syaikh al-Islam Ibnu Daqiq al-Iid berkata: Izzuddin bin Abdussalam salah satu dari rajanya para ulama”. 

Menurut penuturan muridnya yang bernama Abu Syamah, saat masih di Damaskus, Syaikh Izzuddin adalah khatib dan imam di masjid jami Umawi, Damaskus. Beliau juga sosok yang cukup “vokal” dalam mengritik perilaku bid’ah yang justru dikerjakan oleh beberapa khatib lain. Beliau juga yang mengritik keras praktik shalat sunnah raghaib dan Nisfus Sya’ban yang dikenal pada waktu itu di daerah Damaskus. Bamakhramah melansir al-Yafi’i: 

وكان عزّ الدين المذكور رضي الله عنه يصدع بالحق ويعمل به، متشددا في الدين، لا تأخذه في الله لومة لائم، ولا يخاف سطوة ملك ولا سلطان، بل يعمل بما أمر الله ورسوله وما يقتضيه الشرع المطهر، ويأمر بالمعروف، وينهى عن المنكر، وأنكر رضي الله عنه صلاة الرغائب، والنصف من شعبان.

Artinya: “Syaikh Izzudin bin Abdussalam adalah sosok yang lantang mengumandangkan kebenaran dan mengamalkannya, sangat berpegang teguh pada ajaran agama, di hadapan Allah Swt. ia tidak takut celaan siapa pun, juga tidak takut pada otoritas dan kendala raja dan penguasa, bahkan dia tetap mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah, rasul-Nya dan ajaran agamanya, juga melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dia mengritik keras ajaran shalat sunnah raghaib dan salat sunnah pada Nisfus Sya’ban”. 

Selain itu, Syaikh Izzudin juga cukup “vokal” mengritik para penguasa yang dianggap menyimpang dari pedoman agama dan menyengsarakan rakyat kecil. Dalam buku-buku yang membahas tentang kehidupannya, disebutkan:

أماراً بالمعروف نهاء عن المنكر، لا يخاف في الله لومة لائم؛

Artinya: “(Syaikh Izzudin) gemar melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tidak takut celaan siapapun”.  

Bahkan, Syaikh Izzudin sempat terusir dari Damaskus dan pergi ke Mesir hingga wafat di sana karena ia tidak berkenan mendoakan seorang raja yang saat itu lumrah dilakukan oleh para ulama ketika berkhutbah. Alasan Syaikh Izzudin tidak melakukannya karena raja tersebut membuat kebijakan yang menguntungkan elit dari daerah lain. Ia kemudian dipecat sebagai imam dan khatib mesjid sekaligus ditahan di penjara. Setelah lepas, ia akhirnya pergi ke Mesir dan berkarir di sana . 

Syaikh Izzudin cukup produktif dalam menulis kitab, di antara karya-karyanya adalah kitab Syajarah al-Ma’arif (dalam bidang tafsir), al-Qawaid al-Kubra (dalam bidang ushul fikih), al-Ghayah fi al-Ikhtishar al-Nihayah (dalam bidang fikih), Syar al-Sul al-Amal fi Ilmay al-Ushul wa al-Jidal, Tafsir al-Qur’an, al-Imad fi mawaris al-Ibad, Majaz al-Quran, Maqashid al-Shaum, Maqashid al-Shalah, dan lain sebagainya.  

Syaikh Izzudin memang dikenal begitu piawai dalam urusan fikih. Bahkan, Jamaluddin bin al-Hajib sampai menyebut, kepakaran Sulthanul Ulama ini lebih tinggi daripada al-Ghazali. Di akhir hayatnya, sebagaimana kesaksian Ibnu Hajar, ia tidak bermazhab dan menggunakan aturan fikih hasil dari ijtihadnya sendiri. As-Suyuthi menulis: 

وقال ابن كثير في تاريخه: انتهت إليه رياسة المذهب، وقصد بالفتاوي من الآفاق، ثم كان في آخر عمره لا يتقيد بالمذهب، بل اتسع نطاقه، وأفتى بما أدى إليه اجتهاده

Artinya: “Ibnu Katsir berkata dalam Tarikh-nya: kedudukan pimpinan mazhab sampai kepada beliau. Ia menjadi tujuan orang minta fatwa. Di akhir hidupnya ia tidak membatasi pemikirannya dengan mazhab bahkan pemikirannya makin meluas dan berfatwa sesuai kesimpulan ijtihadnya sendiri”. 

Dalam Husnul Muhadharah diceritakan, Syaikh Izzudin merupakan seorang “praktisi tasawuf” dari jalur al-Syihab al-Suhrawardi. Tidak hanya itu, ia juga dikabarkan memiliki karamah. Sayangnya, kisah karamahnya tidak ditulis secara detail. Sesekali beliau hadir ke majelis sufi Abu al-Hasan al-Syazili .

Di balik kisah hebat keilmuannya, ternyata ia seorang yang lambat dalam proses mencari ilmu. Dalam Thabaqat al-Syafi’iyah diceritakan bahwa Izzudin lambat mencari ilmu karena sangat fakir. Tajud Din al-Subki menulis: 

كَانَ الشَّيْخُ عِزُ الدّيْنِ فِيْ أَوَّلِ أَمْرِهِ فَقِيْرًا جِدًّا وَلَمْ يَشْتَغِلْ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ 

Artinya: “Syaikh Izzuddin bin Abdissalam mulanya adalah seorang yang sangat fakir sekali dan beliau baru bisa belajar ilmu saat sudah dewasa”. 

Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi orang yang merasa lambat mencari ilmu agar tidak perlu minder. Selambat apapun jika dibarengi dengan serius dan tekun niscaya ilmu yang ia cari akan didapat, sebagaimana yang tergambar dari sosok Syaikh Izzudin bin Abdussalam.

Ulama yang mendapat gelar Sulthanul Ulama ini wafat pada tanggal 10 Jumadal Ula tahun 660 Hijrah di kota Kairo dan dimakamkan di Qorafah Kubra , sebuah pemakaman umum. Penulis berziarah ke makam beliau bada Maghrib dengan suasana gelap menuju makam. Di tiap gang maqbarah, saya berjumpa dengan anjing yang berkeliaran dan cukup menantang. Di pusara beliau saya berdoa dan bertawassul. Suasana malam yang gelap dan angin kota Kairo membuat suasana makin syahdu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Husain Fahasbu
Pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur. Nominator Kepustakaan Islam Award 2024 Kementerian Agama Kategori Penulis Masyarakat.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo