Arina.id - Kisah percakapan antara Khalifah Umar bin Khattab, Hudzaifah al-Yamani, dan Ali bin Abi Thalib banyak dikutip oleh sejumlah penceramah. Pasalnya, kisah itu memang menarik dan penuh dengan daya kejut yang dibungkus dengan narasi teka-teki dan sedikit bumbu plot twist.
Namun, kisah ini tidak tercatat dalam kitab-kitab hadits sedangkan ketiganya merupakan sahabat Nabi dan termasuk pembesar para sahabat. Oleh karena itu, banyak para peneliti yang meragukan kredibilitas kisah pengakuan dan percakapan mereka bertiga.
Sumber paling tua yang mengutip kisah tersebut ditemukan penulis dalam tafsir Al-Muharrarul Wajiz fi Tafsiril Kitabil Aziz [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, juz 5, hal. 320] karya Abdul Haq bin Ghalib al-Maharibi atau terkenal dengan sebutan Ibnu Athiyah al-Andalusi (w. 542 H.).
Ibnu Athiyah mengutip kisah itu untuk kepentingan tafsir surat al-Taghabun ayat 15, akan tetapi kutipan itu hanya mencatat percakapan antara Umar dengan Hudzaifah, tanpa kehadiran Ali. Berikut kutipannya:
وقال عمر لحذيفة: كيف أصبحت؟ فقال: أصبحت أحب الفتنة وأكره الحق، فقال عمر: ما هذا؟ فقال: أحب ولدي وأكره الموت
Artinya: “Umar berkata kepada Hudzaifah al-Yamani, “bagaimana pagimu ?”, dia menjawab “aku mengawali pagi dengan mencintai fitnah dan membenci kebenaran”, Umar berkata “apa maksudmu?” dia menjawab “aku mencintai anakku, dan aku membenci mati”.
Catatan selanjutnya, terdapat dalam kitab Al-Turuq al-Hukmiyah fi al-Siyasah al-Syar’iyah, [Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019, juz 1, hal. 117], karya Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr atau dikenal dengan nama Ibnul Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H). Dalam catatan ini nama Ali disebutkan tetapi tidak menyebut nama Hudzaifah, sosok yang disebut adalah seorang pria yang tidak disebutkan namanya. Berikut catatannya:
أن عمر بن الخطاب سأل رجلًا: كيف أنت؟ فقال: ممن يحب الفتنة، ويكره الحق، ويشهد على ما لم يره، فأمر به إلى السجن. فأمر علي برده، وقال: صدق، قال: كيف صدّقته؟ قال: يحب المال والولد، وقد قال الله تعالى: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ {ويكره الموت، وهو حق، ويشهد أن محمدًا رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولم يره، فأمر عمر رضي الله عنه بإطلاقه، قال: الله أعلم حيث يجعل رسالته
Artinya: “Sesungguhnya Umar bin Khattab bertanya kepada seorang pria, “bagaimana keadaanmu?”, dia menjawab “Aku termasuk orang yang mencintai fitnah, membenci kebenaran, dan juga menyaksikan hal yang tidak dilihat”, lalu Umar memerintahkan agar dia dipenjara. Kemudian Ali memintanya untuk dibebaskan, Ali berkata “dia benar”, Umar bertanya “mengapa kamu membenarkan dia?”, Ali menjawab “dia mencintai harta dan anak, Allah telah berfirman “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)” (al-Taghabun ayat 15), dia benci kematian, dan kematian adalah kebenaran, dia bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah sedangkan dia tidak pernah melihatnya”. Maka Umar memerintahkan untuk melepaskannya, dia berkata Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. (al-An’am ayat 124)”
Kisah yang dicatat Ibnul Qayyim sekilas saling melengkapi dengan catatan Ibnu Athiyah, akan tetapi terdapat kontradiksi tokoh antara keduanya. Catatan Ibnu Athiyah sama sekali tidak menyebutkan Ali sebagai tokoh ketiga, sedangkan catatan Ibnul Qayyim menyertakan Ali menyebutkannya.
Hanya saja dari komentar Ali, pria yang dimaksud menurut pemahaman penulis jelas bukan Hudzaifah al-Yamani, sebab dalam catatan itu, Ali jelas mengatakan bahwa “dia bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sedangkan dia tidak pernah melihatnya”, dan kata ini menunjukkan bahwa yang dimaksud Ali bukanlah seorang sahabat Nabi, karena tidak pernah melihat Nabi meskipun beriman.
Catatan yang menyebutkan ketiga tokoh tersebut adalah dalam kitab Bahru al-Dumu’ [Darul Farj, 2004, hal. 109], karya Jamaluddin Abdurrahman al-Jauzi, atau dikenal dengan nama Ibnul Jauzi (w. 597 H.). Berikut redaksinya:
يروى في بعض الأخبار إن عمر بن الخطاب رضي الله عنه لقي حذيفة بن اليمان وهو يومئذ أمير المؤمنين، فقال لحذيفة: كيف أصبحت يا حذيفة؟ قال: أصبحت يا أمير المؤمنين أحب الفتنة، وأكره الحق، وأقول بما لم يخلق، وأشهد بما لم أر، وأصلي بلا وضوء، ولي في الأرض ما ليس لله في السماء
Artinya: “Diriwayatkan di sebagian hadits, bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan Hudzaifah bin al-Yaman, dan Umar ketika itu sudah menjadi Amirul Mukminin. Dia berkata “bagaimana pagimu hai, Hudzaifah”, Hudzaifah menjawab “Pagiku, wahai Amirul Mukminin, aku menyukai fitnah, dan aku membenci kebenaran, aku mengucapkan hal yang bukan makhluk, aku bersaksi atas hal yang tidak ku lihat, aku shalat tanpa berwudhu, dan aku di bumi mempunyai apa yang Allah tidak punya di langit.”
فغضب عمر لذلك غضبا شديدا، وهمّ إن يبطش به، ثم تذكر صحبته من النبي، فأمسك، فهو كذلك إذ مرّ به عليّ بن أبي طالب رضي الله عنه، فرأى الغضب في وجهه، فقال: ما أغضبك يا أمير المؤمنين، فقصّ عليه القصّة
Artinya: “Mendengar hal itu, Umar kemudian sangat marah, dia ingin menghancurkan Hudzaifah, hanya saja dia teringat bahwa Hudzaifah adalah sahabat Nabi, maka dia mengurungkan niatnya itu. Tiba-tiba Ali bin Abi Talib berjalan bertemu Umar, dan umar masih dalam kondisi marah, lalu Ali bertanya “Apa yang membuatmu marah wahai Amirul Mukminin”, kemudian Umar menceritakan kisah tersebut.”
فقال: يا أمير المؤمنين لا يغضبك ذلك، أما قوله: إنه يحب الفتنة، فهو تأويل قوله تعالى: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ} التغابن 15
Artinya: “Ali berkata “hai, Amirul Mukminin, janganlah marah karena kejadian itu, ucapan Hudzaifah bahwa dia menyukai fitnah adalah takwilan dari surat al-Taghabun ayat 15.”
أما قوله: يكره الحق، فالحق هو الموت الذي لا بدّ منه ولا محيص عنه
Artinya: “Ucapannya tentang membenci kebenaran adalah tentang kematian yang pasti akan datang, dan tidak bisa dihindari.”
وأما قوله: يقول بما لم يخلق: القرآن، فهو يقرأ القرآن وهو غير ومخلوق
Artinya: “Terkait berkata dengan hal yang tidak diciptakan adalah tentang Al-Qur’an, dan Qur’an sendiri bukanlah makhluk.”
وأما قوله: يشهد بما لم ير، فانه يصدق بالله ولم يره
Artinya: “Terkait bersaksi terhadap hal yang tidak dia lihat, adalah tentang memperayai Allah meskipun tidak melihat-Nya.”
وأما قوله: يصلي بغير وضوء، فانه يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم بغير وضوء
Artinya: “Terkait shalat tanpa wudhu adalah tentang shalawat kepada Nabi tanpa berwudhu.”
وأما قوله: إن له في الأرض ما ليس لله في السماء، فان له زوجة وبنين، وليس لله شيء من ذلك
Artinya: “Terkait dia di bumi mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki Allah di langit adalah tentang anak dan istri, dan Allah sama sekali tidak mempunyai anak dan istri.”
فقال عمر: لله درّك: يا أبا الحسن، لقد كشفت عني هما عظيما
Artinya: “Umar berkata “Kebaikan Allah ada padamu wahai Abul Hasan, engkau telah membebaskanku dari kegalauan yang sangat berat.”
Banyak yang meragukan kreibilitas kisah ini, di antaranya adalah sebagaimana dilansir dari dorar.net milik Alawi bin Abdul Qadir al-Segaf yang mengatakan bahwa kisah ini palsu, tidak tercatat di kitab-kitab hadits, dan cenderung sebagai kisah penuh teka-teki, dan karakter kepalsuannya sangat terlihat. Terutama tentang perbedaan redaksi dan ketidak jelasan transmisi sanadnya, mulai dari kutipan Ibnu Athiyah, Ibnul Qayyim, dan Ibnul Jauzi, semuanya mengutip tanpa menyertakan sanad riwayat yang jelas.
Penulis justru menemukan redaksi kisah ini dalam literatur Syi’ah seperti al-Ghadir [shiaonlinelibrary.com. juz 6, hal. 105] karya Abdul Husain al-Amini, dan secara eksplisit, al-Amini menggunakan kisah ini sebagai bahan hinaan kepada Umar, seperti mengatakan bahwa Umar tidak bisa memahami kalam tauriyah, dan hinaan ini sangat tidak pantas bagi martabat seorang Umar bin Khattab.
Karakteristik ke-maudhu’-an kisah tersebut dapat dilihat dari konstruksi logika yang menggambarkan Khalifah Umar sebagai sosok yang terkesan angkuh, temperamental, dan tidak memahami makna dari kata-kata yang disampaikan oleh Hudzaifah.
Hal tersebut tentu sangat bertolak belakang dengan karakter yang dicitrakan oleh para sahabat bahwa Umar adalah salah satu sahabat Nabi yang cerdas dan berilmu tinggi, dan banyak juga hukum-hukum fiqih Islam yang keluar melalui ijtihadnya.
Memahami perkataan Hudzaifah bagi orang sekelas Umar seharusnya merupakan hal yang sederhana, dan sangat tidak mungkin seorang Umar tidak memahami bahkan terpantik untuk meluapkan amarah atas perkataan model tauriyah seperti itu.
Generasi era Umar adalah generasi yang masih memegang kemurnian sastra Arab meskipun belum muncul studi Nahwu dan Balaghah, mustahil bagi Umar jika dia tidak familiar dengan kata-kata penuh sastra, apalagi hakikat tauriyah dari perkataan Hudzaifah terbilang tidak terlalu dalam, dan masih mudah untuk difahami.
Terepas dari kontroversi dan kredibilitas kisah tersebut, hikmah yang bisa dipelajari adalah, tidak seharusnya seseorang berpikiran dan bersikap layaknya “sumbu pendek”. Salah satu ciri orang cerdas adalah tidak memakan perkataan tanpa disaring terlebih dahulu. Tekadang kata-kata yang terlihat salah secara letterlijk, pada kenyataannya benar ketika diinterpretasikan dengan benar.
Editor: Aiz Luthfi


