Dark
Light
Dark
Light

Rasulullah, Teladan dalam Diksi dan Narasi

Rasulullah, Teladan dalam Diksi dan Narasi

Dalam kehidupan modern yang penuh dinamika dan tekanan, kita sering menyaksikan betapa mudahnya seseorang terpancing oleh emosi, mengumbar kata-kata kasar, atau melontarkan pesimisme. Media sosial, ruang publik, bahkan percakapan sehari-hari, kerap diwarnai oleh narasi yang tajam dan penuh kemarahan.

Di tengah derasnya arus ujaran negatif dan kehilangan kendali emosi, sosok Nabi Muhammad SAW tampil sebagai cahaya teladan—seorang pribadi yang senantiasa menjaga lisan, menenangkan suasana, dan menyebarkan harapan.

Diksi yang digunakan Rasulullah SAW bukan hanya mencerminkan keindahan retorika, tetapi juga mengalir dari kedalaman jiwa yang jernih, positif, dan penuh kasih. Beliau tidak hanya fasih dalam menyampaikan kebenaran, tetapi juga mampu merangkai kata yang menyembuhkan dan menenangkan.

Narasi kehidupan beliau adalah narasi keteladanan dalam segala situasi—baik dalam kesenangan maupun kesusahan, dalam kemenangan maupun tekanan. Dalam setiap kondisi, beliau menghadirkan tutur yang sejuk, sikap yang bijak, dan tindakan yang mendamaikan.

Diksi Rasulullah: Indah, Bijak, dan Menenangkan

Nabi Muhammad SAW dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam berbicara. Ungkapan beliau selalu singkat namun sarat makna, sebuah anugerah yang disebut jawāmi’ al-kalim. Dalam setiap tutur katanya, terpantul kearifan, keteduhan, dan ketegasan yang seimbang.

Bahkan saat menghadapi orang-orang yang menyakitinya secara fisik maupun verbal, beliau tetap menjaga lisannya dari kata-kata kasar dan ucapan yang menyakitkan. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih:

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ: إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

Artinya: “Rasulullah SAW tidak pernah berkata keji dan tidak pula berbicara kasar. Sesungguhnya beliau biasa berkata: ‘Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.’” (HR. Bukhari no. 3559)

Setiap diksi yang keluar dari lisan Rasulullah SAW membawa harapan, bukan kehancuran. Ketika seseorang datang dalam kondisi bersalah atau mengakui dosa, beliau tidak menyudutkan atau menghukum secara verbal, tetapi menguatkan hati mereka dengan harapan ampunan dan kebaikan Allah.

Beliau lebih memilih kata-kata yang membangkitkan jiwa, menuntun ke arah perbaikan, dan menjauhkan dari keputusasaan. Itulah sebabnya, ucapan beliau menjadi obat bagi hati yang luka dan cahaya bagi jiwa yang gelap.

Narasi yang Menenangkan dalam Situasi Sulit

Dalam Perjanjian Hudaibiyah, ketika para sahabat marah karena merasa dirugikan dalam isi perjanjian, Rasulullah tetap tenang. Bahkan saat Umar bin Khattab bertanya dengan nada gusar, Rasulullah hanya menjawab lembut:

إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَلَنْ يُضَيِّعَنِي

Artinya: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan Dia tidak akan menelantarkanku.” (HR. Bukhari no. 2732)

Ketika dilempari batu oleh penduduk Thaif, dan Malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka, Rasulullah malah berdoa:

اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

Artinya: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Itulah narasi yang lahir dari hati yang penuh cinta, bukan dendam. Rasulullah selalu memandang setiap kejadian dengan kacamata husnudzan dan kemungkinan kebaikan.

Sikap dan Tindakan yang Penuh Kebaikan

Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW menunjukkan sikap positive-minded. Ketika menghadapi orang munafik, beliau tidak menuduh secara kasar. Ketika seseorang bersalah, beliau memberi nasihat dengan empati dan pendekatan yang lembut.

Diriwayatkan oleh Bukhari:

بيْنَما نَحْنُ في المَسْجِدِ مع رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، إذْ جاءَ أعْرابِيٌّ فَقامَ يَبُولُ في المَسْجِدِ، فقالَ أصْحابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: مَهْ مَهْ، قالَ: قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: لا تُزْرِمُوهُ، دَعُوهُ، فَتَرَكُوهُ حتَّى بالَ، ثُمَّ إنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ دَعاهُ، فقالَ له: إنَّ هذِه المَساجِدَ لا تَصْلُحُ لِشيءٍ مِن هذا البَوْلِ، ولا القَذَرِ، إنَّما هي لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وجَلَّ، والصَّلاةِ، وقِراءَةِ القُرْآنِ، أوْ كما قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، قالَ: فأمَرَ رَجُلًا مِنَ القَوْمِ، فَجاءَ بدَلْوٍ مِن ماءٍ، فَشَنَّهُ عليه.

Artinya: "Ketika kami sedang berada di masjid bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang Arab Badui dan berdiri lalu kencing di dalam masjid. Para sahabat Rasulullah SAW pun berkata, “Mah, Mah (hentikan, hentikan)!” Namun Rasulullah SAW bersabda, “Jangan ganggu dia, biarkan dia menyelesaikannya.” Maka mereka pun membiarkannya sampai selesai kencing. Setelah itu, Rasulullah memanggilnya dan bersabda: “Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk hal seperti ini—yakni buang air kecil atau najis—karena masjid hanya diperuntukkan untuk mengingat Allah SWT, sholat, dan membaca Al-Qur’an.” Kemudian Rasulullah memerintahkan salah satu orang dari kaum yang hadir untuk mengambil seember air, lalu menyiramkan air itu pada bekas kencingnya."

Rasulullah jug senantiasa menebar kabar baik (tabsyir), bukan menakut-nakuti (tanfir), sebagaimana sabdanya:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Artinya: "Permudahlah dan jangan dipersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari." (HR. Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1732)

Tidak Mengumbar Kemarahan di Saat Layak Marah

Salah satu keagungan akhlak Rasulullah SAW adalah kemampuannya menahan amarah di saat orang lain mungkin akan meledak. Beliau tidak pernah menjadikan kemarahan sebagai jalan balas dendam pribadi. Bahkan ketika kehormatan beliau dilukai, beliau tetap memilih maaf dan ketenangan sebagai bentuk kekuatan.

Dalam hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الحَاشِيَةِ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ، فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً، قَالَ أَنَسٌ: حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهَا حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ، فَضَحِكَ، ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ

Artinya: "Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: “Aku berjalan bersama Nabi SAW yang saat itu mengenakan burd (selendang) dari Najran yang tebal pinggirannya. Tiba-tiba seorang Arab Badui datang dan menarik burd itu dengan keras hingga aku melihat bekas tarikan di pundak Rasulullah karena kasar dan kuatnya tarikan tersebut. Kemudian Badui itu berkata, ‘Wahai Muhammad, perintahkan agar aku diberi dari harta Allah yang ada padamu!’ Rasulullah menoleh kepadanya, lalu tersenyum dan memerintahkan agar ia diberi sesuatu.” (HR. Bukhari no. 5809)

Dalam peristiwa Fathu Makkah, saat beliau memiliki kuasa penuh untuk membalas semua perlakuan kaum Quraisy yang telah menyiksanya selama bertahun-tahun, beliau justru menyampaikan sabda yang menggugah:

اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ

Artinya: "Pergilah, kalian semua adalah orang-orang yang telah dimerdekakan (dibebaskan).” (HR. Baihaqi)

Inilah kekuatan seorang Nabi: mampu marah namun memilih untuk memaafkan, punya kuasa membalas namun memilih menyejukkan. Sikap ini bukan kelemahan, melainkan puncak dari kontrol diri dan batin.

Nabi Muhammad  bukan hanya panutan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam seni berbicara, bersikap, dan menarasikan kehidupan secara utuh. Di tengah dunia hari ini yang bising oleh ujaran kebencian, hoaks, dan konten sensasional demi clickbait, keteladanan Rasulullah semakin relevan untuk dihidupkan.

Beliau memilih kata-kata yang menenangkan, bukan membakar emosi; menyampaikan kebenaran dengan kasih, bukan dengan cacian; dan tetap berpikir positif bahkan dalam situasi yang gelap sekalipun.

Dalam setiap percakapan, Rasulullah membangun, bukan meruntuhkan. Beliau menjadi oase dalam kegaduhan, dan pembawa harapan di tengah keresahan. Inilah teladan agung bagi siapa pun yang ingin membangun pribadi yang damai, bijak, dan menebar energi positif di dunia yang semakin bising oleh kemarahan dan ketidakpastian.

Mari kita tiru diksi Rasulullah yang penuh rahmat, narasi beliau yang mendamaikan, serta sikap hidupnya yang membangun harapan dan kepercayaan di tengah derasnya informasi yang menyesatkan. Sebab, sebagaimana sabdanya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)


$data['detail']->authorKontri->kontri

Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo