Arina.id— Syekh Abu Bakar Al-Kattani adalah murid sekaligus sahabat Syekh Junaid Al-Baghdadi. Ia juga seorang ulama sufi terkemuka di Tanah Hijaz yang pernah menjadi guru besar di Makkah. Selain itu, tokoh kelahiran Baghdad yang menetap dan wafat di Makkah pada 322 H ini dijuluki sebagai Pelita Masjidil Haram.
Al-Kattani mengisahkan, saat masih muda pernah melakukan sebuah perjalanan untuk menunaikan ibadah haji. Sebelum berangkat, ia tidak lupa meminta doa dan restu pada ibunya.
"Saat sampai di padang pasir, aku bermimpi hingga mewajibkanku untuk mandi," kata Al-Kattani sebagaimana diungkap oleh Fariduddin ‘At-Thar dalam kitab Tadzkiratul Auliya, (Damaskus: Darul Maktabi, 2009), halaman 508-509.
Peristiwa ini membuat Al-Kattani menjadi ragu untuk melanjutkan perjalanannya ke Tanah Suci. Dalam pikirannya mengatakan, jangan-jangan ada salah satu syarat yang belum ia penuhi. Bisa jadi, ini adalah isyarat yang menandakan bahwa ia belum siap secara lahir dan batin dalam menunaikan ibadah haji tahun ini.
Setelah hati dan pikirannya mantap, ia pun memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan dan kembali pulang ke tanah kelahirannya, Baghdad.
Saat sampai di rumah, ternyata ibunya sedang duduk di balik pintu menanti kepulangan Al-Kattani. Hal itu membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu, bukankah ibu telah mengizinkan aku pergi?" tanya Al-Kattani.
"Iya benar anakku, tapi tanpa kamu di sini, Ibu tak sanggup melihat rumah ini lagi," jelas sang Ibu.
"Sejak kamu pergi, Ibu duduk di tempat ini. Ibu telah bertekad tidak akan bergeser dari tempat ini sebelum kamu pulang kembali," jawab ibunya.
Jawaban ibunya itu membuat hati Al-Kattani terrenyuh. Sejak peristiwa ini, Al-Kattani tidak pernah pergi jauh hingga ibunya meninggal dunia.
Dari kisah ini, ada hikmah yang bisa dipetik pelajarannya bagi umat Islam, yaitu sebelum pergi ke Tanah Suci mesti ada persiapan lahir dan batin, mulai dari kesehatan, mental, bekal, hingga restu dan keikhlasan dari orang-orang yang disayangi, terutama orang tua.
Selain itu, ibadah haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang telah mampu. Pada saat yang sama, berbakti kepada orang tua, terlebih kepada ibu, juga merupakan kewajiban bagi umat Islam.
Dalam situasi ini, Al-Kattani lebih memilih mendahulukan kewajibannya dalam berbakti kepada ibu. Beberapa waktu kemudian, ketika ibunya telah wafat, ia baru melaksanakan kewajibannya menunaikan ibadah haji.
Kisah ini juga mengingatkan pada sosok Uwais Al-Qarni yang terkenal di langit karena pengabdian pada ibunya. Uwais rela mengurungkan niatnya untuk menemui Rasulullah karena memilih berbakti pada ibunya. Wallahu a‘lam.
Editor: Muhammad Zunus


