Surat Ar-Rahman, laksana permata tersendiri dalam Al-Quran. Surat Ar-Rahman memancarkan keindahan dan keagungan tiada tara. Di balik untaian ayatnya yang penuh puitis, tersimpan rahasia dan keutamaan yang luar biasa bagi umat Islam. Bagi orang yang beriman, memahaminya tak hanya menyejukkan hati, tetapi juga membuka pintu menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Syekh Imam Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marah Labib li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid, Jilid II, halaman 475 menjelaskan tentang surat Ar-Rahman tergolong surah Makkiyah, terdiri dari sebanyak 77 ayat, kemudian 351 kata, dan huruf 1.636 huruf.
وتسمى عروس القرآن مكية، سبع وسبعون آية، ثلاثمائة وإحدى وخمسون كلمة، ألف وستمائة وستة وثلاثون حرفا
Artinya; “[Surah Ar-Rahman] dinamakan pengantin Al-Qur’an, tergolong Makkiyah (diturunkan di Mekah), dengan jumlah ayat sebanyak 77 ayat, dengan jumlah 351 kata, dan total 1.636 huruf. [Syekh Nawawi Banten, Tafsir Marah Labib li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid, Jilid II, halaman 475].
Berikut ini 5 keutamaan membaca Al-Quran surah ar-Rahman;
1. Mengingatkan nikmat Allah yang tak terhitung
Di dalam Surat Ar-Rahman, terdapat sebuah kalimat yang diulang sebanyak 31 kali, yaitu “فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ” (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Pengulangan ini bukan tanpa makna, melainkan mengandung pesan yang mendalam dan penuh hikmah.
Syekh Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menjelaskan bahwa pengulangan ini bertujuan untuk mengingatkan manusia dengan kuat tentang nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya. Setiap ayat dalam Surah Ar-Rahman bagaikan jendela yang membuka mata kita terhadap karunia Allah, mulai dari nikmat penglihatan, pendengaran, hingga nikmat rezeki dan kehidupan. Semakin sering kalimat ini diulang, semakin meresaplah kesadaran dalam diri kita tentang betapa besarnya nikmat yang telah Allah berikan.
Selanjutnya, Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa pengulangan ini juga berfungsi untuk menjadikan jin dan manusia mengakui nikmat-nikmat tersebut. Pertanyaan “فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ” merupakan sebuah tantangan bagi jin dan manusia untuk merenungkan kembali nikmat-nikmat yang telah mereka terima. Pengulangan ini seolah mengetuk hati mereka, memaksa mereka untuk mengakui kebesaran dan kemurahan Allah.
Simak penjelasan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Jilid VII, halaman 488 berikut;
وقال أبو جعفر بن جرير : حدثنا محمد بن عباد بن موسى ، وعمرو بن مالك البصري قالا : حدثنا يحيى بن سليم ، عن إسماعيل بن أمية ، عن نافع ، عن ابن عمر ; أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قرأ سورة “ الرحمن “ - أو : قرئت عنده - فقال : “ ما لي أسمع الجن أحسن جوابا لربها منكم ؟ “ قالوا : وما ذاك يا رسول الله ؟ قال : “ ما أتيت على قول الله : ( فبأي آلاء ربكما تكذبان ) إلا قالت الجن : لا بشيء من نعمة ربنا نكذب “
Abu Ja’far bin Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad bin Musa dan Amr bin Malik al-Basri, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Salim, dari Ismail bin A’miyah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca Surat Ar-Rahman - atau dibaca di hadapan beliau - kemudian beliau berkata: “Mengapa aku mendengar jin menjawab Tuhannya dengan lebih baik daripada kalian?”
Para sahabat bertanya: “Apa maksudnya itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Setiap kali aku membaca firman Allah: ‘Fabi ayyi alaai rabbikuma tukadziban?’ (Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?)’, jin-jin itu selalu menjawab: ‘Tidak ada satu pun nikmat dari Rabb kami yang kami dustakan’.” [Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adzhim, Jilid VII, halaman 488].
Pengulangan ini juga menggarisbawahi pentingnya nikmat-nikmat itu. Dengan diulang sebanyak 31 kali, Allah seolah ingin menekankan bahwa nikmat-nikmat tersebut bukanlah hal yang sepele. Nikmat-nikmat itu adalah anugerah yang harus disyukuri dan dijaga dengan baik. Pengulangan ini juga menjadi pengingat bagi manusia untuk tidak kufur nikmat dan selalu bersyukur kepada Allah.
2. Surah yang membuat bangsa Jin beriman kepada Allah setelah mendengarnya
Syekh Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Tafsir Munir, Jilid XXVII, halaman 191 mengutip hadis shahih, diceritakan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad SAW sedang sholat bersama para sahabat. Beliau kemudian membaca Surah Ar-Rahman dengan lantunan suara yang merdu. Kabar bacaan tersebut sampai kepada bangsa jin, yang kemudian berbondong-bondong untuk mendengarkannya.
Surah Ar-Rahman yang penuh dengan pengulangan kalimat “fabi ayyi alai rabbikuma tukadziban” [Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan], membuat para jin tersentak. Mereka menyadari betapa besarnya nikmat dan karunia Allah SWT yang selama ini mereka abaikan. Para jin tersebut pun menyatakan keimanan mereka kepada Allah SWT setelah mendengar keindahan Surah Ar-Rahman.
ما روى عروة بن الزبير قال: أول من جهر بالقرآن بمكة بعد النبي صلى الله عليه وسلم ابن مسعود، وذلك أن الصحابة قالوا: ما سمعت قريش هذا القرآن يجهر به قطّ، فمن رجل يسمعوه؟ فقال ابن مسعود: أنا، فقالوا: إنا نخشى عليك، وإنما نريد رجلا له عشيرة يمنعونه، فأبى، ثم قام عند المقام، فقال: {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. الرَّحْمنُ. عَلَّمَ الْقُرْآنَ} ثم تمادى رافعا بها صوته، وقريش في أنديتها، فتأملوا وقالوا: ما يقول ابن أمّ عبد؟ قالوا: هو يقول الذي يزعم محمد أنه أنزل عليه، ثم ضربوه، حتى أثّروا في وجهه. وصح أن النبي صلى الله عليه وسلم قام يصلّي الصبح بنخلة، فقرأ سورة (الرحمن) ومرّ النفر من الجن، فآمنوا به.
Artinya; Diriwayatkan oleh Urwah bin Zubair bahwa orang pertama yang membacakan Al-Quran secara terang-terangan di Mekkah setelah Rasulullah SAW adalah Abdullah bin Mas’ud.
Para sahabat berkata, “Kaum Quraisy belum pernah mendengar Al-Quran dibacakan secara terang-terangan. Siapa yang berani melakukannya agar mereka bisa mendengarnya?”
Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Saya!” Para sahabat berkata, “Kami khawatir keselamatanmu. Kami ingin orang yang memiliki keluarga yang kuat untuk melindunginya.”
Namun, Abdullah bin Mas’ud menolak dan tetap teguh pendiriannya. Dia kemudian berdiri di dekat Ka’bah dan berkata, “Bismillahirrahmanirrahim. Arrahman. Alladzi ‘allamal Qur’an.” (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Rahman. Yang mengajarkan Al-Quran.)
Dia melanjutkan membaca dengan suara keras, sementara kaum Quraisy duduk-duduk di majelis mereka. Mereka memperhatikannya dan berkata, “Apa yang dikatakan Ibnu Umm Abd (panggilan Abdullah bin Mas’ud)?” Mereka menjawab, “Dia membaca apa yang Muhammad SAW katakan sebagai wahyu yang diturunkan kepadanya.” Kaum Quraisy kemudian memukulnya hingga wajahnya memar.
Telah shahih bahwa Rasulullah SAW melaksanakan sholat Subuh di bawah pohon kurma. Beliau membaca Surat Al-Rahman, dan sekelompok jin pun mendengarkannya dan beriman kepada beliau. [Syekh Dr. Wahbah az-Zuhaili, kitab Tafsir Munir, Jilid XXVII, [Beirut: Darul Fikri, 1991], halaman 191].
3. Pengantin Al-Qur’an
Menurut Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marah Labib li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid, Jilid II, halaman 475, surah Ar-Rahman dijuluki sebagai pengantin Al-Qur’an. Julukan ini diberikan karena keindahan dan keistimewaannya. Surah ini membahas tentang berbagai topik, termasuk kebesaran Allah, balasan akhirat, dan pentingnya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan.
لكل شيء عروس، وعروس القرآن: سورة الرحمن
Artinya; Setiap sesuatu memiliki pengantinnya, dan pengantin Al-Qur’an adalah Surah Ar-Rahman. [HR. Imam Baihaqi].
Lebih lanjut, Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitab Tafsir Munir, Jilid XXVII, halaman 193, menjelaskan bahwa surah Ar Rahman, bagaikan mutiara di antara surah-surah Al-Qur’an, tergolong dalam surah Makkiyah yang tersohor dengan ayat-ayatnya yang singkat, penuh makna, dan membekas di hati pembacanya. Surah ini membangkitkan rasa kagum dan ketakutan akan kebesaran Allah SWT, serta mengantarkan kita pada tema-tema fundamental aqidah Islam.
سورة الرحمن كسائر السور المكية المتميزة بقصر آياتها، وشدة تأثيرها ووقعها، ومزيد رهبتها، والمتعلقة بأصول الاعتقاد وهي التوحيد وأدلة القدرة الإلهية، والنبوة والوحي، والقيامة وما فيها من جنة ونار، وآلاء ونعم، وشدائد وأهوال.
Artinya; Surah Ar-Rahman, seperti halnya surah-surah Makkah lainnya, terkenal dengan ayat-ayatnya yang pendek, penuh pengaruh dan berkesan, serta penuh keagungan. Surah ini membahas tentang dasar-dasar keimanan, yaitu tauhid, bukti-bukti kekuasaan Allah, kenabian dan wahyu, hari kiamat dan apa yang ada di dalamnya, surga dan neraka, nikmat dan karunia, serta kesulitan dan kesengsaraan.” [Syekh Dr. Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Munir, Jilid XXVII, [Beirut: Darul Fikri, 1991], halaman 193].
4. Pembacanya akan Masuk Surga Firdaus
Imam Suyuthi dalam kitab Durrul Mantsur Fi Tafsir al Ma’tsur, Jilid XIV, halaman 100 menjelaskan Surah ar Rahman merupakan surat yang istimewa bagi umat muslim. Keutamaan membacanya adalah dijanjikan masuk ke dalam surga Firdaus, yang merupakan level tertinggi dari surga. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda,
عن فاطمة قالت : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : «قارئ الحديد و(إذا وقعت) و(الرحمن) يدعى في ملكوت السماوات والأرض ساكن الفردوس» .
Artinya; “Fatimah berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Pembaca surat Al-Hasyr, Al-Waqi’ah, dan Ar-Rahman akan dipanggil di kerajaan langit dan bumi sebagai penghuni surga Firdaus.”[H.R Baihaqi]
Ketiga surat ini memiliki keutamaan tersendiri, namun Surah ar Rahman secara khusus memiliki keindahan bahasa yang memukau dan menggambarkan nikmat-nikmat yang ada di surga. Membaca Surah ar Rahman secara rutin dapat menjadi pengingat bagi kita tentang kenikmatan yang kekal di akhirat. Pun keindahan surat ini dapat membuat hati kita semakin bersyukur atas limpahan rahmat Allah SWT di dunia.
5. Surah tentang Kasih Sayang Allah pada Hamba-Nya
Syekh Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsir Munir, Jilid XXVII, halaman 193 mengatakan salah satu keistimewaannya terlihat langsung pada ayat pertamanya, di mana Allah SWT memperkenalkan diri-Nya dengan lafaz الرحمن (Ar-Rahman), yang berarti Yang Maha Pengasih.
Pembukaan surah ini dengan nama Ar-Rahman menjadi penegasan tentang kasih sayang, karunia, dan nikmat yang Allah limpahkan kepada manusia dan seluruh makhluk di alam semesta. Lafaz ini bukan hanya sekedar nama, tetapi mengandung makna mendalam tentang sifat Allah SWT yang penuh kasih sayang dan senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada semua ciptaan-Nya.
Dengan kata lain, Surah Ar Rahman mengajak kita untuk merenungkan betapa luasnya rahmat Allah SWT. Rahmat-Nya tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi juga meliputi seluruh alam semesta, mulai dari langit dan bumi hingga makhluk terkecil yang hidup di dalamnya.
ختمت السورة السابقة ببيان صفتين لله عز وجل يدلان على الهيبة والرهبة والعظمة وهما (المليك المقتدر) أي ملك عظيم الملك، قادر عظيم القدرة، وابتدئت هذه السورة بصفة أخرى بجوار ذلك وهي صفة (الرحمن) وبيان مظاهر رحمته وفضله ونعمه على الإنسان وفي الكون كله سمائه وأرضه، فهو سبحانه عزيز شديد مقتدر بالنسبة إلى الكفار والفجار، رحمن منعم غافر للأبرار
Artinya; Surah sebelumnya diakhiri dengan penjelasan dua sifat Allah SWT yang menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya, yaitu (الْمَلِكُ الْمُقْتَدِرِ) yang berarti Raja yang Agung, Maha Kuasa. Surah ini dimulai dengan sifat lain yang berdampingan dengannya, yaitu sifat (الرَّحْمَنِ) dan penjelasan wujud kasih sayang, karunia, dan nikmat-Nya kepada manusia dan seluruh alam semesta, langit dan bumi. [Syekh Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Tafsir Munir, Jilid XXVII, [Beirut: Darul Fikri, 1991], halaman 193]
Untuk itu, pelbagai keistimewaan Surah Ar Rahman ini menjadikannya surah yang sangat dianjurkan untuk dibaca, dipelajari, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan merenungkan makna dan kandungan surah ini, diharapkan kita dapat semakin meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT dan selalu berusaha untuk menjadi hamba yang bersyukur dan taat kepada semua perintahnya. Wallahu a’lam
Editor: Muhammad Zunus


