Usai melaksanakan tawaf wada saat menjelang fajar di hari Selasa tanggal 14 Dzulhijjah 10 H, Rasulullah melaksanakan sholat Shubuh berjamaah dengan rombongan, sahabat Bilal menjadi muadzinnya. Sholat Shubuh ini sangat terkesan karena menjadi sholat terakhir Rasulullah yang dilaksanakan langsung di hadapan Ka'bah.
Demikian salah satu gambaran detik-detik terakhir Rasulullah berada di Masjidil Haram yang diungkap oleh Imam Ghazali Said dalam buku Manasik Umrah dan Haji Rasulullah (Surabaya, UIN Press: 2017) halaman 228.
Meski tidak sedetail saat berangkat ke Makkah, dalam buku tersebut Imam Ghazali Said memotret perjalanan pulang haji Rasulullah menuju Madinah. Bisa jadi, tidak dirincikannya perjalanan ini karena rute yang ditempuh masih tetap sama.
Imam Ghazali Said menjelaskan, beberapa saat setelah sholat Shubuh berjamaah, Rasulullah dan rombongan mulai bersiap untuk pulang ke Madinah. Mereka pun keluar dengan tertib dari Masjidil Haram menuju kawasan rendah Makkah yang saat ini terkenal dengan Shubaykah melalui Misfalah.
Perjalanan pulang ke Madinah ini ditempuh melalui kawasan Kuday. Rasulullah dan rombongan kemudian sampai dan istirahat di Dzi Tuwa, tempat yang selalu disinggahi Rasulullah setiap berkunjung ke Makkah.
Setelah menempuh perjalanan selama 5 hari (14-18 Dzulhijjah), Rasulullah dan rombongan berhenti dan istirahat di Gadirkhum. Di tempat ini Rasulullah menyampaikan khutbah penting mengenai sayyidina Ali bin Abi Thalib yang di kemudian hari menjadi sumber perselisihan antara kelompok Sunni dan Syiah.
Khutbah di Gadirkhum ini juga memberi isyarat bahwa Rasulullah akan meninggalkan umat Islam. Prediksi ini kemudian menjadi kenyataan, sebab Rasulullah wafat tepat 88 hari setelah kepulangannya dari ibadah haji.
Selain itu, dalam khutbah ini juga diisyaratkan bahwa setelah Rasulullah wafat akan terjadi polemik di antara para sahabatnya, terutama dalam hal kepemimpinan. Ali akan masuk di antara para sahabat yang ikut terlibat dalam persoalan kepemimpinan politik pasca Rasulullah wafat. Hal ini terbukti dengan munculnya kelompok Syiah dan Khawarij, termasuk Sunni.
Berikut ini khutbah Rasulullah di Ghadirkum pada hari Ahad 18 Dzulhijjah 10 H:
يا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ قَدْ تَبأَنِي اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ أَنَّهُ لَمْ يَعْمُرُ نَبِيُّ إِلَّا نِصْفَ عُمْرِ الَّذِي يَلِيْهِ مِنْ قَبْلِهِ، وَإِنِّي لَأَظُنُّ يُوشِكُ أَنْ أَدْعَى فَأُجِيْبَ وإنِّي مَسْؤُوْلٌ، وَأَنتُمْ مَسْؤؤلُوْنَ، فَمَاذَا أَنتُمْ قَاتِلُونَ؟ قَالُوا : نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَغْتَ وَجَهِدْتَ، وَنَصَحْتَ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. قال: أَلَيْسَ تَشْهَدُوْنَ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ جَنَّتَهُ حَقٌّ، ونَارَهُ حَقٌّ، وأنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ، وَأَنَّ البَعْثَ حَقٌّ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَ أَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيْهَا، وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي القُبُورِ ؟ قَالُوا: بَلَى نَشْهَدُ بِذَلِكَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اشْهَدُ ثُمَّ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ مَوْلاَىَ، وَأَنَا مَوْلَى الْمُؤْمِنِينَ، وَأَنَا أَوْلَى بِهِمْ مِنْ أنْفُسِهِمْ، فَمَنْ كُنْتُ مَوْلاهُ فَهَذَا مَوْلَاهُ - يَعْنِي عَلِيًّا رَضِيَ الله عنه - اَللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ، وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ ثُمَّ قَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إلَى فَرَطٌ، وَأَنتُمْ وَارِدُوْنَ عَلَى الْحَوْضِ، حَوْضِي مَا بَيْنَ بَصَرِى إلى صَنْعَاءَ فِيهِ عَدَدَ النُّجُومِ قَدَحَانِ مِنْ فِضَّةٍ، وَإِنِّي سَائِلُكُمْ عَنِ الثَّقَلَيْنِ، فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخَلَّفُونِي فِيهِمَا النَّقْلِ الْأَكْبَرِ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَبَبُ طَرْفُهُ بِيَدِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَطَرْفُهُ بِأَيْدِيكُمْ فَاسْتَمْسِكُوْا بهِ لا تَضِلُّوْا، وَلَا تَبَدِّلُوا، وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي، فَإِنَّهُ قَدْ نَبَّأَنِي اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ أَنَّهُمَا لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَى الْحَوْضِ
Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya Allah yang Maha Lembut dan Maha Pakar telah memberi informasi kepadaku bahwa tidak seorang Nabi pun yang diberi umur pasti separuh umurnya itu bagi orang-orang yang sebelum dan sesudahnya. Sungguh aku menduga bahwa diriku akan dipanggil dan aku akan meresponsnya. Sungguh aku bertanggung jawab dan kalian semua harus bertanggung jawab. Kata-kata apa yang akan kalian ucapkan? Mereka menjawab: Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan telah berjuang dengan susah payah. Kalian telah memberi nasehat semoga Allah memberi balasan kebaikan pada kalian. Nabi bersabda: Bukankah kalian bersaksi bahwa Tuhan yang ada itu hanya Allah, Muhammad itu adalah hamda dan Rasul-Nya, surga dan neraka-Nya itu benar, kematian itu benar, bangkit setelah kematian itu benar, tanpa diragukan lagi kiamat itu pasti terjadi, dan Allah pasti membangkitkan orang-orang yang ada di dalam kuburan? Mereka menjawab: Ya kami bersaksi seperti itu. Nabi merespons; Ya Allah saksikanlah!. Kemudian beliau melanjutkan; wahai manusia sungguh Allah itu Tuanku dan aku tuan orang-orang yang beriman. Aku lebih mencintai mereka dibandingkan diri mereka sendiri. Barang siapa yang menjadikan aku sebagai tuannya, maka orang ini adalah kekasihnya (maksudnya adalah Ali bin Abi Thalib) Ya Allah! Kasihanilah orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya. Kemudian beliau melanjutkan Wahai manusia sungguh aku punya keinginan ideal sedang kalian mendatangi telaga. Telagaku itu memanjang antara kawasan jangkauan pengelihatanku sampai ke kota San’a. Dalam telaga itu ada sejumlah bintang, dua bejana terbuat dari perak, aku mohon pada kalian untuk menjaga dua pusaka. Perhatikan dan pikirkan bagaimana cara kalian menjaga dua pusaka itu. Pusaka terpenting adalah kitab Allah yang Maha Jaya dan Agung. Ujung kitab itu berada di “tangan” Allah sedang ujung kitab yang lain berada di tangan kalian. Jika kalian berpegang teguh pada isi kitab itu pasti kalian tidak akan tersesat, dan janganlah kalian mengubah isi kitab itu. Sedang pusaka yang kedua adalah sanak dan keluargaku. Sungguh zat yang Maha Lembut dan Pakar telah memberi informasi padaku bahwa dua pusaka tersebut tidak akan terpisah sehingga keduanya mendatangi telaga”
Usai Rasulullah dan rombongan istirahat sekaligus menyampaikan khutbah di Gadirkhum, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah tiba di Zulhulaifah, mereka berhenti sekaligus bermalam di sana. Keesokan harinya rombongan berangkat lagi, sehingga mereka melihat perkampungan kota Madinah dan Rasulullah langsung mengumandangkan takbir.
Kemudian Rasulullah dan rombongan memasuki kota Madinah melalui jalan Mu’arris, berbeda dengan ketika beliau berangkat menuju Mekah, beliau keluar melalui jalan al-Syajarah. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah jika keluar atau masuk Madinah selalu melalui tempat ini untuk sholat sekaligus istirahat.
Inilah yang menjadi dasar para fuqaha bahwa kaum Muslim yang melakukan perjalanan jauh disunnahkan untuk menempuh jalan yang berbeda antara berangkat dari dan pulang ke tempat tinggal asalnya. Demikian juga kaum Muslim yang ingin melakukan ibadah ke masjid, disunahkan menempuh jalan yang berbeda antara berangkat dan pulangnya.
Setibanya di Madinah, Rasulullah dan rombongan sholat dan istirahat di masjid Nabawi. Sesaat kemudian, tiap individu pulang ke rumah masing-masing. Karena rumah Rasulullah menempel dengan masjid, usai sholat dan istirahat beliau langsung masuk ke rumahnya yang sangat sederhana. Saat ini rumah tersebut menjadi pemakaman Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khatthab.
Dengan demikian, rute perjalanan pulang haji Rasulullah tidak jauh berbeda dengan saat berangkat ke Makkah, hanya di perjalanan awal dan akhir yang membedakannya. Adapun rute perjalanan pulang haji Rasulullah adalah sebagaimana berikut:
Makkah > Dzi Thuwa > Sarif > Marruzzahrain > Kiraulghanim > Usfan > Qudaid > Ghadirkum > Juhfah > Abwa > Suqya > Al-Qahah > Lahyul Jamal > Al-Arj > Al-Ashabah > Muta‘asya > Musarif > Syaraf Ruha > Irquzzibyah > Sayyalah > Malal > Dzulhulaifah > Madinah.
Itulah perjalanan pulang haji Rasulullah yang memiliki dinamika, terutama saat istirahat di Ghadirkum. Walau dilalui dengan berbagai peristiwa dan dinamika, pada akhirnya Rasulullah dan rombongan bisa melaksanakan misi haji dan kembali ke Madinah dengan lancar dan selamat. Wallahu a‘alam.
Editor: Muhammad Faizin


