Dark
Light
Dark
Light

5 Nilai dan Tujuan Utama Ibadah Haji

5 Nilai dan Tujuan Utama Ibadah Haji

Para ulama menegaskan bahwa Allah swt tidak mungkin memberi ketentuan syariat kecuali di dalamnya memiliki maksud dan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan tersebut kemudian dikenal dengan istilah maqashid. Kita mengenal, Maqashid al-Syariah, yakni tujuan dalam syariat-syariat Allah swt. 

Pada artikel ini, dijelaskan nilai, maksud, dan tujuan disyariatkannya ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang kelima. Setidaknya adalah 5 maqashidul hajj tujuan disyariatkannya ibadah yang hanya bisa dilakukan di Tanah Suci Makkah ini.

1. Sebagai Madrasah

Haji adalah “madrasah” untuk melatih keikhlasan dan pengesaan pada Allah swt. dalam al-Quran, Allah berfirman: 

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ 

Artinya: “Dan tunaikanlah haji dan umrah (hanya) karena Allah swt”. (al-Baqarah: 196)

Al-Qasimi dalam Mahasin al-Ta’wil menafsiri ayat ini dengan: “Tunaikanlah ibadah haji dengan cara yang sempurna sebagaimana ia telah disyariatkan hanya untuk Allah semata”. 

Ikhlas bermakna “kosong” dalam artian perbuatan yang kita lakukan kosong, tidak terikat dan terkait dengan hal apapun kecuali Allah. Ikhlas adalah pekerjaan hati dan tidak ada yang mengetahui kecuali pelaku dan Allah langsung. Dalam Ikhlas ada pengesaan pada Allah swt. 

2. Ekspresi Kepatuhan

Haji adalah bentuk ekspresi kepatuhan dan ketundukan pada Allah swt.  Jika boleh jujur, hampir semua aktivitas ibadah haji adalah aktivitas “yang tidak masuk akal”. Bayangkan saja, anda hanya memakai dua lembar pakaian ihram, tidak boleh memakai wewangian, tawaf berputar-putar tujuh kali mengelilingi Ka'bah, bolak-balik berjalan (sai) dari bukit Shafa ke Marwah, berdiam diri di Arafah (wukuf), melempar batu dan seterusnya. 

Dalam ibadah-ibadah tersebut, tidak ada bacaan yang harus dibaca. Jika ada konteksnya hanya sunnah tidak sampai wajib yang menyebabkan haji tidak sah. Bahkan, wukuf, sesuatu yang amat krusial di dalam ibadah haji, hanya aktivitas berdiam diri meski hanya sejenak. Tidak ada perintah membaca sesuatu, tidak pula disyaratkan suci dari hadats. Hanya berdiam di tanggal 9 bulan Dzulhijjah di sebuah bukit bernama Arafah. 

Kesemua hal tersebut, tentu jika bukan karena perintah Allah swt, tentu kita bisa bertanya: "Kenapa aktivitas haji hanya seperti ini?. Sehingga dalam hal ini, kita dituntut hanya merendah dan tunduk patuh pada Yang Maha Segalanya. 

Dalam sebuah hadits, Nabi saw. bersabda: 

لبيك بحج حقا تعبدا ورقا 

Artinya: “Ya Allah, kami datang menyambut panggilanMu dengan sepenuhnya penghambaan”

3. Menahan Diri

Haji mengajarkan manusia untuk menahan diri. Menahan diri dari apa? Dari perbuatan buruk dan tercela. Disebut dalam al-Qur’an: 

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

Artinya: “Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡt, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya.” (Qs. Al-Baqarah 187)

Rafats adalah jimak dan atau permulaan-permulaannya (muqaddimah). Fusuq adalah hal-hal terlarang yang harus ditinggalkan ketika ihram dan terakhir. Jidal bisa dimaknai bertengkar atau mencari permusuhan. 

4. Mengingat Akhirat

Haji adalah miniatur untuk perjalan akhirat. Dalam surat Al-Baqarah ayat 196 disebutkan bahwa orang yang berhaji hendaklah membawa bekal. Dan bekal yang terbaik untuk ibadah haji adalah ketakwaan pada Allah swt. Jika jemaah haji, yang hanya dilakukan dalam beberapa hari saja, diingatkan oleh Allah untuk membawa bekal, maka bagaimana dengan perjalanan menuju akhirat yang selamanya? Maka bekal yang banyak lebih dibutuhkan. 

5. Belajar Kesetaraan

Haji mengajarkan konsep egaliter dan kesetaraan antar sesama manusia. Allah swt berfirman: 

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 

Artinya: “Kemudian, bertolaklah kamu dari tempat orang-orang bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs Al-Baqarah 199)

Sayyid Qutb menafsiri di atas dengan:

قِفُوا معهم حيث وَقَفوا، وانصرِفوا معهم حيث انصرَفوا، إنّ الإسلام لا يعرف نَسبًا، ولا يعرف طبقةً، إنّ الناس كلّهم أمة واحدة، سواسية كأسنان المشط، لا فضل لأحد على أحد إلا بالتقوى، ولقد كلَّفهم الإسلام أن يتجرّدوا في الحج من كلّ ما يميزهم من الثياب، ليلتقوا في بيت الله إخوانًا متساوِين، .... الى أن قال: هكذا يقيم الإسلام سلوك المسلمين في الحج، على أساس من التصوّر الذي هدى البشرية إليه، أساس المساواة، وأساس الأمة الواحدة التي لا تفرقها طبقة، ولا يفرقها جنس، ولا تفرقها لغة، ولا تفرقها سمة من سمات الأرض جميعًا.

Artinya: "Berdirilah kalian di mana-mana orang-orang berdiri dan bergegas pergi saat orang-orang bergegas pergi. Karena sesungguhnya Islam tidak mengenal nasab (sebagai status sosial) dan Islam juga tidak mengenal kasta. Semua manusia adalah satu komunitas yang sama, setara seperti gigi sisir, tidak ada keutamaan bagi seseorang atas seseorang kecuali dengan ketakwaan. Dalam haji, semua atribut yang bisa dianggap sekat pemisah seperti baju harus dilepas. Agar semua orang bisa bersaudara dan setara menghadap Allah dengan atribusi yang sama..... Demikianlah Islam memberi penjelasan tentang haji dengan dasar petunjuk nabi tentang asas kesetaraan, asas persatuan, tanpa sekat kasta pembeda, tidak dibedakan oleh jenis kelamin, bahasa dan corak-corak pembeda di bumi."

Demikian 5 Maqashidul hajj atau nilai dan tujuan utama dari ibadah haji yang tentu masih banyak nilai-nilai lain yang bisa digali dari teks Al-Quran dan Sunnah nabi terkait rahasia dan spirit dari ibadah haji ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bisshawab (Husain Fahasbu)


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Husain Fahasbu
Pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur. Nominator Kepustakaan Islam Award 2024 Kementerian Agama Kategori Penulis Masyarakat.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo