Arina.id - Dalam tarikh perjalanan wangsa atau Bani Israel dan Musa ada satu sosok yang namanya disebut-sebut sebagai orang sakti, memiliki kelebihan setara Nabi--namun bukan dari kalangan Bani Israel. Sosok ini terkenal sebab doanya mustajabah selalu dikabulkan oleh Allah. Dalam kisah dalam agama Yahudi, orang ini bernama Bileam bin Beor.
Bileam dikaitkan dengan kisah perjalanan Bani Israel menuju tanah yang dijanjikan. Ramalan dan cerita Bileam ini masuk dalam Kitab Bilangan atau Pentateukh--bagian dari Taurat, Perjanjian Lama. Namanya juga disinggung dalam Perjanjian Baru Umat Nasrani. Bileam muncul dalam Bilangan pasal 22-24. Ia digambarkan tinggal di Petor, kawasan di tepi Sungai Efrat.
Kisah yang terkenal adalah perjalanan Bileam dan Raja Balak bin Zipor dari Kerajaan Moab. Balak meminta Bileam yang dikenal mustajab doanya agar mengutuk Musa dan Bani Israel. Bileam awalnya tidak mau sebab dalam mimpinya dilarang oleh Allah.
Namun karena terus dipaksa dan diiming-imingi harta akhirnya dia mau menemani Raja Moab itu mendoakan buruk Musa dan Bani Israel. Akan tetapi Bileam memberi syarat kepada Balak, bahwa dalam doanya--memenuhi permintaan Balak mengutuk Bani Israel--itu ia akan berkata sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah.
Dalam kutukan pertama, Bileam justru memberkati Bani Israel. Raja Balak pun protes kemudian memintanya mengutuk Musa dan Bani Israel kedua kainya. Kutukan kedua yang diucapkan Bileam justru lagi-lagi berisi pemberkatan sesuai perintah Allah. Raja Balak pun geram dan memintanya membuat kutukan ketiga namun hasilnya pun sama. Bileam menegaskan, bahwa ia sudah mengatakan sejak awal hanya akan mendoakan Musa dan Bani Israel sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah.
Alhasil, dalam tiga kali permintaan kutukan kepada Musa dan Bani Israel, Bileam justru diperintahkan Allah memberkati umat Musa tersebut. Sampai akhirnya Raja Balak frustasi dan meminta Bileam pulang. Tiga kutukan Bileam ini kemudian diabadikan dalam Kitab Bilangan. Bilangan sendiri merujuk pada kitab ke empat dalam Perjanjian Lama yang termasuk dalam kelompok Pentateukh.
Dalam Bahasa Ibrani, kitab ini juga disebut Sefer Bemidbar, yang berarti: di padang gurun. Nama "bilangan" berasal dari bahasa Yunani Arithmoi, yang berarti angka atau jumlah, karena kitab ini mencatat sensus bangsa Israel dan perjalanan bangsa mereka selama 38 tahun di padang gurun menuju Tanah Perjanjian.
Bileam dalam Islam dikaitkan dengan sosok Bal'am
Sementara itu dalam agama Islam, dalam tarikh perjalanan wangsa Israil ini juga ada kisah tentang ulama yang mustajab doanya bernama Bal'am bin Ba'ura. Nama Bal'am sendiri memang tidak disebut langsung dalam Alquran, terutama dalam Surat Al-A'raf yang mengisahkan tentang Nabi Musa dan umat Yahudi. Akan tetapi beberapa Mufasir mengaitkan sosok Bal'am dengan QS Al-A'raf ayat 176.
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
"Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (Q.S. Al-A’raf: 176)."
Malik bin Dinar, ahli hadits murid dari Hasan Al-Bashri berkata bahwa Bal’am merupakan seorang ulama dari Bani Israil. Ia selalu dimintai pertolongan dalam keadaan sulit karena doanya mustajab. Nabi Musa pernah mengutusnya mendatangi Raja Madyan supaya beriman kepada Allah. Namun sayangnya, Bal’am tergiur dengan hadiah dan harta yang disodorkan Raja Madyan agar ia meninggalkan agama Nabi Musa. (Tafsir al-Munir, 9/164).
Kisah ini juga diabadikan dalam "Silsilah Qishash min Al-Qur’an al-Karim: Qishshah Bal’am bin Ba’ura alladzi Syabbaha Allah Subhanahu wa Ta’ala bi al-Kalb" karya Abdurrahim Mardiny & Abdurrazaq Musthafa Kiylu.
Adapun dalam Tafsir ath-Thabari, 13/262, Ayat 176 Surat Al-A'raf juga dijelaskan kalau sosok yang disinggung dalam ayat tersebut adalah ulama Bani Israil di masa Nabi Musa bernama Bal’am bin Ba’ura. Abu al-Mu’tamar mendapat cerita dari ayahnya tentang ayat ini, bahwa dulu ada seseorang bernama Bal’am, dan dia diberikan kenabian dan kelebihan doa yang mustajabah.
Dalam laman website tafsiralquran, Bal'am disebut sangat tinggi ilmunya dan dihormati banyak orang. Namun, ia akhirnya justru terjerumus dalam kesesatan dan kebinasaan. Kisah ini bermula ketika Nabi Musa hendak mendatangi negeri tempat tinggal Bal’am dan berperang melawan penduduknya kafir. Penduduk negeri tersebut meminta Bal’am berdoa dan mengutuk Nabi Musa sebab doanya selalu dikabulkan Allah.
Mulanya, Bal’am menolak permintaan mereka. Namun, setelah didesak, akhirnya setuju mendoakan kejelekan kepada Musa dan kaumnya. Bedanya, dalam tarikh Islam, doa Bal'am ini dikabulkan Allah, sehingga Musa beserta kaumnya tersesat di kawasan Tih (Sinai) selama 40 tahun. Sampai tiba giliran Nabi Musa memohon kepada Allah agar siapapun yang menghalangi dakwahnya agar sesatkan.
Doa Nabi Musa juga dikabulkan Allah. Bal’am pada akhirnya hilang kemuliaannya, tercabutlah keimanannnya, sehingga mati dalam keadaan kufur. Demikian seperti dituliskan Zainuri Ihsan dalam bukunya Mujahadah: Bacaan dan Amalan Penting untuk Mempercepat Terkabulnya Hajat.
Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id
Editor: Muhammad Taufiq


