Dark
Light
Dark
Light

Kisah Perjamuan Terakhir (The Last Supper) dalam Perspektif Islam

Kisah Perjamuan Terakhir (The Last Supper) dalam Perspektif Islam

Surah Al-Maidah atau yang berarti hidangan terkait erat dengan peristiwa Nabi Isa atau Yesus bersama pengikutnya (Hawariyyin) dalam perjamuan terakhir (The Last Supper). Hidangan yang dimaksud dalam surah ini adalah salah satu anugerah Allah yang diberikan kepada hamba dan rasul-Nya, yaitu Isa AS ketika dia memperkenankan doanya yang memohon agar diturunkan hidangan dari langit. Maka Allah SWT menurunkannya sebagai mukjizat yang cemerlang dan hujjah yang nyata.

Dalam ajaran dan keyakinan Islam, Isa atau Yesus adalah seorang nabi sebagaimana nabi-nabi lain yang diberi tugas untuk menyampaikan risalah dari Allah kepada umat manusia. Secara khusus, Isa AS hanya menjadi nabi yang diutus untuk orang Yahudi yang telah berpaling dari ajaran Ibrahim AS. Di dalam Al-Qur’an, nama Yesus atau Isa disebut sebanyak 37 kali dalam ayat-ayat yang tersebar dalam 15 surat.

Isa AS diberi gelar di antaranya al-Masih, Ruhullah dan abd-Allah. Pemberian sejumlah titel tersebut menunjukkan keistimewaan Isa AS sebagai manusia pilihan Allah.

Al-Masih secara bahasa berasal dari kata masaha yamsahu mashan yang artinya mengusap, menghapus atau pergi. Kata al-Masih juga memiliki ragam makna jika dikaitkan dengan kalimat lainnya (al-Munjid fi Lughati wa al-A‘lam, 758, al-Munawir, 1332, Lisan al-‘Arab, 4197). Kata al-Masih berasal dari bahasa Ibrani, artinya adalah berkah, yakni keberkahan yang diberikan kepada para nabi atau orang yang meniadakan kedzaliman dan memberikan petunjuk untuk manusia (Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, II/250-251). Gelar ini disematkan kepada Isa AS untuk menunjukkan perbedaan pribadinya dariada manusia lain, karena dia adalah rasul Allah.

Sementara gelar ruhullah atau ruh dari Allah yang disandang Isa AS karena ia langsung diciptakan Allah dengan meniupkan ruh ke dalam rahim Maryam. Julukan abd-Allah (abdi Allah atau hamba Allah) yang disandang Isa AS, menunjukkan bahwa Isa AS adalah seorang hamba yang harus taat dan tunduk hanya kepada Allah.

Dalam keyakinan orang-orang Nasrani, terdapat kisah tentang Perjamuan Terakhir, yang oleh umat Kristiani diperingati sebagai Kamis Putih. Perjamuan Terakhir menjadi dasar Alkitab untuk Ekaristi, yang juga dikenal sebagai “Perjamuan Kudus” atau “Perjamuan Tuhan.” 

Singkatnya, kisah Perjamuan Terakhir menceritakan Yesus bersama dua belas muridnya melaksanakan makan malam terakhir sebelum ia ditangkap di Taman Getsemani dan akhirnya mengalami penyaliban dan dibangkitkan. Dalam Perjamuan Malam Terakhir, Yesus mengambil roti dan anggur sebagai lambang pemberian diri dan hidupNya bagi para muridNya.

Sementara dalam Islam, kisah yang disebut Perjamuan Terakhir tersebut merupakan kisah di mana Allah menunjukkan mukjizat Nabi Isa AS dengan menurunkan makanan dari langit sebagai bukti kenabian dan kerasulan Nabi Isa AS. Kisah ini terekam secara khusus dalam Al-Qur’an QS. Al-Maidah ayat 112 sampai 115.

Tafsir Ibnu Katsir pada Surah. Al-Maidah Ayat 112-115

Al-Maidah adalah surah ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 120 ayat dan tergolong ke dalam surah Madaniyah. Surah Al-Maidah juga memiliki beberapa nama lain di antaranya Al ‘Aqud (perjanjian) dan Al Munqidzah (penyelamat).

Disebutkan "Ma'idah" dalam surah ini yang berarti "hidangan", maka kata tersebut telah disepakati menjadi nama bagi surah ini, yaitu Surat al-Ma'idah/5. Kata-kata yang dipakai menjadi nama bagi surah-surah Al-Qur'an kebanyakan diambil dari suatu kata yang terdapat di dalam surah bersangkutan, yang berkenaan dengan suatu hal yang amat penting, misalnya: nama surah Al Maidah dan Surah al-Baqarah. Adakala sebuah nama surah diambil dari kata-kata lain yang tidak terdapat dalam surah itu tetapi menunjukkan dengan jelas isi surah tersebut, misalnya nama Surah al-Ikhlas/ 112.

Al-Maidah turun setelah surat Al-Fath, yang menandai turunnya wahyu-wahyu terakhir di Madinah, yang berisi tentang perkara yang dihalalkan dan yang haram. Surat Al-Maidah adalah satu-satunya surah yang mengisahkan pengikut nabi Isa AS yang meminta agar diturunkan hidangan dari langit. Kisah ini termaktub secara eskplisit pada ayat 112-115 sebagai berikut:

Ayat 112:

اِذۡ قَالَ الۡحَـوَارِيُّوۡنَ يٰعِيۡسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيۡعُ رَبُّكَ اَنۡ يُّنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآٮِٕدَةً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰهَ اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ‏

Artinya: (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, "Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?" Isa menjawab, "Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman."

Pada ayat ini Allah menceritakan bahwa kaum hawariyyin (pengikut Nabi Isa) pernah menanyakan kepada Nabi Isa, “apakah Allah dapat menurunkan kepada mereka suatu hidangan dari langit”. Pertanyaan itu bukan menunjukkan bahwa kaum hawariyyin itu masih ragu tentang kekuasaan Allah. Mereka telah yakin sepenuhnya tentang kekuasaan Allah. Tetapi mereka menanyakan hal itu untuk lebih menenteramkan hati mereka. Sebab, apabila mereka dapat menyaksikan bahwa Allah kuasa menurunkan apa yang mereka inginkan itu, maka hati mereka akan lebih tenteram, dan iman mereka akan bertambah kuat. 

Terkait dengan ketentraman dan keimanan ini juga pernah terjadi pada Nabi Ibrahim ketika beliau memohon kepada Allah agar Allah memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia kuasa menghidupkan makhluk yang telah mati. Allah berfirman: dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati." Allah berfirman, "Belum percayakah engkau?" Dia (Ibrahim) menjawab, "Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap)." (al-Baqarah/2:260).

Dengan demikian, pertanyaan kaum hawariyyin tadi dapat diartikan sebagai berikut, "Hai Isa, maukah Tuhanmu memperkenankan bila kami memohon kepada-Nya agar Dia menurunkan kepada kami suatu hidangan?" Jadi yang mereka ragukan bukanlah kekuasaan Allah untuk mengabulkan hal itu melainkan apakah Tuhan bersedia mengabulkan permintaan Nabi, bila Nabi Isa memintakan hal itu kepada-Nya untuk mereka. 

Patut diperhatikan dalam ayat di atas, bahwa ketika kaum hawariyyin mengemukakan pertanyaan mereka kepada Nabi Isa, mereka menyebutkannya dengan namanya, lalu diiringi dengan sebutan “putra Maryam”. Ini untuk menegaskan bahwa mereka tidak menganut kepercayaan bahwa Isa adalah Tuhan, atau anak Tuhan. Mereka yakin bahwa Isa adalah makhluk Allah yang dipilih untuk menjadi Nabi dan Rasul-Nya, juga adalah putra Maryam, bukan putra Allah.

Ayat 113:

قَالُوۡا نُرِيۡدُ اَنۡ نَّاۡكُلَ مِنۡهَا وَتَطۡمَٮِٕنَّ قُلُوۡبُنَا وَنَـعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَـنَا وَنَكُوۡنَ عَلَيۡهَا مِنَ الشّٰهِدِيۡنَ‏

Artinya: Mereka berkata, "Kami ingin memakan hidangan itu agar tenteram hati kami dan agar kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan (hidangan itu)."

Pada ayat ini diceritakan ucapan kaum hawariyyin selanjutnya kepada Nabi Isa, setelah Isa menyuruh mereka beriman kepada Allah, beramal, bekerja dan bertawakal kepada-Nya, dan tidak mengajukan permintaan yang tidak layak. Kaum hawariyyin itu berkata, "Kami beriman sepenuhnya atas kekuasaan Allah, akan tetapi kami mengajukan permintaan itu, karena kami memerlukan makanan, dan kami tidak mendapatkan makanan yang lain, sedangkan kami merasa lapar. Di samping itu, apabila kami dapat menyaksikan turunnya hidangan itu, serta dapat merasakan kelezatannya, maka iman kami akan bertambah kuat. Dengan demikian kami pun akan dapat pula menjadi saksi terhadap orang-orang yang tidak menyaksikan turunnya hidangan itu dan tidak turut memakannya, sehingga mereka pun akan turut beriman pula, dan bertambah kuat pula keyakinan mereka, karena kasaksian kami tadi."

Ayat 114:

قَالَ عِيۡسَى ابۡنُ مَرۡيَمَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَيۡنَا مَآٮِٕدَةً مِّنَ السَّمَآءِ تَكُوۡنُ لَـنَا عِيۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنۡكَ ۚ وَارۡزُقۡنَا وَاَنۡتَ خَيۡرُ الرّٰزِقِيۡنَ‏

Artinya: Isa putra Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki."

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Isa setelah mengetahui maksud baik dari kaum hawariyyin dalam permohonan mereka yaitu bahwa mereka tidak meragukan kekuasaan Allah, melainkan karena mereka ingin lebih yakin dan memperoleh keimanan yang lebih kuat serta ketenteraman hati, maka Nabi Isa mengabulkan permohonan mereka untuk bedoa kepada Allah agar menurunkan hidangan untuk mereka. 

Nabi Isa memulai doanya itu dengan ucapan "Allahuma Rabbana". Sedangkan kata-kata tersebut mengandung pengertian sifat-sifat keagungan-Nya, yaitu: ketuhanan, kekuasaan, hikmah dan kebijaksanaan-Nya, serta sifat-sifat-Nya sebagai Penguasa, Pendidik, Pemelihara dan Pemberi nikmat. Kemudian Isa melanjutkan doanya dengan permohonan agar Allah menurunkan untuk mereka hidangan dari langit. Nabi Isa mengharapkan agar hari ketika hidangan itu turun akan menjadi hari raya bagi mereka dan generasi mereka selanjutnya. Hal ini juga akan menjadi tanda atau bukti bagi kekuasaan Allah. 

Nabi Isa mengakhiri doanya dengan ucapan, "Berilah kami rezeki, karena Engkau adalah Pemberi rezeki Yang Paling Utama." Hal yang perlu kita perhatikan dalam ayat ini ialah bahwa Nabi Isa dalam doanya lebih dahulu menyebutkan faedah rohaniah yang akan diperoleh bila Allah mengabulkan doanya, kemudian baru disebutkan faedahnya dari segi jasmaniah.

Ayat 115:

قَالَ اللّٰهُ اِنِّىۡ مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡ ۚ فَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡكُمۡ فَاِنِّىۡۤ اُعَذِّبُهٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُهٗۤ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِيۡنَ‏ 

Artinya: Allah berfirman, "Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tetapi barang siapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam)."

Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui jalur Auf Al-A’rabi dari Abul Mughirah Al-Qawwas, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa manusia yang paling keras azabnya kelak di hari kiamat ada tiga macam, yaitu orang-orang munafik, orang-orang yang kafir dari kalangan mereka yang menerima hidangan dari langit, dan Fir’aun beserta para pendukungnya.

 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo