Isra Mi‘raj merupakan salah satu mu‘jizat Nabi Muhammad yang selalu diperingati umat Islam di setiap bulan Rajab. Dari peristiwa menakjubkan yang menunjukkan kekuasaan Allah tersebut tentu banyak hikmah yang bisa dipetik, di antaranya adalah napak tilas untuk ngalap berkah dan sowan sesepuh untuk meminta doa dan nasihat.
Salah satu kitab yang mengurai perjalanan Isra Mi‘raj Nabi Muhammad adalah kitab Qishatul Mi‘raj karya Syekh Ahmad Ad-Dardiri. Dalam kitab tersebut dijelaskan, saat perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad yang didampingi Malaikat Jibril dan menaiki Buroq itu mengunjungi sejumlah tempat kemudian melaksanakan sholat di sana. Sementara dalam perjalanan Mi‘raj, Nabi Muhammad bertemu dengan para nabi dan puncaknya “bertemu” dengan Allah di Sidratul Muntaha.
Perjalanan Isra
Tempat yang pertama dikunjungi Nabi Muhammad saat menempuh perjalanan Isra adalah sebuah kebun kurma. Di tempat tersebut Nabi Muhammad diperintahkan untuk melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat.
“Ini adalah Thayyibah (Madinah), kelak engkau akan hijrah ke tempat ini,” jelas Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad.
Dari peristiwa ini ada hikmah yang bisa menjadi petunjuk bagi umat Islam, yaitu sebelum menduduki sebuah tempat hendaknya didoakan terlebih dahulu agar bisa menuai keberkahan.
Perjalanan pun dilanjutkan, Nabi Muhammad diperintahkan lagi untuk turun dan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat di kota Madyan, dekat dengan sebuah pohon. Malaikat Jibril lantas menjelaskan bahwa pohon itu adalah Pohon Musa, tempat berteduh Nabi Musa saat dikejar Firaun dan pasukannya.
Berikutnya, saat perjalanan berlangsung, Nabi Muhammad kembali mendapat perintah untuk turun dan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat, yaitu di bukit Thurisina dan Betlehem, Malaikat Jibril lantas menjelaskan bahwa kedua lokasi itu adalah tempat “bertemu” dan munajatnya Nabi Musa dengan Allah dan tempat dilahirkannya Nabi Isa.
Usai melaksanakan sholat sunnah di bukit Thurisina dan Betlehem, Nabi Muhammad menjumpai sejumlah peristiwa yang menjadi gambaran perilaku umatnya yang masuk golongan orang saleh dan durhaka.
Perjalanan Isra berakhir di Masjidil Aqsha. Di tempat bersejarah tersebut sudah hadir para nabi terdahulu dan bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah. Nabi Muhammad pun diperintahkan untuk menjadi imam sholat, para nabi dan malaikat menjadi makmumnya.
Dari rangkaian perjalanan Isra ini seolah menjadi sebuah petunjuk bagi umat Islam agar melakukan napak tilas, yaitu mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang telah dirintis oleh para leluhur atau pendahulu.
Setidaknya ada 2 hikmah yang bisa dipetik saat mengunjungi “petilasan” para leluhur, yaitu mengingat jasa mereka dan ngalap berkah. Hal ini dilakukan agar energi perjuangan para leluhur bisa selalu mengiringi di setiap gerak dan langkah.
Perjalanan Mi‘raj
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan naik menembus langit yang berlapis. Di langit pertama, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Adam dan menyapa; “Selamat datang wahai anakku yang saleh dan nabi yang saleh.”
Dalam pertemuan tersebut, Nabi Muhammad menyaksikan Nabi Adam yang tersenyum bahagia tatkala menoleh ke kanan karena di sana terlihat keturunannya yang saleh masuk surga. Sebaliknya, saat menoleh ke kiri, Nabi Adam menangis bersedih karena terlihat keturunannya yang durhaka masuk neraka.
Di langit kedua, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya yang rambut dan pakaiannya serupa. Keduanya kemudian menyapa : “Selamat datang saudaraku yang saleh dan nabi yang saleh.” Tidak hanya itu, Nabi Isa dan Nabi Yahya pun mendoakan Nabi Muhammad dengan doa yang baik.
Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Yusuf yang ditemani sebagian umatnya. Nabi Yusuf pun menyampaikan salam dan mendoakan Nabi Muhammad dengan doa yang agung.
Di langit keempat, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Idris dan menyampaikan salam serta mendoakan Nabi Muhammad dengan doa yang luhur.
Di langit kelima, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun dan menyampaikan salam serta mendoakan Nabi Muhammad dengan doa yang mulia.
Di langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan para nabi yang ditemani kaumnya. Selain itu terlihat ada Nabi Musa yang melakukan hal serupa seperti nabi-nabi sebelumnya, yaitu memberi salam dan mendoakan. Ia kemudian menangis karena Nabi Muhammad diutus jauh setelahnya namun ternyata umat Nabi Muhammad lebih banyak yang masuk surga dibandingkan umat Nabi Musa.
Tidak hanya itu, saat perjalanan turun dan mengetahui Nabi Muhammad mendapat perintah untuk melaksanakan 50 sholat wajib setiap hari, Nabi Musa memberi nasihat kepada Nabi Muhammad agar meminta keringanan dengan mengurangi jumlahnya, alasannya karena umat Nabi Muhammad tidak akan sanggup melaksanakannya. Akhirnya, perintah sholat wajib hanya berlaku 5 waktu dalam sehari semalam.
Di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim yang juga turut menyampaikan salam seraya mendoakan. Nabi Ibrahim kemudian menyampaikan agar Nabi Muhammad memerintahkan umatnya untuk memperbanyak tanaman dan perhiasan surga, yaitu dzikir hauqalah (Lâ ḫaula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘adhim). Riwayat lain menyebut dzikirnya adalah subḫanallah walḫamdulillâh wa lâ ilâha illallâh wallâhu akbar.
Dari perjalanan Mi‘raj ini kiranya memberi isyarat kepada umat Islam agar bisa sowan kepada para sesepuh atau pendahulu untuk meminta doa dan nasihat. Setidaknya, para pendahulu sudah banyak “makan garam” sehingga doa dan nasihatnya sangat diperlukan untuk dijadikan sebagai bekal dalam menghadapi berbagai dinamika dan perjuangan dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Wallahu a‘lam.
Editor: Muhammad Faizin


