Arina.id - Muharram, bulan pertama dalam penanggalan Hijriah, merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam atau dikenal sebagai bagian dari asyhurul hurum (bulan-bulan suci). Menariknya, bulan ini memiliki sebutan istimewa yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya, yaitu Syahrullah (Bulan Allah) Mengapa demikian? Bukankah masih ada bulan-bulan lain yang tak kalah mulia, bahkan secara keutamaan tampak lebih tinggi, seperti bulan Ramadan?
Terkait penamaan Muharram sebagai Bulan Allah disinggung dalam sabda Nabi berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Artinya, “Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR Muslim)
Hadits ini secara jelas menyebut Muharram sebagai Syahrullah. Bulan ini memiliki keutamaan yang luar biasa, yaitu ibadah puasa sunnah yang dilakukan di dalamnya memiliki keunggulan lebih dibanding bulan-bulan lain. Berkaitan dengan hadits di atas, Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ) تَصْرِيحٌ بِأَنَّهُ أَفْضَلُ الشُّهُورِ لِلصَّوْمِ، وَقَدْ سَبَقَ الجَوَابُ عَنْ إِكْثَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ صَوْمِ شَعْبَانَ دُونَ المُحَرَّمِ، وَذَكَرْنَا فِيهِ جَوَابَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لَعَلَّهُ إِنَّمَا عَلِمَ فَضْلَهُ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ، وَالثَّانِي: لَعَلَّهُ كَانَ يَعْرِضُ فِيهِ أَعْذَارٌ، مِنْ سَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ أَوْ غَيْرِهِمَا
Artinya, “Sabda Nabi SAW: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram,” merupakan penegasan bahwa Muharram adalah bulan terbaik untuk berpuasa. Telah dijelaskan sebelumnya mengenai pertanyaan mengapa Nabi lebih sering berpuasa di bulan Sya’ban dibanding Muharram.”
“Ada dua jawaban yang disebutkan: Pertama, kemungkinan Nabi baru mengetahui keutamaan Muharram di akhir hayatnya. Kedua, bisa jadi ada halangan yang muncul di bulan Muharram, seperti sedang safar, sakit, atau alasan lain yang menghalangi beliau berpuasa.” (An-Nawawi, 1996: juz 8, h. 237)
Dari paparan An-Nawawi tersebut dapat dipahami bahwa pemuliaan bulan Muharram sebagai bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah puasa Ramadhan, mendapat legitimasi langsung dari Nabi Muhammad sendiri. Bahkan, Nabi dikatakan lebih banyak berpuasa di bulan Muharram dibanding pada bulan Sya’ban.
Alasan Dinamakan Bulan Allah
Salah satu pertanyaan yang barangkali muncul berkenaan Muharram adalah mengapa bulan ini memiliki sebutan utama sebagai Syahrullah? Padahal, bulan-bulan lainnya juga memiliki keistimewaan yang tidak jauh berbeda, bahkan ada yang lebih utama seperti bulan Ramadhan.
Untuk menjawab hal ini, kita bisa melihat penjelasan Ibnu ‘Allan dalam Al-Futuhattur Rabbaniyyah ‘Alal Adzkar An-Nawawiyyah. Mengutip pendapat Jalaluddin As-Suyuthi, ia mengatakan bahwa Muharram dinamai Syahrullah karena penamaannya bersifat Islami, tidak seperti bulan-bulan lain yang tetap menggunakan nama-nama pra-Islam. Pada era Jahiliah, Muharram memiliki nama Shafar Awal. Islam menggantinya dengan Muharram sebagai simbol pemutusan tradisi Jahiliah.
Karena itulah, penyandaran nama Muharram kepada Allah adalah bentuk pemuliaan khusus yang membedakannya dari bulan lain, meski secara keutamaan masih ada bulan lain seperti Ramadan yang nilainya bisa lebih besar. Berikut kutipan penjelasan Ibnu ‘Allan:
قَالَ الحَافِظُ السُّيُوطِيُّ: سُئِلْتُ لِمَ خُصَّ المُحَرَّمُ بِقَوْلِهِمْ شَهْرُ اللهِ دُونَ سَائِرِ الشُّهُورِ، مَعَ أَنَّ فِيهَا مَا يُسَاوِيهِ فِي الفَضْلِ أَوْ يَزِيدُ عَلَيْهِ كَرَمَضَانَ؟ فَوَجَدْتُ مَا يُجَابُ بِهِ، أَنَّ هَذَا الِاسْمَ إِسْلَامِيٌّ دُونَ سَائِرِ المَشْهُورِ، فَإِنَّ أَسْمَاءَهَا كُلَّهَا عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ اسْمُ المُحَرَّمِ فِي الجَاهِلِيَّةِ: صَفَرَ الأَوَّلَ، وَالَّذِي بَعْدَهُ: صَفَرَ الثَّانِي. فَلَمَّا جَاءَ الإِسْلَامُ سَمَّاهُ اللهُ المُحَرَّمَ، فَأُضِيفَ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِهَذَا الاعْتِبَارِ
Artinya, “Al-Hafizh as-Suyuthi berkata: Aku pernah ditanya, “Mengapa hanya bulan Muharram yang disebut ‘bulan Allah’, tidak seperti bulan-bulan lainnya, padahal ada bulan yang keutamaannya setara atau bahkan melebihinya, seperti Ramadan?” Maka aku menemukan jawabannya, bahwa penamaan itu adalah ciri khas Islam, tidak seperti nama-nama bulan lain yang masih memakai sebutan masa Jahiliah.”
“Sebab semua nama bulan selainnya tetap seperti yang digunakan pada zaman jahiliah. Nama bulan Muharram dahulu adalah “Shafar pertama,” dan bulan setelahnya disebut “Shafar kedua.” Ketika Islam datang, Allah menamakannya “Muharram,” dan penyandaran nama itu kepada Allah dilakukan sebagai bentuk pemuliaan.” (Ibnu ‘Allan, tanpa tahun: juz 7, h. 101)
Dengan demikian, penyebutan Muharram sebagai Syahrullah (bulan Allah) bukan semata karena keutamaannya dalam ibadah, tetapi juga karena aspek historis dan simbolisnya. Ia menandai pemutusan dari tradisi Jahiliah dan menjadi satu-satunya bulan yang secara eksplisit disandarkan kepada Allah dalam sabda Nabi. Sebuah kehormatan yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan Muharram dalam bingkai spiritualitas Islam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


