Dark
Light
Dark
Light

Fitnah Perselingkuhan pada Aisyah RA & Ayat yang Turun Sesudahnya

Fitnah Perselingkuhan pada Aisyah RA & Ayat yang Turun Sesudahnya

Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Aisyah Radhiallahu Anha (RA) bukanlah tanpa konflik dan masalah. Pada tahun keenam Hijriah, datanglah sebuah fitnah keji yang menimpa Sayyidah Aisyah RA, yaitu kabar bohong perselingkuhan Sayyidah Aisyah dengan seorang sahabat yang Bernama Shafwan bin Al-Muaththal As-Sulami.

Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dikisahkan bahwa pada suatu hari Rasulullah bersama para sahabat sedang dalam perjalanan dari Mushtahliq menuju ke Madinah. Perjalanan ini dilakukan bersama para sahabat, juga oleh oleh Sayyidah Aisyah RA. 

Aisyah RA berkata: “Apabila Rasulullah hendak melakukan perjalanan, beliau mengadakan undian di antara isteri-isterinya. Isteri yang namanya keluar dalam undian itu, dialah yang berhak menemaninya dalam perjalanan. Pada perang Bani Al-Mushtahliq, Rasulullah juga mengundi isteri-isterinya sebagaimana yang biasa dilakukan. Dalam undian kali ini, namakulah yang keluar. Maka aku yang beliau bawa dalam perjalanan itu.” (HR. Bukhari Muslim, Shahih Bukhari no. 2661 dan Muslim pada 2770).

Saat perjalanan sudah dekat dengan Madinah, rombongan yang dibawa Rasulullah SAW ini berhenti untuk beristirahat malam. Ketika istirahat dirasa cukup, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Merekapun berangkat untuk mecapai Madinah, sedang Sayyidah saat itu sedang membuang hajat. Setelah selesai membuan hajat, ia menyadari bahwa kalung batu akik Zhifar yang dikenakannya hilang.

Sayyidah Aisyah lalu mencari kalung tersebut dan kembali ke tempat pemberhentian untuk mencari kalungnya, sementara rombongan mulai Bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah. Namun sayang, ia juga tak menemukan kalung tersebut. Sekali lagi, Sayyidah Aisyah kembali ke tempat ia membuang hajat sampai kalung tersebut berhasil di temukan.

Nahas, rombongan telah bergerak meninggalkan tempat menuju ke Madinah dan mereka mengira bahwa Sayyidah Aisyah telah berada di dalam sekedup unta bersama mereka. Tak ada satu orangpun di sana, Sayyidah Aisyah tertinggal seorang diri.

Dengan perasaan cemas, Sayyidah Aisyah lalu tertidur di tempat tersebut dan menutup dirinya dengan jilbab. Ia yakin bahwa kaum Muslim yang berada dalam satu rombongan akan menyadari bahwa Sayyidah Aisyah tertinggal dan pasti kembali ke tempat pemberhentian untuk menjempunya.

Tiba-tiba, seorang sahabt Bernama Shafwan bin Al-Mu’aththal As-Sulami berjalan melintas. Ia sengaja berjalan di belakang untuk memenuhi salah satu kebutuhannya. Kemudian ia melihat Sayyidah Aisyah dan berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Ini adalah istri Rasulullah!!”, Shafwan kemudian bertanya “Mengapa engkau tertinggal?”. Namun Sayyidah Aisyah tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Shafwan bin Al-Mu’aththal As-Sulami kemudian buru-buru meminta Sayyidah Aisyah untuk naik ke atas untanya, lalu ia memegang tali unta tersebut dan menuntunnya berjalan dengan cepat dengan harapan dapat menyusul rombongan yang berjalan lebih dahulu. Namun sayangnya Sayyidah Aisyah dan Shafwan tak berhasil menyusul.

Dari sinilah fitnah disebarkan. Saat rombongan yang berjalan lebih dahulu telah sampai di Madinah dan sedang beristirahat, datanglah Shafwan bin Al-Mu’aththal As-Sulami yang menuntun unta sementara unta tersebut memanggul Sayyidah Aisyah. Para penyebar berita bohong menyebarkan fitnah ke seluruh Madinah hingga memicu kehebohan. Namun, sedikitpun Sayyidah Aisyah tak mendengar kabar tersebut hingga suatu hari ia mengetahuinya sendiri.

Tak lama setelah ketibaan rombongan di Madinah, Sayyidah Aisyah jatuh sakit. Saat itu Sayyidah Aisyah mulai melihat sesuatu yang berbeda dari Rasulullah SAW, di mana beliau tidak seramah biasanya. Hal ini membuat Sayyidah Aisyah bersedih, sehingga ia meminta izin kepada Rasulullah untuk dirawat oleh ibunya dan Rasulullah mengizinkan.

Pada suatu malam, Sayyidah Aisyah hendak membuang hajat ke padang pasir di Madinah ditemani oleh Ummu Misthah binti Abu Ruhm bin Al-Muthalib bin Abu Manaf. Ummu Misthah yang sedang berjalan dengan Sayyidah Aisyah berkata kepada Sayyidah Aisyah: “Apakah engkau tidak mendengar kabar tersebut wahai puteri Abu Bakar?”, lalu Sayyidah Aisyah menjawab: “Berita apakah itu?”. Ummu Misthah pun menceritakan kepada Sayyidah Aisyah tentang berita bohong mengenai perselingkuhannya dengan Shafwan bin Al-Muaththal As-Sulami yang sudah beredar luas.

Mendengar hal tersebut, Sayyidah Aisyah tidak jadi membuang hajat dan segera kembali ke rumah. Sampai di rumah, ia terus-menerus menangis hingga dirinya mengira bahwa tangisannya akan menghentikan detak jantungnya. Sayyidah Aisyah lalu bertanya kepada ibunya: “Semoga Allah mengampunimu, orang-orang telah ramai membicarakan diriku, namun mengapa engkau tidak bercerita apapun kepadaku?”. Ummu Ruman, ibunda Sayyidah Aisyah menjawab: “Putriku, janganlah engkau menganggap apa yang menimpamu ini sebagai masalah yang berat. Demi Allah, jika ada seorang isteri cantik yang dicintai suaminya, sedangkan suaminya itu mempunyai isteri yang lain, niscaya mereka dan orang lain akan banyak membincangkan istri yang cantik itu.”

Usut punya usut, orang yang paling gencar menyebarkan fitnah tersebut adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Fitnah itu terus dibakar di antara orang-orang Khazraj. Di antara orang yang turut menyebar berita bohong tersebut ialah Hamnah binti Jahsy yang tak lain adalah saudara ipar Rasulullah dari isterinya yang Bernama Zainab binti Jahsy. Abdullah bin Ubay bin Salul menyebar fitnah tersebut untuk memperburuk hubungan antara Sayyidah Aisyah dan Zainab binti Jahsy yang dikenal saling menyayangi dan menghormati.

Saat itu Rasulullah usai berkhutbah di hadapan para sahabat, beliau memuji Allah dan mengatakan tentang musibah fitnah yang menimpa dirinya dan keluarganya. Lalu turunlah Rasulullah dari mimbar menuju ke dalam rumahnya dan memanggil Ali bin Abi Thalib serta Usamah bin Zaid untuk meiminta pendapat dari keduanya.

Usamah bin Zaid mengatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, ia isterimu dan kami tidak dapatkan darinya kecuali yang baik-baik dan engkau juga tidak dapatkan darinya kecuali yang baik-baik saja. Ini adalah sebuah kebohongan dan kebatilan.” Sedangkan Ali bin Abi Thalib berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya masih banyak wanita lain dan engkau mampu mencari wanita yang menggantikannya. Maka tanyakanlah hal ini kepada budak wanita, pasti ia akan membenarkanmu.”

Mendengar hal tersebut, Rasulullah lantas memanggil Barirah untuk menanyakan hal tersebut dan beginilah kata Barirah: “Demi Allah, aku tidak dapatkan pada Aisyah kecuali yang baik-baik saja. Aku tidak pernah mencela sesuatu apapun pada Aisyah melainkan satu hal di mana aku pernah membuat adonan roti lalu menyuruhnya untuk menjaganya, tetapi ia tertidur hingga akhirnya kambing datang dan memakan adonan roti itu.” (HR. Bukhari Muslim)

Setelah itu Rasulullah masuk ke dalam kamar Aisyah, dan berkata: “Hai Aisyah, engkau telah mendengar gunjingan orang tentang dirimu, maka bertakwalah kepada Allah. Dan jika engkau telah melakukan kesalahan, maka bertaubatlah kepada Allah, karena Allah maha menerima taubat hamba-hambaNya.”

Mendengar perkataan Rasulullah, Sayyidah Aisyah tak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya menangis bercucur air mata sambil menunggu kedua orang tuanya berbicara untuk mewakili dirinya, namun hal itu tak kunjung terjadi. Ia berharap Rasulullah dapat melihat kebenaran lewat mimpinya, bahwa Allah akan menunjukkan adanya fitnah besar yang menimpa dirinya.

Saat Rasulullah hendak beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba beliau tidak sadarkan diri. Melihat kejadian itu, Sayyidah Aisyah tak gentar, karena ia merasa dirinya suci bersih dan bebas dari tuduhan yang dilayangkan pada dirinya. Sementara kedua orangtua Sayyidah Aisyah sangat cemas, panik dan tampak tak menyukasi situasi yang terjadi pada Rasulullah. Sayyidah Aisyah bahkan mengira bahwa kedua orangtuanya akan meninggal karena khawatir akan datangnya sesuatu dari Allah yang membenarkan tuduhan orang-orang kepada Sayyidah Aisyah.

Namun tiba-tiba Rasulullah duduk, sementara keringat mengucur deras dari tubuhnya. Beliau mengusap keringat dari keningnya seraya bersabda: “Wahai Aisyah, bergembiralah engkau. Sebab Allah telah menurunkan ayat tentang kesucian dirimu.” 

Mendengar hal tersebut, Sayyidah Aisyah mengucap hamdalah dan sangat bergembira. Rasulullah kemudian keluar untuk menemui para sahabat dan orang-orang, lalu berkhutbah di hadapan mereka serta membacakan ayat Al-Qur’an yang diturunkan Allah kepadanya tentang fitnah yang melanda Sayyidah Aisyah. Setelah itu, Rasulullah meminta untuk dipanggilkan Misthah bin Atsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahys yang telah ikut menyebarluaskan berita bohong tersebut untuk dikenakan hukuman had. (HR. Muslim pada hadits no. 2770)

Ayat Al-Qur’an yang turun setelah itu ialah Q.S an-Nuur ayat 11:

اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)."

Ibnu Hisyam menyebut ada pendapat yang mengatakan bahwa mereka yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubay bin Salul dan para sahabatnya. Orang yang memiliki peran besar pada penyebaran berita bohong itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul dan itu telah disebutkan Ibnu Ishaq pada pemaparan peristiwa di atas. 

Lalu Allah berfirman dalam Q.S an-Nuur ayat 12:

لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًاۙ وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ 

Artinya: "Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap kelompok mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu, dan berkata, “Ini adalah (berita) bohong yang nyata?”

Lalu Allah berfirman dalam Q.S surat an-Nuur ayat 15:

اِذْ تَلَقَّوْنَهٗ بِاَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًاۙ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌۚ 

Artinya: "(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar."


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo