Dark
Light
Dark
Light

Meletakkan Pembeda pada al-Rahman dan al-Rahim

Meletakkan Pembeda pada al-Rahman dan al-Rahim

Al-Rahman dan al-Rahim berasal dari akar kata yang serupa: rahima. Arti dasarnya ialah ‘mengasihi’. Imam al-Ghazali mengungkapkan, mengasihi berarti menghendaki, dan melimpahkan kebaikan kepada yang membutuhkan karena perhatian (‘inayah) kepadanya. Ada tiga aspek dalam kasih: perhatian, kehendak, dan pelimpahan atau pemberian.

Kasih Tuhan itu, lanjut al-Ghazali, bersifat utuh dan universal. Utuh, karena Tuhan tidak hanya menghendaki kebaikan, tetapi juga memberikannya — Tuhan, sebagaimana dalam al-Quran, adalah Mahapelaksana akan apapun yang Dia kehendaki (Q. S. Hud [11]: 107). Universal, karena kasih-Nya mengena baik kepada yang layak maupun yang tidak. “Kasih-Ku,” firman Tuhan, “meliputi segala sesuatu” (Q. S. al-A‛raf [7]: 156).

Selain itu, kasih Tuhan juga sempurna, karena bebas dari rasa ‘terenyuh yang menyakitkan’ (riqqah mu’limah). Pada manusia, rasa kasih biasanya disertai dengan suatu aspek psiko-fisiologis berupa rasa iba dan/atau rasa ‘nyeri’ di hati. Artinya, saat mengasihi orang lain, manusia juga mengasihi dirinya, karena melalui tindakan itu dia ‘menyembuhkan’ dirinya dari rasa sakit itu. Kasih seseorang pada sesamanya hampir tidak pernah sempurna, karena masih ada (disadari maupun tidak) perhatian kepada diri sendiri. Sebaliknya, kasih Tuhan tidak demikian. Kasih-Nya terarah kepada yang dikasihi. Tuhan mengasihi bukan karena Dia hendak membebaskan Diri-Nya dari suatu rasa sakit — mahasuci Dia dari hal semacam itu — melainkan karena Dia memang berkehendak untuk mengasihi.

Dari semua itu, al-Raḥman dan al-Raḥim sama. Lalu di mana letak pembedanya? Imam al-Ghazali membedakan keduanya dalam dua aspek yang berkaitan: aspek penggunaan, kemudian aspek ranah atau bentuk.

Dalam aspek penggunaan, Imam al-Ghazali merujuk pada al-Quran. Dalam al-Quran Allah berfirman, “Katakanlah: “Serulah Allah, atau serulah al-Raḥman” (Q. S. al-Isra’ [17]: 110). Dalam ayat ini, kata al-Ghazali, nama al-Raḥman seakan dijadikan sama dengan ‘Allah’, yaitu sama-sama ‘Nama Diri’ bagi Tuhan. Karena itu, baik ‘Allah’ maupun al-Raḥman tidak bisa dibuat nama untuk selain Tuhan. Sebaliknya, al-Quran sendiri telah menjadikan al-Raḥim sebagai nama atau sifat untuk selain Tuhan, di antaranya untuk Nabi Muhammad (Q. S. al-Taubah [9]: 128). Dengan demikian, al-Raḥim lebih umum dibanding al-Rahman, sedangkan al-Raḥmin lebih khusus dan unique untuk Tuhan.

Aspek penggunaan ini berpengaruh langsung kepada pembedaan dalam aspek ranah atau bentuk. Kata Imam al-Ghazali, karena al-Raḥman sudah seperti ‘Nama Diri’ yang khusus untuk Tuhan, ranah kasih yang dicakup olehNya mesti juga ranah yang khusus untuk-Nya, yakni, yang hanya bisa diberikan oleh Tuhan. Sebaliknya, karena al-Rahim juga digunakan untuk selain Tuhan, ranah kasih yang ia cakup adalah ranah yang juga bisa dilakukan oleh selain-Nya.

Lebih konkrit lagi, ada empat ranah kasih al-Raḥman: (1) peng-ada-an dari tiada (ijad) — jadi, segala yang ada dan terjadi adalah ungkapan kasih Tuhan; (2) memberi petunjuk menuju iman dan sebab-sebab kebahagiaan; (3) kebahagiaan di akhirat; (4) karunia berupa melihat Wajah Tuhan. Memberikan kasih dalam bentuk empat hal ini, kata al-Ghazali, adalah di luar kemampuan manusia. Sebaliknya, tindak kasih sehari-hari seperti mengasihi anak yatim adalah bagian dari kasih al-Rahim.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Wawan Kurniawan
Dosen Ushuluddin UIN Jakarta


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo