Nabi Muhammad Saw. adalah sosok yang dikenal dengan berbagai sifat mulia, salah satunya adalah kesederhanaan dalam menjalani hidup. Meskipun beliau adalah utusan Allah dan pemimpin umat Islam, beliau tetap menunjukkan sikap rendah hati dan sederhana, baik dalam cara hidup maupun dalam interaksi sosialnya. Kesederhanaan hidup Nabi Muhammad menjadi teladan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Kesederhanaan dalam Penampilan
Nabi Muhammad SAW dikenal sangat sederhana dalam penampilannya. Meskipun beliau adalah pemimpin besar dan dicintai oleh umatnya, beliau tidak pernah memakai pakaian mewah atau hidup dalam kemewahan. Beliau sering mengenakan pakaian dari kain kasar yang biasa digunakan oleh rakyat jelata.
Di rumah, Nabi sering menggunakan pakaian yang sudah ada tambalannya dan tidak segan-segan memperbaiki sendiri jika pakaian tersebut robek. Sayyidah Aisyah Ra. meriwayatkan bahwa Nabi hanya memiliki dua pasang baju. Beliau juga tidak segan memerah sendiri susu dari kambing peliharaan yang beliau miliki, meskipun beliau bisa saja menyuruh orang lain yang pasti akan menuruti perintah beliau, namun hal itu tidak dilakukan. Beliau lebih memilih untuk mengerjakan sendiri.
Wadah yang digunakan Nabi untuk minum, memerah susu kambing dan keperluan lainnya pun bukanlah wadah yang mewah. Zaid bin Tsabit pernah menceritakan bahwa: “Anas bin Malik pelayan Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras dan dipatri dengan besi. Kemudian Anas berkata kepadaku, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah. Dengan gelas kayu inilah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu dan susu.’” (HR Tirmidzi).
Kesederhanaan dalam penampilan ini bukan hanya mencerminkan kerendahan hati, tetapi juga mengajarkan umat Islam untuk tidak berlebihan dalam hal penampilan. Nabi juga mengajarkan bahwa keindahan dan kemuliaan seseorang bukanlah dari pakaian atau harta yang mereka miliki, tetapi dari ketakwaan dan akhlak yang baik.
Kesederhanaan dalam Makanan
Nabi Muhammad Saw. hidup dalam kesederhanaan, bahkan dalam hal makanan. Meskipun beliau bisa saja hidup mewah, beliau memilih untuk menjalani kehidupan yang sederhana. Sering kali Nabi hanya makan kurma, roti kasar, dan air. Bahkan ada hari-hari di mana beliau dan keluarganya tidak memiliki apa-apa untuk dimakan selain air dan beberapa kurma.
Terdapat banyak sekali riwayat yang menyebutkan perihal kesederhanaan Nabi dalam soal makanan. Diantaranya ialah dari Sahabat Malik bin Dinar Ra., beliau menceritakan:
مَا شَبِعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ خُبْزٍ قَطُّ وَلاَ لَحْمٍ إِلاَّ عَلَى ضَفَفٍ
Artinya: “Rasulullah Saw. tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang)“. (HR. Imam Tirmidzi.
Sayyidah Aisyah Ra. juga menceritakan bahwa keluarga Nabi (ahlul bait) senantiasa mengedepankan kesederhanaan dalam masalah makan. Beliau mengatakan:
ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ
Artinya: “Keluarga Muhammad Saw. tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai beliau bertemu dengan Allah (wafat)”. (HR. Bukhari no. 5423, dan Imam Muslim no. 2970).
Dalam riwayat lain, Aisyah juga mengatakan bahwa saat tak ada makanan yang bisa dimakan, maka Nabi tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut dan memilih untuk berpuasa di hari itu:
قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍ يا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟ قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌء قال فإني صائمٌ
Artinya: “Rasulullah Saw. bertanya kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?)’. Aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan)’. Beliau lalu bersabda: ‘kalau begitu aku akan puasa”. (HR. Imam Muslim).
Selain memilih pola makan sederhana, Nabi juga mengajarkan agar tidak berlebihan dalam persoalan makan dan minum. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda: "Anak Adam tidak mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus melakukannya (makan lebih banyak), maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara." (HR. Tirmidzi).
Kesederhanaan dalam Tempat Tinggal
Rumah Nabi Muhammad Saw. sangat sederhana. Beliau tinggal di sebuah rumah kecil yang terbuat dari tanah liat dan batu bata. Ruang di dalam rumahnya juga sangat terbatas. Tidak ada perabotan mewah atau barang-barang yang tidak diperlukan.
Ketika tidur, Nabi sering kali hanya menggunakan tikar kasar yang meninggalkan bekas di tubuhnya. Bahkan, ketika beberapa sahabat menawarkan untuk memperbaiki tempat tinggalnya, Nabi menolak dan berkata bahwa kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan sementara dan beliau tidak ingin tergoda dengan kemewahan dunia yang fana.
Sayyidah Aisyah Ra. menggambarkan bahwa tempat tidur Nabi bukanlah sesuatu yang mewah. Beliau menceritakan: “Sesungguhnya hamparan tempat tidur Rasulullah Saw. terdiri atas kulit binatang, sedang isinya adalah sabut korma.” (HR At-Tirmidzi)
Istri Nabi yang lain, yakni Sayyidah Hafshah saat ditanya perihal tempat tidur Rasulullah, beliau menjawab: “Kain dari bulu yang kami lipat dua. Di atas itulah Rasulullah Saw. tidur. Pernah suatu malam aku berkata (dalam hati): sekiranya kain itu aku lipat menjadi empat lapis, tentu akan lebih empuk baginya. Maka kain itu kulipat empat lapis.” Manakala waktu subuh, Rasulullah Saw. mengatakan, “Apa yang engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” Aku menjawab, itu adalah alas tidur yang biasanya Nabi pakai, hanya saja aku lipat empat. Aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah Saw. membalas, “Kembalikan kepada asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam hari.” (HR At-Tirmidzi).
Kesadaran untuk Memilih Hidup Sederhana
Salah satu doa yang sering Nabi Muhammad Saw. panjatkan adalah agar beliau selalu diberi kekuatan untuk hidup sederhana dan tidak terikat dengan kenikmatan dunia. Nabi selalu mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, dan kebahagiaan sejati ada di akhirat.
Kesederhanaan hidup Nabi Muhammad Saw. menjadi teladan yang sangat relevan bagi umat Islam hingga hari ini. Dalam dunia yang semakin materialistis dan penuh dengan godaan kemewahan, kisah hidup Nabi Muhammad mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada harta benda atau kemewahan duniawi, melainkan pada ketakwaan, kerendahan hati, dan rasa syukur kepada Allah Swt. Semoga kita semua dapat meneladani kesederhanaan Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bis shawab
Editor: Muhammad Zunus


