Nama ‘Khidir’ atau terkadang dieja ‘Khadir’, berarti ‘yang hijau’. Nabi Khidir bernama asli Balya Putra Malkan, merupakan keturunan dari Nabi Nuh dari jalur Sam, dengan Kunyah Abul Abbas. Disebut sebagai Khidir karena ini merupakan gelar panggilan dalam tradisi Islam yang merujuk laqab atau julukan.
Khidir memang dikenal sebagai ‘Manusia Hijau’. Bukhari meriwayatkan hadis (No. 3402) bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Dia disebut ‘Khadir’ karena dia duduk di tanah gersang putih, lalu tiba-tiba tanah itu menjadi subur kehijauan.”
Warna hijau termasuk warna yang paling sering disebut (delapan atau sembilan kali) oleh Al-Quran. Dalam penggunaan itu, hijau menyimbolkan kesegaran dan kemewahan. Al-Quran menyebutkan dua surga berwarna hijau tua (mudhāmmatān) dan para penghuninya bertelekan pada bantal-bantal hijau (Q.S. al-Raḥmān [55]:64, 76) . Pun, para penghuni surga ‘Adn (Eden) mengenakan pakaian hijau dari sutra (Q.S. al-Kahf [18]: 31; juga al-Insān [76]: 21).
Dalam suatu hadis riwayat Muslim (No. 3611) Nabi Muhammad menyatakan bahwa ruh mereka yang mati di jalan Tuhan (sabīlillāh)—yang Al-Quran sebut tidak mati dan, sebaliknya, terus hidup bahagia dan menerima rezeki dari Tuhan (Q. S. al-Baqarah [2]: 154; Ali Imran [3]: 169)—berada dalam (atau, sebagaimana dalam riwayat-riwayat lain, berada di atas, atau berbentuk, atau menjadi) tubuh burung hijau yang terbang bebas di pepohonan surga.
Dalam tradisi sufi, warna hijau punya tempat istimewa. Najm al-Din al-Kubra, seorang syekh sufi abad ke-13, menerangkan dalam Fawa'iḥ al-Jamal bahwa warna secara umum adalah tanda ‘kondisi-kondisi’ jiwa (aḥwal) dalam perjalanan ruhani. Saat mengalami kondisi ruhani tertentu, si salik melihat pula cahaya berwarna yang menandai, memvisualisasi sekaligus memverifikasi pengalaman tersebut. Hijau adalah warna kalbu dan kehidupannya. Jika si salik terus menerus dan konsisten melihat warna hijau, itu berarti dia telah tamkin, yakni, dia telah ‘sampai’ dalam perjalanannya. Jadi, kata Syekh Najm, warna hijau merupakan warna terakhir yang langgeng.
Dalam skema yang agak berbeda, ‘Ala’ al-Daulah al-Simnani, syekh sufi abad ke-14, merinci tujuh tingkat pusat halus (lathifah) dalam diri manusia dan masing-masing diidentifikasi dengan seorang nabi tertentu dan warna tertentu. Tingkat terdalam adalah lathifah haqqiyyah, yaitu pusat yang ilahi atau sang Diri Sejati. Pusat ini disebut ‘Muhammad-wujudmu’ dan warnanya adalah hijau terang, warna “yang paling pantas untuk rahasia misteri segala misteri”.
Dipahami dalam sinaran semua ini, Khidir sebagai 'manusia hijau' adalah simbol kehidupan, kesegaran dan keabadian. Khidir, dengan kata lain adalah manusia surgawi di dunia ini, manusia ilahi yang bertugas menginisiasi mereka yang layak ke dalam misteri segala misteri: sang Diri Sejati.
Wawan Kurniawan
Dosen Ushuluddin UIN Jakarta
Editor: Muhammad Zunus


