KH Ulil Abshar Abdalla selama sesi Ngaji Ihya’ Ulum al-Din edisi ke-405, memaparkan panduan-panduan dari Imam Al-Ghazali tentang sikap bagaimana seharusnya seorang Muslim mencari rezeki.
Pembahasan pemikiran Imam Al-Ghazali ini tertuang dalam Kitab Ihya’ Ulum al-Din, jilid VI, halaman 150 (penerbit Darul Minhaj). Imam Al-Ghazali, —mengutip hadis Nabi Muhammad SAW,— manusia dianjurkan untuk mencari rezeki dengan cara yang baik dan tidak berlebihan, serta menghindari sikap serakah atau tamak [أجملوا في الطلب].
Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang berbunyi:
وقال صلى الله عليه وسلَّمَ : ( ألا أيها الناس ؛ أجملوا في الطلب ؛ فإنَّه ليس لعبد إلا ما كتب له ، ولن يذهب عبدٌ مِنَ الدنيا حتَّى يَأْتِيَهُ ما كتبَ لَهُ مِنَ الدنيا وهي راغمة (٣)
Artinya; Nabi Muhammad bersabda: “Wahai manusia, bersikaplah baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah seorang hamba memperoleh kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan tidaklah seorang hamba meninggalkan dunia [wafat] ini hingga datang kepadanya apa yang telah ditetapkan baginya dari dunia, meskipun dunia itu dalam keadaan terpaksa.” (HR. Imam Hakim di kitab Mustadrak).
Hadits ini menegaskan bahwa rezeki seorang manusia sudah ditentukan oleh Allah, dan manusia tidak akan meninggalkan dunia sebelum seluruh jatahnya di dunia tercukupi. Oleh karena itu, seseorang tidak perlu merasa resah, gelisah, atau terlalu berambisi mengejar rezeki. “Rezeki yang sudah ditetapkan. Ini digambarkan seperti binatang yang telah dicocok hidungnya. Ia akan tetap datang, meskipun dari arah yang tidak terduga,” katanya, sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Jumat (04/10/2024).
Lebih jauh lagi, Gus Ulil menjelaskan bahwa di zaman modern ini, banyak orang terjebak dalam cara berpikir yang terlalu formal mengenai pekerjaan dan penghasilan. Mereka cenderung “terjebak” dalam pemikiran bahwa pemberian rezeki laiknya pekerjaan formal; gaji tetap tiap bulan, tunjangan, THR, dan pensiun, seakan-akan segala aspek kehidupan finansial bisa diatur dengan rencana yang jelas dan pasti.
Selain itu, banyak yang berpatokan pada perencanaan bisnis yang melibatkan survei konsumen, proyeksi pendapatan, dan target keuntungan sebagai dasar utama. Namun, menurut Gus Ulil, dalam pandangan Islam, kehidupan manusia, termasuk rezeki, tidak bisa sepenuhnya direncanakan atau diprediksi.
Pada pengajian yang disiarkan secara live di media sosial Facebook dan Space X itu, Gus Ulil juga mengingatkan bahwa jika seseorang terlalu serakah dan hanya mengandalkan perencanaan yang logis, mereka bisa terjebak dalam ilusi bahwa semua harus terjadi sesuai dengan keinginan manusia. Ada yang bersikap seolah-olah Tuhan wajib memenuhi permintaan mereka hanya karena rencana mereka sudah matang. “Ini sikap yang tidak sopan, karena manusia seperti ingin memaksa Tuhan untuk mengikuti keinginan mereka,” tegas Gus Ulil.
Lebih jauh, simak penjelasan Imam Ghazali berikut;
ولا ينفك الإنسان عن الحرص إلا بحسن ثقته بتدبير الله تعالى في تقدير أرزاق العباد ، وأن ذلك يصل - لا محالة - مع الإجمال في الطلب ، بل ينبغي أن يعلم أن رزق العبد من حيث لا يحتسب أكثر
Artinya; “Manusia tidak akan terlepas dari sifat rakus kecuali dengan memiliki keyakinan yang baik terhadap pengaturan/tadbir Allah Ta’ala dalam menentukan rezeki para hamba-hamba, dan bahwa rezeki itu pasti akan sampai kepadanya, meskipun ia hanya berusaha dengan cara yang wajar. Bahkan, seseorang seharusnya menyadari bahwa rezeki seorang hamba seringkali datang dari arah yang tidak disangka-sangka lebih banyak.” (hlm. 150)
Padahal dalam realitasnya, ada banyak orang yang penghasilannya datang dari arah yang tak terduga (َرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ), bahkan dalam proporsi yang lebih besar dibandingkan yang bisa diperkirakan. Fenomena ini menegaskan adanya wilayah ketidakpastian dalam rezeki manusia.
Menurut Gus Ulil, dalam Al-Quran surah at-Thalaq ayat 3, Allah telah berjanji bagi orang yang bertakwa, Allah akan memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Maka, manusia hendaknya tidak terjebak dalam ketidakpuasan atau kegelisahan saat menghadapi ketidakpastian rezeki. Jika rezeki yang diharapkan tidak datang sesuai rencana, bukan berarti manusia harus memaksa keadaan dengan menjadi rakus atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan.
وقال صلى الله عليه وسلَّمَ : ( أبى الله أن يرزق عبده المؤمن إلا مِنْ حيث لا يحتسب (1) . وقال سفيان : ( اتق الله ؛ فما رأيت تقياً محتاجاً ) (٢) أي : لا يترك التقي فاقداً لضرورتِه ، بل يلقي الله في قلوب المسلمين أن يوصلوا إليه رزقه (۳)
Artinya; "Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak akan [enggan] memberi rezeki kepada hamba-Nya yang beriman kecuali dari arah yang tidak disangka-sangka.” Dan Sufyan berkata: “Bertakwalah kepada Allah; aku belum pernah melihat orang yang bertakwa berada dalam kekurangan.” Maksudnya: Orang yang bertakwa tidak akan dibiarkan kehilangan apa yang menjadi kebutuhannya. Allah akan menggerakkan hati kaum muslimin untuk menyampaikan rezekinya kepadanya."
Dalam konteks ini, Gus Ulil menekankan pentingnya prinsip tawakal dan sikap pasrah kepada Allah. Tawakal tidak berarti mengabaikan usaha, namun lebih kepada menyadari bahwa di balik segala usaha manusia, ada takdir Allah yang menentukan. Ia menjelaskan, sikap tawakal juga membantu manusia menerima kondisi apapun yang terjadi, termasuk saat terjadi hal-hal yang tidak terduga dalam urusan rezeki.
Lebih lanjut, Gus Ulil memberikan contoh tentang sistem gaji di masyarakat modern yang terprediksi setiap bulan, namun bisa saja tiba-tiba mengalami gangguan. Misalnya, sebuah sistem pembayaran gaji yang selama bertahun-tahun berjalan lancar tiba-tiba mengalami masalah teknis atau hack sehingga pembayaran tertunda. Kondisi ini menunjukkan bahwa sekuat apapun perencanaan manusia, masih ada faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka.
Dalam pandangan Gus Ulil, kegelisahan manusia modern muncul dari keinginan untuk mengendalikan dan memprediksi segala sesuatu. Manusia berusaha mempersempit wilayah ketidakpastian dalam hidup mereka, dan ini terkadang membuat mereka semakin cemas ketika menghadapi sesuatu yang tidak bisa diatur atau diprediksi.
Hal ini justru menjadi sumber keresahan baru, terutama dengan perkembangan teknologi yang semakin maju seperti AI (kecerdasan buatan) dan robotisasi, yang malah menciptakan kompleksitas baru dalam sistem ekonomi dan sosial. “Keresahan seperti itu tidak sehat,” tambahnya.
Apakah Imam Ghazali Melarang Keras dan Merencanakan Masa Depan?
Lantas jika ada yang bertanya, jika rezeki sudah diatur oleh Allah, apakah manusia tetap bekerja keras? Atau pertanyaan lebih ekstrem lagi, apakah Imam Ghazali melarang manusia bekerja keras dalam mencari rezeki dan menyusun masa depan?
Menurut Gus Ulil, Imam Ghazali sama sekali tidak melarang seseorang untuk bekerja keras dalam mencari rezeki. Pesan yang ingin disampaikan adalah manusia tetap harus berusaha sebaik mungkin untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Namun, usaha tersebut tidak boleh didasari oleh sikap rakus atau kecemasan yang berlebihan terhadap hasil yang akan diperoleh. Manusia boleh bekerja keras, tetapi harus tetap menyadari bahwa hasil akhirnya ada di tangan Allah. Dalam hal ini, Imam Ghazali ingin mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Lebih lanjut, Gus Ulil menjelaskan bahwa secara mental dan spiritual, manusia tidak boleh dikuasai oleh pikiran obsesif tentang hasil yang diinginkan. Tugas utama manusia adalah melakukan usaha sebaik mungkin, tetapi untuk hasilnya, serahkan sepenuhnya kepada Allah. Jika seseorang bekerja keras dan tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, maka ia harus menerima hal tersebut dengan lapang dada dan tidak gelisah karenanya. “Hasil akhir serahkan kepada Allah, tugas manusia ya bekerja keras saja,” jelas Gus Ulil.
Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, Imam Ghazali menyatakan:
فإذا انسدَّ عليه باب كان ينتظر الرزق منه .. فلا ينبغي أن يضطرب قلبه لأجله
Artinya; “Apabila tertutup baginya pintu rezeki yang selama ini ia harapkan, maka hatinya tidak seharusnya gelisah karenanya.” (hlm. 150).
Kutipan di atas menegaskan bahwa meskipun seseorang mengalami kegagalan atau tidak mendapatkan rezeki dari jalur yang diharapkan, hatinya tidak boleh gelisah dan terombang-ambing karenanya. Sikap batin yang tenang dan tawakal inilah yang menjadi inti dari ajaran Imam Ghazali. Seorang mukmin yang sejati harus mampu menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan, tanpa terbawa oleh kegelisahan yang berlebihan.
Oleh karena itu, dalam mencari rezeki, manusia memang dianjurkan bekerja keras, tetapi tidak boleh terjebak dalam sikap rakus dan kecemasan yang merusak ketenangan jiwa (فلا ينبغي أن يضطرب قلبه لأجله). Sebaliknya, bekerja keras harus dilandasi oleh keimanan dan keyakinan bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah, dan manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, bukan berarti manusia harus menyerah, tetapi ia harus tetap bersabar dan terus berikhtiar sembari memasrahkan hasilnya kepada Sang Pemberi Rezeki.
Pesan Gus Ulil ini sangat relevan dalam kehidupan modern yang penuh dengan kompetisi dan tekanan. Tidak sedikit orang yang terjebak dalam kecemasan berlebih tentang masa depan, hingga melupakan panduan Islam dalam mencari rezeki dan ketenangan hati. Melalui kajian Ngaji Ihya Online, Gus Ulil mengingatkan kembali pentingnya menjaga keseimbangan antara usaha yang maksimal dan ketenangan hati dalam menghadapi segala ketentuan rezeki dari Allah.
Editor: Muhammad Zunus


