Arina.id - Dalam sejarah Islam, banyak sosok yang memberikan teladan melalui akhlak, amal, dan pengorbanannya. Salah satu dari mereka adalah Uwais Al-Qarni, seorang pemuda dari Yaman yang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW. Meski tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah, keteladanan Uwais tetap dikenang hingga kini. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang keikhlasan, pengabdian, dan kesederhanaan.
Uwais Al-Qarni dikenal sebagai seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh dan buta. Uwais merawat ibunya dengan penuh kasih sayang, melayani segala kebutuhannya, bahkan mengorbankan kesempatan untuk bertemu Rasulullah demi memenuhi kewajibannya sebagai anak.
Salah satu kisah paling terkenal dari Uwais adalah ketika ibunya ingin menunaikan ibadah haji. Karena tidak memiliki biaya untuk menyewa kendaraan, Uwais membawa ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah dengan penuh kesabaran. Di pundaknya, ia membuat tandu sederhana agar ibunya dapat melakukan perjalanan dengan nyaman. Perjalanan panjang tersebut dilakukan dengan niat yang tulus semata-mata untuk memenuhi keinginan ibunya dan mendapatkan ridha Allah.
Diceritakan bahwa Uwais adalah seorang yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Ia pernah terjangkit penyakit sopak hingga kulitnya belang-belang. Saat sembuh, diriwayatkan masih ada sisa belang di kulitnya selebar uang 1 dirham.
Suatu ketika ibunya meminta ia berikhtiar agar bisa berangkat haji. Idealnya, saat itu semestinya perjalanan haji dilakukan dengan menunggang unta, mengingat medan yang harus ditempuh dari Yaman hingga Mekah sangat panjang dan melewati padang pasir tandus nan panas. Namun, Uwais sangat miskin. Ia lantas memutar otak. Ia temukan suatu solusi yang bagi sebagian orang sangat kontroversial.
Ia kemudian membeli seekor anak lembu yang tiap hari ia gendong naik turun bukit. Semakin bertambah hari, semakin bertambah berat bobot anak lembu yang sudah beranjak besar. Otot Uwais pun jadi semakin kuat. Setelah 8 bulan berlalu, Uwais merasa bahwa ia kini sudah siap.
Ia kemudian membuat semacam tandu yang ditempelkan di punggungnya, lengkap dengan penutup kepala yang cukup teduh. Ia menempatkan ibunya pada tandu tersebut dan memulai perjalanan haji dengan berjalan kaki. Ternyata selama ini, Uwais latihan menggendong anak lembu adalah untuk persiapan menggendong ibunya dalam perjalanan haji.
Saat mereka berdua berhasil sampai di Makkah dan menunaikan ibadah haji, ketika melaksanakan tawaf, Uwais senantiasa memanjatkan doa agar dosa-dosa ibunya diampuni. Sang ibu yang merasa keheranan bertanya mengapa ia tak meminta ampunan atas dosanya sendiri. Uwais menjawab bahwa jika dosa ibu terampuni, maka ibu akan masuk surga. Maka dengan itu, cukup keridloan dari ibunya yang akan menghantarkan ia masuk surga.
Kerinduan untuk Bertemu Rasulullah
Uwais juga pernah melakukan perjalanan ke Madinah untuk menemui Rasulullah yang sangat dirindukannya. Sayangnya, saat sampai di Madinah, Uwais belum berkesempatan menemui Rasulullah yang saat itu sedang melakukan ekspedisi perang. Sedikit bimbang, ia kemudian membulatkan hati pulang kembali ke Yaman, tidak menunggu Rasulullah pulang karena teringat pesan ibunya agar tidak pergi terlalu lama.
Saat Rasulullah kembali ke Madinah dan dikabari tentang kedatangan Uwais, beliau bersabda kepada Sahabat Umar bin Khattab dan Sahabat Ali bin Abi Thalib: “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”
Perjumpaan dengan Sahabat Umar
Dalam riwayat panjang yang tertera dalam Sahih Muslim no. 2542, dikisahkan bahwa suatu ketika Sahabat Umar bin Khattab menemui serombongan pasukan dari Yaman, beliau bertanya apakah Uwais ada di antara mereka. Umar lantas bertemu dengan Uwais dan berkata:
قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ». فَاسْتَغْفِرْ لِى. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ. قَالَ أَلاَ أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ
Artinya: "Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Meskipun tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah, Uwais mendapatkan penghormatan luar biasa dari beliau. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan Uwais di sisi Allah karena keikhlasan dan amalannya.
Kesederhanaan dan Kezuhudan
Umar pun kemudian meminta agar Uwais mendoakan Umar supaya diampuni oleh Allah, sebagaimana telah diwasiatkan oleh Rasulullah. Saat diketahui bahwa Uwais akan pergi ke Kufah, Umar menawari Uwais untuk menemui pejabat Kufah agar membantunya sambil membawa surat dari Umar. Ternyata, Uwais menolak dan lebih memilih hidup sederhana.
Uwais Al-Qarni tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia bekerja sebagai penggembala kambing untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meskipun demikian, ia selalu berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Kezuhudan Uwais tercermin dari sikapnya yang tidak terikat pada dunia. Ia lebih memilih kehidupan yang sederhana agar dapat lebih fokus pada ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ketika Khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib bertemu dengan Uwais, mereka meminta Uwais untuk mendoakan mereka sesuai dengan pesan Rasulullah. Namun, Uwais tetap rendah hati dan tidak pernah mencari popularitas atau pujian dari manusia. Ia memilih untuk hidup tanpa dikenal banyak orang, karena ia hanya menginginkan ridha Allah semata.
Pelajaran dari Kisah Uwais Al-Qarni
Kisah hidup Uwais Al-Qarni memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam, antara lain:
- Berbakti kepada Orang Tua; Keutamaan berbakti kepada orang tua tidak dapat disangkal. Uwais mengajarkan bahwa kebahagiaan dan ridha Allah dapat diraih melalui pengabdian kepada orang tua.
- Keikhlasan dalam Beramal; Semua amal yang dilakukan Uwais didasari oleh niat yang tulus untuk Allah, bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia.
- Kesederhanaan Hidup; Kekayaan materi bukanlah tujuan hidup. Kesederhanaan Uwais mengingatkan kita untuk fokus pada hal-hal yang abadi, yaitu akhirat.
- Kekuatan Doa; Doa Uwais begitu mustajab karena keikhlasan dan ketakwaannya. Hal ini mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah melalui doa.
Uwais Al-Qarni adalah sosok yang menginspirasi dengan keteladanannya dalam berbagai aspek kehidupan. Meskipun ia hidup jauh dari kemewahan dan pengakuan dunia, namanya tetap harum dalam sejarah Islam. Kisahnya mengingatkan kita bahwa keikhlasan, pengabdian kepada orang tua, dan kesederhanaan adalah jalan menuju kebahagiaan sejati dan kedekatan dengan Allah SWT. Wallahu a’lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


