Allah menahbiskan manusia sebagai ciptaan terbaik. Namun, Allah pun memberikan peringatan kepada mereka yang tidak beriman dengan menempatkan di tempat paling hina.
لقد خلق الإنسان في أحسن تقويم. ثم رددنه أسفل سفلين. إلا الدين ءامنوا وعملو الصلحت فلهم أجر غير ممنون
“Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; bagi mereka pahala yang tak putus-putus.” (QS. At-Tin : 5-7).
Al-Insan (manusia) secara zahir maupun batin adalah makhluk yang lebih baik dan lebih proporsional dari makhluk lainnya. Karena itulah Allah memilihnya sebagai khalifah di antara makhluk ciptaan Allah lainnya.
Ulama sufi agung, Ibnu Arabi dalam kitab Bulghatul Ghawash memberi suatu terminologi mengenai hakikat manusia.
أن الإنسان هو الكون باسره من حيث هو ثمرته، وهو سره من حيث انفراده عنه لأنه مراة تجلى الحق بالعالم بظهور أسمائه وصفاته، إذ لايتم التجلي التام الكامل بكل الأسماء جملة إلا بوجود آدم أعني نوع الإنسان.
“Sesungguhnya insan adalah keseluruhan alam dari segi bahwa ia adalah buahnya, dan ia adalah rahasianya dari segi keunikannya dari alam, karena ia adalah cermin tajalli al-Haqq bersama alam dengan dzuhur (penampakkan) nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya... Ingatlah bahwa tajalli yang penuh dan sempurna dengan keseluruhan nama-nama Tuhan tidak terjadi kecuali melalui wujud Adam, yaitu Insan.”
Secara ontologis manusia adalah makhluk sempurna ditinjau dari segi penciptaannya, dan itu berarti manusia memiliki keistimewaan dibanding makhluk lainnya. Kenapa? Karena dalam diri manusia memiliki sistem-sistem mekanis ilahi sebagai bentuk emanasi Tuhan, seperti akal untuk memahami, hati untuk perasa, nafsu untuk berkemauan, dan ruh untuk menyaksikan keghaiban yang metafisik.
Dalam pandangan Phytagoras, manusia memilik keserupaan (muqabalah) dengan seluruh alam semesta melalui fitrahnya (fitrah), dan dia merupakan sebuah mikrokosmos (alam shaghir), dan alam semesta adalah manusia yang besar (insan kabir). Nasibnya (hazhzh) berkaitan jiwa dan akal menjadi lebih sempurna (aufar). Jadi, siapa pun yang memperbaiki jiwa dan menyucikan akhlaq serta menjernihkan ahwal (keadaan spiritual), maka ia mampu memperoleh makrifat tentang alam semesta dan cara (kaifiyah) penciptaannya.
Syekh Abdul Karim al-Jili dalam kitab al-Insan al-Kamil fi Ma’rifati Awa’il wa Akhir berkata:
أعلم أن الإنسان الكامل هو الذي يستحق الأسماء الذاتية والصفات الإلهية استخقاق الأصالة والملك بحكم المقتضى الذاتي، فإنه المعبر عن حقيقته بتلك العبارات والمشار إلى لطيفته بتلك الإشارات، ليس لها مستند في الوجود إلا الإنسان الكامل، فمثاله للحق مثال المرآة التي لا يرى الشخص صورته إلا فيها، وإلا فلا يمكنه أن يرى صورة نفسه إلا بمرآة الاسم الله فهو مراته، والإنسان الكمال أيضاً مرآة الحق، فإن الحق تعالى أوجب على نفسه أن لا ترى أسماؤه ولا صفاته إلا في الإنسان الكامل، وهذا معنى قوله تعالى: "أنا عرضنا الأمانة على السموت والأرض والجبال فابين أن يحملنها واشفقن منها وحملها الإنسان إنه كان ظلوما جهولا" (سورة الأحزاب: ٧٢) يعني قد ظلم نفسه بأن أنزلها عن تلك الدرجة، جهولا بمقداره لأنه محل الأمانة الإلهية وهو لا يدري.
“Ketahuilah, bahwasanya insan kamil itu dialah yang berhak atas nama-nama yang berdimensi Dzat, dan sifat-sifat ilahiyah dengan akar kepemilikan yang berdasarkan kepatutan, berikut penguasaan berdasarkan hukum ketuhanan secara Dzat, semua metafor asma-asma dan sifat-sifat Nya yang berdimensikan Dzat terlanskapkan dalam diri insan kamil, pemisalan terhadap Al-Haq adalah semisal cermin yang orang bisa melihat bentuk gambar dirinya secara utuh di dalamnya, jika tidak maka orang tersebut tidak bisa melihat bentuk gambar dirinya kecuali dengan cermin asma Allah yang pada hakikatnya adalah cermin-Nya. Insan Kamil adalah cerminan Al-Haq. Pahamilah Al-Haq memaklumatkan Diri-Nya, tidak bisa dilihat asma-asma-Nya, sifat-sifat-Nya, kecuali pada diri insan kamil, itulah hakikat makna firman Allah: 'Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khwatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.' (QS. Al-Ahzab: 72). Yakni manusia dzalim dengan dirinya sendiri, karena ingkar terhadap amanat ketuhanan dan pengingkaran itu menurunkan kredibilitas dirinya dengan keagungan dan ketinggian derajat, manusia menjadi bodoh karena tidak memahami hakikat dirinya yang tidak lain pengemban amanat Ilahiyah. Maka hakikatnya manusia bodoh itu manusia yang tidak mengerti amanat Ilahiyah yang harus dipikul dan yang wajib ditunaikan.”
Al-Jili memandang insan kamil sebagai wajah tajalli Tuhan paripurna, akan tetapi kebanyakan manusia tidak memahami hakikat dirinya. Sebagai mana ayat QS. Al-Ahzab: 72 di atas, manusia menjadi bodoh karena tidak memahami hakikat dirinya yang tidak lain pengemban amanat Ilahiyah. Sebagai firman Allah "Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”
Syekh Abdul Qadir al-Jaelani dalam Tafsir al-Jaelani menafisirkan maksud ayat ini, “Kami turunkan ia dari martabat yang tinggi dan derajat yang luhur ke tempat yang serendah-rendahnya, yaitu kebutuhan-kebutuhan dunia (cinta dunia), rantai angan-angan, dan belenggu, harapannya yang sudah pasti bisa menjatuhkan manusia ke dasar neraka.
Manusia-manusia yang terhijab dengan keegoan dirinya (ananiah) membuat manusia tidak bisa menggapai derajat al-Insan al-Kamil (manusia sempurna), sehingga manusia tersebut jatuh ke derajat al-Insan Hewaniyah (manusia bersifat kebinatangan). Yaitu manusia yang tidak bisa memfungsikan akal, hati, dan ruhaninya, sehingga dalam kehidupan hanya memikirkan kesenangan syahwat dan nafsu. Kenapa demikian? Sebab sifat-sifat negatif yang telah menguasai dalam diri manusia yaitu, kekufuran, kenifakan, kefasiqan, dan kemusyrikan. Faktor-faktor ini merupakan tabir penghalang antara manusia dan Tuhannya.
Mengapai Manusia Sempurna
Bagi penempuh jalan tarekat, problematika batin manusia tidak cukup diselesaikan sebatas menunaikan rukun-rukun Islam dan Iman saja. Perlu menghadirkan ajaran tasawauf sebagai pendidikan spiritual (tarbiyah ruhani), memperbaiki jiwa, menyucikan akhlaq, dan menjernihkan ahwal (keadaan spiritual) melaui seorang guru tarekat/sufi (Syekh atau muryid yang kamil) sebagai jalan utama untuk dapat memperoleh derajat al-Insan al-Kamil.
Dalam mencapai derajat al-Insan al-Kamil, seseorang harus memulainya dengan melakukan pengalaman rukun Ihsan secara baik dan dilakukan secara lahir dan batin. Dari segi lahir hendaknya manusia dalam melakukan amalan tersebut dilakukan dengan merujuk pada rukun Islam yaitu ketentuan syari’at, sementara dari segi batin adalah dengan melakukan penghayatan terhadap amalan-amalan yang dilakukan melaui rukun Iman.
Setelah seorang penempuh jalam sufi (tarekat) mengamalkan dan menghayati rukun Islam, kemudian meyakini rukun Iman secara mantap seperti meyakini sesuatu yang ditangkap oleh pancaindra, maka barulah ia sampai ke rukun Ihsan. Karena Ihsan menurut ulama sufi adalah cahaya dari cahaya Ilahi, melalui cahaya tersebut, seorang penempuh jalan sufi dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata kepala.
Fase selanjutnya, setelah menghayati rukun Islam, Iman dan Ihsan, oleh al-Jili menjelaskan penganut sufi akan masuk pada tingkat al-Shalah (kesalehan). Pada fase ini, seorang sufi mengamalkan amalan-amalan ibadah kepada Allah atas dasar khauf (takut) dan raja’ (harap). Setelah itu baru seorang sufi masuk pada fase al-Ihsan (kebajikan) dengan menempuh tujuh macam maqam: yaitu maqam tobat, inabah, zuhud, tawakal, rela, tafwidl, dan ikhlas. Sebagai mana maksud Firman Allah Swt di atas, “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal Shaleh; bagi mereka pahala yang tak putus-putus”
Pada maqam tawakal, seorang sufi sebenarnya telah masuk pada tingkat awal dari tajalli Tuhan yakni tajalli al-Af’al. Pada tingkatan ini seorang sufi telah disinari oleh perbuatan Tuhan. Tingkatan selanjutnya yang dimasuki oleh seorang sufi adalah tingkatan al-Syahadah(penyaksian). Dalam tingkatan ini, dia dituntut untuk meyakinkan kemauannya dalam mencintai Allah, dengan cara mengingat Allah sekaligus menahan hawa nafsu. Setelah ia menyelesaikan tingkatan tersebut, ia masuk pada tingkatan al-Shiddiqiyah (kebenaran). Pada tingkatan ini, seorang sufi mencapai tingkat makrifat dalam tiga bentuk: 1) ‘ilm al-Yaqin; 2) ‘ayn al-Yaqin; 3) haqq al-Yaqin. Pada tingkat yang pertama, seorang sufi disinari oleh asma Tuhan; pada tingkat kedua, ia disinari oleh sifat-sifat Tuhan; pada sinar ketiga, ia disinari oleh dzat Tuhan. Dengan demikian, diri sufi mengalami fana dalam asma, sifat, dan dzat Tuhan.
Sebagai babak akhir, setelah seorang sufi mengalami tingkat al-Shiddiqiyah, barulah ia mencapai tahap qurbah, yakni berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Pada fase ini seorang sufi bisa dikatakan telah mencapai derajat sebagai al-Insan al-Kamil.
Budi Handoyo
Dosen Prodi Hukum Tatanegara, Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam, STAIN Teungku Dirundeng, Meulaboh, Aceh.
Editor: Muhammad Zunus


