Arina.id - Agama Islam mengajarkan umatnya untuk bisa mengendalikan diri, baik dalam perilaku maupun ucapan. Ketika emosi sudah tidak terkendali bisa membuat seseorang hilang kesadaran dan melakukan tindakan atau melontarkan kata-kata yang bisa berakhir dengan penyesalan, karena ucapan bisa menjadi doa yang berpotensi menjadi kenyataan. Hal ini tergambar dalam sebuah kisah penyesalah seorang ayah yang kehilangan anaknya karena ucapannya sendiri.
Dikisahkan oleh Khalid bin Sulaiman Ar-Ruba‘i dalam kitab Min ‘Aja’ibid Du’a, (Riyadh, Darul Qasim: 1423 H) halaman 83-84, ada seorang anak saleh yang berbakti pada kedua orang tuanya. Suatu malam, anak itu meminta izin kepada ayahnya untuk mencari udara segar setelah penat mengerjakan tugas belajar. Melihat situasi sudah mulai larut malam, ayahnya pun tidak mengizinkan.
“Nak, jangan keluar, semoga Allah membimbingmu. Orang-orang sedang tidur dan kamu pun sudah memakai baju tidur,” ucap sang ayah.
“Cuma sebentar kok, Yah. Aku keluar memakai pakaian tidur dan akan segera pulang,” kata sang anak mencoba membujuk.
Namun ayahnya tetap pada pendiriannya dan tidak mengizinkan anaknya keluar. Anak itu pun hanya terdiam dan tidak membantah keputusan ayahnya. Tidak lama kemudian, anak saleh ini mencoba membujuk ibunya untuk meminta izin karena ayahnya tidak mengizinkan. Ibunya mencoba menenangkan anaknya dan berusaha berbicara dengan suaminya.
“Anak kita ini saleh dan cukup berbakti. Biarkan dia keluar sebentar nanti juga kembali lagi,” bujuk ibu anak itu pada suaminya.
Dengan nada penuh emosi, ayah anak itu mengatakan:
“Ya sudah, biarkan dia pergi! Semoga Allah tidak mengembalikannya,” ucap sang ayah yang disusul anaknya pergi keluar.
Beberapa saat kemudian, orang tua anak ini mulai gelisah karena sudah berjam-jam lamanya anak saleh itu tak kunjung pulang. Usai melaksanakan shalat Subuh, orang tuanya mulai mencari keberadaan anaknya. Tak disangka, ternyata anaknya mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia. Ayahnya menangis penuh penyesalan karena sudah melontarkan kata-kata tidak baik yang ternyata menjadi kenyataan.
***
Kisah singkat ini memberikan hikmah dan pelajaran agar kita selalu bisa mengendalikan diri sehingga tidak sembarangan dalam bertindak dan berucap. Biasanya, tindakan atau ucapan yang dilandasi oleh amarah akan berakhir penyesalan dan menimbulkan akibat yang tidak baik, sebagaimana terjadi pada kisah di atas.
Kisah ini juga mengajarkan kepada umat Islam, khususnya para orang tua, agar selalu menjaga lisan dengan mengucapkan kata-kata dan kalimat positif saat berkomunikasi dan berinteraksi dengan anaknya. Bisa jadi, kata atau kalimat yang diucapkan itu mengandung kekuatan doa yang akan terwujud menjadi kenyataan. Wallahu a’lam.
Editor: Aiz Luthfi


