Dark
Light
Dark
Light

Shafa-Marwa dan Siti Hajar: Kisah Ketaatan Lintas Batas Logika dan Waktu

Shafa-Marwa dan Siti Hajar: Kisah Ketaatan Lintas Batas Logika dan Waktu

وَإِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ ٱللَّهِ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah.” (QS Al-Baqarah: 158)

Dalam setiap langkah Sa’i, berlari kecil antara Shafa dan Marwa, tersimpan warisan spiritual yang sangat mendalam dan menyentuh: tentang keteguhan iman, ketulusan cinta seorang ibu, dan keberanian untuk berharap di tengah ketidakpastian.

Sa’i bukan sekadar bagian dari manasik yang dilakukan secara fisik. Ia adalah zikir yang berjalan, doa yang bergerak, dan cermin dari perjuangan manusia yang paling hakiki: mencari harapan ketika tak ada jalan yang terlihat.

Di tengah padang gersang Makkah, Siti Hajar—seorang perempuan yang ditinggal bersama bayinya oleh suaminya demi perintah Ilahi—memilih untuk tidak menyerah. Ia tidak duduk diam menunggu mukjizat turun dari langit.

Ia berlari. Ia mendaki. Ia turun. Ia ulangi langkah itu tujuh kali, bolak-balik antara dua bukit batu yang kering. Ia tidak tahu kapan pertolongan akan datang, atau dari arah mana, tapi ia tahu bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang bertawakal dan berikhtiar.

Dan benar saja, ketika semua usaha telah dicurahkan dan seluruh harapan ditumpahkan dalam setiap langkahnya, zamzam pun memancar—bukan dari puncak bukit yang didakinya, melainkan dari bawah kaki sang bayi, Ismail. Sebuah isyarat ilahi bahwa pertolongan Allah kadang hadir dari arah yang tak disangka, di saat kita telah menunaikan bagian kita dengan sepenuh jiwa.

Ali Shariati menulis, “Sa’i adalah pencarian—gerak dengan tujuan.” Ia membedakan antara Tawaf yang merepresentasikan cinta mutlak kepada Allah—Tawaf: Allah only!—dan Sa’i yang mencerminkan perjuangan manusia di bumi—Sa’i: Mankind only!.

Dalam Tawaf, manusia mengelilingi pusat cinta, melebur dalam orbit spiritual sebagai “partikel yang mencari makna.” Sedangkan dalam Sa’i, kita bertransformasi menjadi elang yang terbang tinggi, menyisir batuan keras, mencari air kehidupan demi kelangsungan umat.

Siti Hajar, seorang perempuan dan ibu, menjadi tokoh sentral dalam kisah spiritual ini. Ia tidak pasrah dalam diam. Ia tidak menunggu mukjizat di tempat. Ia berlari. Ia mencoba. Ia mendaki. Ia turun. Ia mengulanginya tujuh kali. Dan saat ikhtiar telah sempurna, pertolongan Allah tiba dari arah yang tak pernah diduga.

Ali Shariati menulis: “Dengan kekuatan iman, Hajar menolak semua logika. Ini adalah Tawaf! Tapi berbeda dari banyak orang saleh yang hanya duduk dan menunggu, ia segera bangkit dan berlari—ini adalah Sa’i!” 

Setiap peziarah yang menapaki jalur ini tidak sekadar mengikuti ritus, melainkan membangkitkan kembali narasi perjuangan manusia dalam mencari makna di tengah dunia yang kering secara spiritual. Dalam lintasan antara dua bukit ini, kita dididik bahwa kebergantungan pada Allah tidak menafikan perjuangan, dan sebaliknya, ikhtiar tanpa keimanan hanyalah gerak mekanis tanpa ruh.

Bahkan dalam bagian harwala (lari kecil antara dua pilar hijau), kita diajak untuk mempercepat langkah. Seolah mengajarkan bahwa dalam perjuangan, ada momen di mana kita tidak cukup hanya berjalan—kita harus berlari, mengerahkan segenap tenaga.

Di sinilah Allah melihat kesungguhan kita. Seperti Siti Hajar, kita terus berlari meski tak tahu di mana air berada. Keyakinanlah yang menjadi bahan bakar kita.

Akhiri Sa’i kita bukan dengan rasa lelah, tetapi dengan keyakinan bahwa semua usaha yang ikhlas tak pernah sia-sia. Di bawah kaki ikhtiar yang tulus, akan muncul zamzam yang tak terduga. Sa’i bukan sekadar gerakan fisik, tetapi pengejawantahan keberanian untuk bergerak meski tak ada kepastian hasil.

Ali Shariati mengakhiri refleksinya dengan pesan yang menukik “Haji bukan ziarah, tapi keputusan! Bukan seremonial, tapi revolusi!”  Demikian pula Sa’i. Ia bukan sekadar bolak-balik Shafa-Marwa, tapi pengingat abadi bahwa cinta dan perjuangan harus selalu berjalan beriringan.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo