Dark
Light
Dark
Light

Kisah Umar bin Khattab Adili Putra Pejabat yang Menyakiti Non-Muslim

Kisah Umar bin Khattab Adili Putra Pejabat yang Menyakiti Non-Muslim

Arind.id - Saat berbicara tentang keadilan dalam sejarah Islam, nama Umar bin Khattab selalu menjadi sorotan utama. Sosok khalifah kedua ini dikenal karena keberaniannya membela kebenaran, siapa pun pelakunya. Tak peduli apakah yang berbuat salah itu anak pejabat atau rakyat biasa. Salah satu kisah paling menggugah adalah ketika Umar membela seorang pemuda Koptik Mesir dari tindakan sewenang-wenang putra gubernurnya sendiri, Muhammad bin Amr bin Ash. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Hasan dalam kitab Durus (tanpa tahun: juz 12, h. 47).

Kisah bermula dari sebuah perlombaan kuda di tanah Mesir, yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Amr bin Ash sebagai gubernur. Seorang pemuda Koptik atau Qibthi (penduduk asli Mesir non-Muslim) mengalahkan Muhammad bin Amr bin Ash dalam adu cepat. Namun, kemenangan itu malah berbuah petaka. Merasa dipermalukan, Muhammad memukul sang pemuda seraya berkata:

“Terimalah ini! Aku adalah anak orang-orang terhormat.”

Tindakan "arogan" tersebut melukai harga diri sang Koptik. Ia tahu bahwa tubuhnya yang lemah tak sanggup melawan putra gubernur yang kuat dan berkuasa. Tapi ia juga tahu, masih ada harapan dari pemimpin tertinggi kaum Muslimin. Maka ia bergegas menuju Madinah, menempuh perjalanan jauh demi menuntut keadilan kepada Khalifah Umar bin Khattab, sang Amirul Mukminin yang terkenal tegas dan jujur.

Sesampainya di Madinah, pemuda Koptik itu masuk ke Masjid Nabawi, tempat Umar biasa menerima rakyat. Dengan lantang ia berkata,

“Ini tempat orang yang memohon perlindungan, wahai Amirul Mukminin!” kata pemuda itu.

Umar yang tersentak dengan kalimat itu langsung menyambutnya dan menanyakan identitasnya.

“Saya seorang Koptik dari Mesir,” jawabnya.

Lalu sang pemuda menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya.

Mendengar cerita itu, Umar tidak tinggal diam. Ia segera menulis surat kepada Amr bin Ash, gubernur Mesir sekaligus ayah pelaku. Dalam surat itu, Umar memerintahkan Amr datang ke Madinah bersama anaknya. Tanpa berani membantah, Amr dan Muhammad segera berangkat ke pusat pemerintahan Islam, menghadapi apa pun yang akan diputuskan oleh sang khalifah.

Sesampainya di Madinah, keduanya dibawa menghadap Umar. Khalifah itu memanggil pemuda Koptik dan berkata,

“Ambillah cambuk, dan pukullah anak orang-orang mulia itu!”

Tanpa ragu, si pemuda memukul Muhammad di hadapan ayahnya dan khalifah. Umar lalu berkata,

“Pukullah juga kepala Amr bin Ash! Demi Allah, yang memukulmu adalah karena kekuasaan ayahnya.”

Namun, pemuda Koptik itu menolak.

“Aku hanya dipukul oleh anaknya, bukan oleh sang ayah,” katanya.

Umar pun puas dengan keadilan yang telah ditegakkan, lalu berbalik kepada Amr bin Ash dan menyampaikan kalimat legendaris yang hingga kini dikenang,

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?”

Kalimat itu menggema dalam sejarah sebagai tonggak penting dalam keadilan sosial Islam. Umar bin Khattab tidak membiarkan status sosial atau jabatan menghalangi tegaknya kebenaran. Meski yang berbuat salah adalah anak dari seorang pejabat tinggi, ia tetap harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Itulah prinsip keadilan yang tidak memandang bulu, dan menjadi ciri khas pemerintahan Umar.

***

Kisah penuh hikmah ini bukan hanya kisah sejarah biasa, tetapi merupakan prinsip besar dalam Islam bahwa keadilan harus ditegakkan kepada siapa pun, tanpa pandang agama, jabatan, ataupun garis keturunan. Sang pemuda Koptik bukan Muslim, tapi ia tetap mendapat perlindungan hukum dari negara Islam. Inilah toleransi sejati yang dibangun Umar bin Khattab dalam pemerintahannya.

Tindakan Umar ini membuktikan bahwa dalam Islam, pemimpin tidak boleh membela keluarga jika mereka bersalah. Kepentingan rakyat lebih utama dari relasi pribadi. Sebaliknya, rakyat berhak mendapat keadilan, bahkan dari pucuk pimpinan tertinggi negara. Tidak ada tirani mayoritas, tidak ada istimewa karena garis keturunan. Hukum ditegakkan secara setara untuk semua.

Bandingkan dengan kondisi zaman sekarang. Masih banyak masyarakat yang tak berdaya jika berhadapan dengan anak pejabat atau orang kuat. Laporan tidak ditindak, keadilan tak kunjung datang, bahkan korban yang dikriminalisasi. Kisah Umar ini seperti cermin yang menampar kita semua, sebuah pelajaran dari masa lalu tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin berlaku.

Pesan moral dari kisah ini sangat kuat. Keadilan tidak boleh tunduk pada kekuasaan. Ketika rakyat kecil percaya pada pemimpinnya, dan pemimpin benar-benar melindungi rakyat tanpa pilih kasih, di situlah kepercayaan publik tumbuh. Umar bin Khattab mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan fasilitas untuk menindas. Pemimpin sejati tak gentar menghukum anak pejabat jika memang bersalah.

Akhir kaata, kisah Umar bin Khattab ini adalah warisan moral yang tak lekang oleh zaman. Ia bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga teladan nyata bagaimana kepemimpinan harus dijalankan. Keberpihakan pada keadilan, meski terhadap lawan keyakinan atau anak pejabat sendiri, adalah puncak integritas. Jika prinsip ini hidup di hati para pemimpin kita hari ini, maka bangsa ini tak hanya adil di atas kertas, tapi juga adil dalam kenyataan. Wallahu a'lam. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo