Dark
Light
Dark
Light

Ketika Dakwah Nabi di Thaif Bertepuk Sebalah Tangan

Ketika Dakwah Nabi di Thaif Bertepuk Sebalah Tangan

Arina.id — Setelah wafatnya dua pelindung utama Nabi Muhammad SAW, yakni istri beliau, Khadijah binti Khuwailid, dan sang paman, Abu Thalib, Nabi menghadapi masa yang sangat berat di Makkah. Sejumlah tekanan, hinaan, hingga ancaman penyiksaan dari kaum Quraisy semakin menjadi-jadi.

Dalam suasana penuh duka ini, pada akhir bulan Syawal di tahun ke-10 kenabian, Muhammad SAW memutuskan melakukan perjalanan dakwah yang monumental ke Kota Thaif.

Latar Belakang Perjalanan
Thaif dikenal sebagai kawasan subur yang terletak sekitar 80 kilometer dari Makkah. Kota ini dihuni Bani Tsaqif yang dikenal kaya dan berpengaruh. Nabi Muhammad berpikir jika pemimpin Thaif mau menerima Islam, maka dakwah bisa menemukan tempat perlindungan baru dan potensi besar untuk menyebar lebih luas.

Dengan penuh harap, Nabi SAW ditemani oleh Zaid bin Haritsah melakukan perjalanan yang tidak mudah melewati pegunungan menuju Thaif.

Sayangnya, sambutan yang diharapkan tidak terjadi. Tiga tokoh utama Thaif—Abdu Yalayl, Mas'ud, dan Habib, ketiganya putra Amr bin Umair—tidak hanya menolak dakwah Rasulullah SAW, tetapi juga menghinakan beliau dengan kata-kata kasar dan menghasut masyarakat untuk mengusir beliau.

Massa yang telah dibakar semangatnya kemudian melempari Nabi dengan batu. Kaki beliau berdarah, hingga darah membasahi kedua alas kakinya. Dalam kondisi lemah dan terluka, Nabi dan Zaid bin Haritsah mencari perlindungan di sebuah kebun milik dua orang Quraisy, Utbah dan Syaibah.

Kejadian ini terekam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh istri Nabi, yakni Sayidah Aisyah:


هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah terjadi kepadamu  satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’alib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril AS, lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung)’.” Lalu Rasulullah SAW menjawab: '(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim)

Doa Nabi di Thaif

Dalam kegetiran tersebut, Rasulullah mengangkat tangan dan berdoa, bukan memohon kebinasaan bagi penduduk Thaif, melainkan memohon rahmat dan petunjuk bagi mereka. Doa beliau menjadi bukti kelembutan hati dan kebesaran akhlak beliau.

Berikut salah satu isi doa Nabi yang terkenal, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir:


اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ 

"Ya Allah, berikanlah hidayah kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui... ".

Pertolongan Allah dan Pelajaran Besar

Saat berlindung dari serangan dan hinaan orang-orang Thaif, Nabi berlindung di dalam kebun dan diperlakukan dengan baik oleh seorang budak bernama Addas, yang berasal dari Ninawa (daerah Nabi Yunus). Addas terkesan dengan kata-kata Nabi SAW dan akhirnya memeluk Islam. Ini menunjukkan bahwa meski penolakan besar terjadi, Allah tetap memberikan pertolongan-Nya melalui jalan yang tidak terduga.

Peristiwa dakwah ke Thaif mengajarkan kepada umat Islam tentang kesabaran, keteguhan, dan pentingnya menyerahkan hasil usaha sepenuhnya kepada Allah. Meskipun secara lahiriah perjalanan ini tampak gagal, namun justru menjadi salah satu fondasi penting bagi kelanjutan dakwah Islam di masa depan.

Beberapa tahun kemudian, berkat kesabaran itu, penduduk Thaif akhirnya masuk Islam secara sukarela setelah Fathu Makkah. Kejadian tersebut terjadi sekitar 10 tahun sesudah perisitiwa penolakan ini, tepatnya pada tahun ke 20 pasca kenabian.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo