Dikisahkan, dua perempuan Badui yang sedang beribadah mengelilingi Ka'bah. Salah satu dari keduanya memanjatkan doa dengan khusyuk sembari bernazar.
“Wahai Lailah! Jika Engkau turunkan hujan di tanah kami sehingga tumbuh kebaikan, maka aku akan memberimu sebotol minyak untuk membasahi rambutmu”.
Mendengar doa yang disampaikan temannya, perempuan satunya bertanya. “Apakah kamu benar-benar akan memberinya?”
Perempuan pertama menjawab : “Diam! Aku sedang mengakalinya. Kalau dia sudah menurunkan hujan, aku tidak akan memberinya apa-apa.”
Kisah ini adalah gambaran bagaimana kondisi zaman jahiliyah di kawasan Arab tempo dulu. Perempuan ini sedang memohon kepada patung-patung yang dulu berada di sekitar Ka'bah yang dibuat sendiri kemudian diangkat menjadi tuhan mereka.
Riwayat ini ditulis Philip K Hitti dalam History of The Arabs yang menggambarkan bagaimana praktik berhaji orang-orang Arab pra-Islam. Mereka mempraktikkan cara-cara beribadah di Ka'bah yang memunculkan istilah jahiliyah.
Sebenarnya, ragam literatur sejarah mencatat, Bangsa Arab pra-Islam telah memiliki kebudayaan dan tradisi baca tulis yang baik. Mereka banyak melahirkan penyair-penyair besar. Sebut saja Zuhair ibn Abi Sulma, Qus bin Syaidah Aliyyadi adalah deretan penyair besar yang ketika membaca syair-syairnya laksana terdengar alunan musik yang menghanyutkan.
Syair-syair Zuhair, Qus, dan juga para pujangga kesohor Arab lainnya biasa ditempel di dinding Ka'bah, dihafal dan dihormati oleh setiap orang yang melintas.
Pun demikian, bangsa Arab pra-Islam tidak bisa dikatakan sebagai bangsa terbelakang. Faktanya, mereka mempunyai catatan-catatan perjalanan para peziarah. Kabilah-kabilah mereka begitu ekspansif dan masyhur hingga ke luar wilayah Hijaz. Itu sebabnya Philip K Hitti menolak pemaknaan periode Jahiliy Arab sebagai masa kebodohan yang bar-bar.
Arab Jahiliyah, kata Hitti, lebih pas dimaknai sebagai periode kekosongan bangsa Arab akan ketiadaan otoritas hukum, nabi, dan kitab suci. Tradisi keagamaan yang diajarkan para nabi terdahulu terputus dan tergantikan dengan ritual-ritual jahiliyah dalam visual patung-patung ciptaannya yang disembah dan dimintai pertolongan.
Ibadah haji yang sakral, yang menjadi syariat agama sejak kenabian Ibrahim dan terwariskan dalam ajaran masyarakat Semit adalah contoh nyata bagaimana bangsa Arab tidak memiliki kemampuan mempraktikkan ajaran agama yang berorientasi pada keagungan Tuhan.
Kaum Quraish dan orang-orang sekitarnya memang mengultuskan Ka’bah dan melaksanakan haji, termasuk melakukan Wukuf di Arafah. Hanya saja, sejumlah patung tetap digantungkan di dinding Ka’bah dan kepada berhala- berhala itulah mereka memohon keinginan.
Pelaksanaan tawaf dilakukan dengan telanjang, juga praktik-praktik rasial diumbar sedemikian rupa ketika prosesi haji selesai (tahallul). Pada periode inilah yang kata Hitti disebut sebagai “zaman kekosongan”. Ibadah haji dan keberadaan Ka'bah justru berubah dan mengarah kepada kemusyrikan.
Editor: Muhammad Faizin


