Dark
Light
Dark
Light

Memahami Sya’ban sebagai Bulan Shalawat Nabi

Memahami Sya’ban sebagai Bulan Shalawat Nabi

Bulan Sya’ban merupakan salah satu momen yang dimuliakan oleh Allah swt. Pada bulan ini terdapat sejumlah anjuran, salah satunya adalah memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Sebab, sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Ma Dza fi Sya’ban, pada bulan ke-8 dalam kalender Hijriah ini turun ayat tentang anjuran bagi umat Muslim untuk memperbanyak shalawat (Muhammad, 2003: h. 25)

Ayat yang dimaksud adalah firman Allah swt berikut: 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ۝٥٦

Artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersgalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”(QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini secara tegas menganjurkan umat Muslim untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi. Lafaz shallu (bershalawatlah kalian) merupakan kata perintah yang bersifat anjuran kepada seluruh umat Muslim. 

Jika dipahami dengan seksama, ayat tersebut mengandung tiga jenis shalawat yang ditujukan kepada Nabi, yaitu shalawat dari Allah, shalawat dari para malaikat, dan shalawat dari manusia. Masing-masing memiliki makna yang berbeda dan mencerminkan hubungan yang unik antara Nabi Muhammad dengan Sang Pencipta, para malaikat, serta umatnya. 

Pemahaman mengenai perbedaan ini menjadi penting karena mencerminkan kedudukan Nabi yang sangat istimewa di sisi Allah serta penghormatan yang diberikan oleh seluruh makhluk kepada beliau.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa shalawat Allah kepada Nabi merupakan bentuk pujian (tsana) dan pemuliaan (ikram) yang menunjukkan kedudukan yang agung pada beliau. Hal ini menunjukkan bahwa Allah sendiri mengangkat dan mengabadikan nama serta keutamaan Nabi Muhammad saw di antara seluruh makhluk-Nya. Pujian ini menjadi bukti keutamaan dan kemuliaan Nabi yang tiada banding.

Sementara itu, shalawat dari para malaikat memiliki makna sebagai permohonan ampunan dan rahmat bagi Nabi. Sebagai makhluk yang senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah, para malaikat turut mendoakan kebaikan bagi Rasulullah saw. Doa ini menunjukkan betapa para malaikat pun mengakui kebesaran Nabi serta turut serta dalam menyanjung dan mengharapkan kebaikan baginya.

Sedangkan shalawat manusia kepada Nabi memiliki makna yang berbeda dari dua sebelumnya, yaitu sebagai bentuk doa serta penghambaan kepada Allah dengan cara memohon keberkahan dan kedudukan tinggi bagi Nabi Muhammad saw. Shalawat ini tidak hanya sebagai wujud cinta kepada Rasulullah, tetapi juga sebagai sarana bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, kita dianjurkan baca shalawat sebelum dan sesudah berdoa agar lebih mudah dikabulkan oleh Allah. (Ibnu Katsir, 1999: juz 6, h. 457)

Penafsiran Ibnu Katsir ini juga diperkuat oleh para ulama lain, di antaranya Syamsuddin as-Sffarini dalam Ghaza’ul Albab sebagai berikut:

والصلاة من الله الرحمة ، ومن الملائكة الاستغفار ، ومن الآدميين التضرع والدعاء بخير . قال الضحاك : صلاة الله رحمته ، وصلاة الملائكة الدعاء .

Artinya, “Shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah permohonan ampunan, dan dari manusia adalah kerendahan diri dan doa dengan kebaikan. Ad-Dahak berkata: Shalawat Allah adalah rahmat-Nya, dan shalawat malaikat adalah doa." (as-Sffarini, tanpa tahun: juz 1, h. 21)

Keutamaan Membaca Shalawat

Ada banyak hadits Nabi yang menjelaskan keutamaan bershalawat, di antaranya adalah beberapa hadits berikut:

سمعَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ رجلًا يَدعو في صلاتِهِ لم يُمجِّدِ اللَّهَ تعالى ولم يُصلِّ علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عجِلَ هذا ثمَّ دعاهُ فقالَ لَهُ أو لغيرِهِ إذا صلَّى أحدُكُم فليَبدَأ بتَمجيدِ ربِّهِ جلَّ وعزَّ والثَّناءِ علَيهِ ثمَّ يصلِّي علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ يَدعو بَعدُ بما شاءَ.

Artinya, “Rasulullah saw mendengar seseorang berdoa dalam salatnya tanpa mengagungkan Allah Ta'ala dan tanpa bershalawat kepada Nabi saw. Maka Rasulullah bersabda, 'Orang ini terburu-buru.' Kemudian beliau memanggilnya dan berkata kepadanya atau kepada orang lain, 'Apabila salah seorang di antara kalian salat, maka hendaklah ia memulai dengan mengagungkan Tuhannya Yang Maha Agung dan Maha Mulia, serta memuji-Nya. Kemudian bershalawat kepada Nabi, lalu berdoa setelah itu dengan apa yang ia kehendaki.” (HR Abu Dawud)

Hadits ini menganjurkan kita untuk menyertakan shalawat kepada Nabi Muhammad saw sebelum dan sesudah berdoa. Tujuannya agar doa kita lebih mudah dikabulkan oleh Allah swt. Analogi sederhananya, ketika kita ingin meminta sesuatu kepada seseorang, kita akan mendekati orang yang paling dekat dengannya. Melalui perantara orang dekatnya tersebut, permintaan kita akan lebih mudah dikabulkan.

Sama halnya ketika kita berdoa kepada Allah swt, dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw (sosok yang paling dekat dengan Allah), doa kita akan lebih mudah dikabulkan. Shalawat menjadi wasilah atau perantara yang sangat istimewa. Ia menjadi bukti cinta kita kepada Nabi sekaligus adab kita kepada Allah. Maka, perbanyaklah shalawat agar doa-doa kita diijabah.

Selain memudahkan dikabulkannya doa, membaca shalawat juga memiliki nilai pahala tersendiri. Sebab, saat kita membaca shalawat, Allah akan membalasnya sebanyak sepuluh kali lipat. Hal ini sebagaimana hadits berikut:

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا رواه مسلم.

Artinya, “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Hadits ini menjelaskan bahwa pahala satu kali membaca shalawat kepada Nabi adalah sepuluh kali lipat dari shalawat itu sendiri. Dengan memperbanyak shalawat, terutama di bulan Sya’an yang dijuluki sebagai bulan shalawat, maka kita akan memperoleh banyak pahala. Bayangkan, jika kita membaca 100 shalawat saja, berarti kita memperoleh pahala 1000 kali shalawat. 

Kemudian, keutamaan lain yang diperoleh orang yang membaca shalawat adalah penghapusan dosa dan peningkatan derajat kemuliaan di sisi Allah swt. Nabi bersabda:

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً صلَّى اللَّهُ عليهِ عشرَ صلَواتٍ ، وحُطَّت عنهُ عشرُ خطيئاتٍ ، ورُفِعَت لَهُ عشرُ درجاتٍ

Artinya, “Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula’.” (HR Ahmad).

Hadits tersebut diperkuat dengan sabda Nabi berikut:

ما من عبد مؤمن يذكرني فيصلي علي إلا كتب الله له عشر حسنات ، ومحا عنه عشر سيئات ، ورفع له عشر درجاتِ.

Artinya, “Seorang mukmin yang menyebut namaku, kemudian ia membaca shalawat, maka Allah akan membalasnya sepuluh kebaikan, menghapuskan sepuluh keburukan, dan mengangkatnya sepuluh derajat.” (HR. An-Nasai)

Mari jadikan bulan Sya’ban sebagai momen memperbanyak ibadah, termasuk shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Dengan memperbanyak shalawat, semoga kita diberikan usia panjang sehingga bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Amin.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo