Dark
Light
Dark
Light

Saat Mbah Hasyim dan Ribuan Jamaah Hadiri Pembentukan NU Kediri

Saat Mbah Hasyim dan Ribuan Jamaah Hadiri Pembentukan NU Kediri

Oleh Muhammad Alwi Hasan

Nahdlatul Ulama (NU) menyimpan sejarah kelahiran yang berliku, termasuk sejumlah faktor yang memengaruhi proses berdirinya jam’iyyah diniyyah terbesar di Indonesia ini. Kelahiran NU tentunya juga beriringan dengan sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Seperti kesadaran ketersengasaraan penjajahan Belanda maupun akibat kungkungan tradisi yang menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa melalui jalur pendidikan dan organisasi.

Gerakan-gerakan pendidikan yang membebaskan, muncul sekitar tahun 1908 yang dikenal dengan kebangkitan nasional. Semangat rakyat pribumi yang sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, memunculkan berdirinya berbagai organisasi pergerakan.

Selama masa pergerakan kemerdekaan ini, ada tiga kelompok kekuatan yang berkembang secara bersamaan. Di samping memunculkan elite baru yang merupakan alumni pelajar sekolah-sekolah Belanda, dibarengi pula oleh dua kekuatan pergerakan yang bersumber dari Islam, yaitu “Islam modern” dan “Islam Tradisional” yang terwakili oleh pesantren (Humaidi Abdusami, Ridwan Fakla AS., 5 Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama, 1995).

Bagi kalangan ulama pesantren tradisional yang berhaluan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, mereka membentuk Nahdlatul Ulama. Secara umum ada tiga alasan yang melatarbelakangi kelahirannya NU yaitu: motif agama, motif nasionalisme dan semangat mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Sejak Nahdlatul Ulama didirikan di Surabaya, 31 Januari 1926, para pendiri dan pengurusnya terus melakukan sosialisasi ke berbagai wilayah. Bagi mereka, hal ini bukanlah perkara sulit mengingat para ulama NU telah memiliki jaringan luas melalui sanad keilmuan dan jaringan santri pesantren.

Pergerakan NU di masa awal pendiriannya mendapat respons positif di berbagai daerah. Salah satunya adalah Kota Kediri. Kota yang dilalui Sungai Brantas, dan berada di antara lembah kaki Gunung Wilis dan Gunung Kelud ini, mempunyai khazanah sejarah yang panjang bagi perjuangan berdirinya Nahdlatul Ulama. Terlebih di wilayah Mataraman yang wilayah kebudayaan meliputi wilayah Jawa Timur bagian barat-selatan. Karena wilayah tersebut pernah dikuasai oleh Kesultanan Mataram.

Dalam beberapa catatan yang ditemukan penulis di majalah SOEARA N.O (Nahdlatoel Oelama’) edisi Rabi’ul Awal 1347 Hijriah, tercatat terbentuknya NU Cabang Kediri adalah termasuk dalam cabang pertama yang berdiri di wilayah Mataraman. Pada dokumen arsip NU tersebut penulis menemukan fakta bahwa terbentuknya NU Cabang Kediri terjadi pada Rabu malam Kamis, 27 Rabi'ul Awal 1347 H atau 13 September 1928 M.

Terbentuknya NU Cabang Kediri bertempat di gedung Madrasah Islamiyah yang letaknya persis di depan Alun-alun Kediri, bertepatan saat pihak madrasah menggelar perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW. Acara tersebut dihadiri sedikitnya 1.000 orang, termasuk 14 orang anggota Hoofbestuur (Pengurus Besar) Nahdlatoel ‘Oelama yang berkantor di Surabaya dan juga perwakilan anggota Nahdlatoel ‘Oelama Cabang Jombang.

Sejarawan NU, Ayung Notonegoro, menyebut besarnya animo masyarakat dan hadirnya ratusan kiai di sekitaran Kota Kediri ini lantaran Rais Akbar NU, KH Muhammad Hasyim Asyari yang menjadi pembicara utama.

Selain Rais Akbar, turut hadir pengurus teras Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama, diantaranya KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Abdullah Ubaid. Di samping sejumlah kiai serta perwakilan dari penghulu di wilayah Kediri, antara lain Kiai Maksum, Kiai Makruf Kedunglo, termasuk Kiai Muharram dari Karangkates Blitar, dan sejumlah pengurus Pesantren Tebuireng Jombang yang mengikuti pengasuhnya tersebut. 

Dalam menyampaikan materi, KH Hasyim Asyari mengupas hikmah dan asal-usul perayaan Maulud Nabi. Setelah itu, beliau mengupas perihal tujuan berdirinya Nahdlatul Ulama. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan NU kepada masyarakat luas. 

Setelah Rais Akbar Kiai Hasyim selesai memberikan ceramah keagamaan sekaligus doa, para hadirin dipersilakan untuk ramah-tamah dengan hidangan yang telah disediakan. Berikutnya diadakan musyawarah pembentukan Bestuur (cabang) sekaligus menyusun kelengkapan pengurus pertama di Kediri. 

Berikut susunan pengurus NU Cabang Kediri periode Pertama (1928) :

Jajaran Syuriah  ( al-hai’ah min al-ulama’)

Rais Syuriah              :  KH. Ma’ruf  (Kedunglo)
Wakil Rais                  :  KH. Muharram (Karang Kates Blitar)
Mustasyar                  :  KH. Abdul Karim (Lirboyo)
Katib                           :  KH. Yunus (Wringin Anom)
Wakil Katib                 :  KH. Rodin Abdul Hadi (Astana Gedong)
A’wan                         :  KH. Zarkasyi ( Ngadisimo ), dst.
            
Jajaran Tanfidziyah ( al-hai’ah min ghori al-ulama’)

Presiden (Ketua)                  : H. Dahlan ( Branggahan )
Vice Presiden (Wakil)           : H. Hasan ( Banjaran )
Sekretaris                             : H. Mahfudz ( Jetis )
Wakil Sekretaris                   : H. Ridwan ( pocanan )
Kasir                                     : H. Nur Sa’id ( Setono gedong)
Wakil Kasir                           : H. Usman ( Kolak )
Komisaris                             : H. Abdul Aziz ( Jamsaren )
Komisaris                             : H. Muhammad Rosyad ( Jamsaren )
Komisaris                             : H. Ahmad ( Banjar Melati )
Komisaris                             : H. Zubair ( Banjar Melati )
                        
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Kediri, Tim Penulis Buku Muqoddimah Sejarah NU Nganjuk


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo