Dark
Light
Dark
Light

Pendidikan juga Perlu Mudik

Pendidikan juga Perlu Mudik

Gema takbir di malam 1 Syawal 1445 H menandai Ramadhan telah usai. Umat Islam merasakan sedih saat ditinggalkan bulan suci, namun bergembira menyambut datangnya Idul Fitri. Perayaan Idul Fitri 1445 H merupakan puncak pencapaian spiritual (spiritual achievement) seorang Muslim setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan. 

Mereka yakin Ramadhan merupakan pusat penggembelengan fisik (training center) dan mental (madrasah ruhaniah) sekaligus. Siapa pun yang berpuasa, tidak boleh menghentikan aktivitas dan kreativitasnya, seperti bekerja, sekolah dan seterusnya. Tidurnya orang yang berpuasa memang bernilai ibadah, tetapi amalan salih yang dikerjakan pada bulan agung dilipatgandakan pahalanya.  

Puasa akan menguji apakah fisik kita sanggup tetap produktif berkarya, sekalipun asupan makanan dan minuman distop sementara pada siang hari. Nabi Muhammad Saw mendalilkan bahwa puasa akan membuat tubuh kita sehat (shumu tasihhu). 

Puasa juga menguji mental dan memperkaya spiritual umat Islam. Inilah cobaan yang paling esensial dari puasa. Pada bulan ini, umat Islam berlatih laku sabar, disiplin, menahan emosi, berderma dan sebagainya. Tangan, kaki, lisan dan hatinya juga dipuasakan pada bulan ini. Pada bulan yang agung, kedekatan kepada Tuhan diasah melalui pelaksanaan ibadah wajib, sunnah dan mendaras kitab suci-Nya. Harapannya, pada bulan-bulan yang lain, umat Islam juga memiliki kualitas kedekatan yang tidak kalah intimnya dengan Allah Swt.

Di bulan Ramadhan, Tuhan begitu dekat karena kita ingin mendekat. Keakraban dengan-Nya, begitu terasa dampaknya. Umat Islam diringankan untuk berbuat bijak dan bijak. Sholat Tarawih setiap malam dilaksanakan. Tadarus Al-Qur’an diusahakan selesai (khatam) dalam bulan ini. Pada sebelas bulan berikutnya, spiritualitas ini diharapkan bertahan pada sanubari kita. Idul fitri menjadi momentum kembalinya seorang muslim pada fitrah kemanusiaannya.

Filosofi Mudik
Mudik menjadi agenda paling mencolok dalam mengakhiri bulan Ramadan. Mudik telah menjadi agenda lintas agama dan keyakinan. Cuti bersama Hari Raya Idul Fitri mempersatukan seluruh umat untuk saling berkunjung dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga di kampung halaman. Tanpa mudik, lebaran terasa tidak lengkap. 

Mudik menjadi fenomena khas lebaran. Mobilisasi kolosal dari satu tempat menuju kampung halaman memiliki makna spiritual-fisolofis mendalam. Kerelaan mereka untuk bersusah-payah dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, didorong oleh motivasi yang tidak biasa. Saya yakin, alasannya bukan sekedar lawatan keluarga saja. Jika hanya itu pendorongnya, setiap saat mereka bisa mudik tanpa menunggu momentum lebaran. 

Meskipun tidak setiap pemudik menyadarinya, mudik yang dilakukan pasti berkaitan dengan suatu alasan yang sangat penting. Mudik berkaitan dengan pertanyaan tentang sangkan paraning dumadi. Pertanyaan substantif-spiritual tentang siapa dirinya? Dari mana manusia berasal? Untuk apa manusia hidup dan kemana ia akan kembali?

Pada setiap momentum Idul Fitri, setiap muslim seperti diajak untuk merenung kembali tentang pertanyaan-pertanyaan di atas. Mudik ke dalam diri akan membuat manusia sadar bahwa dirinya hanya seorang hamba. Lemah dan tidak berdaya. Tak layak untuk sombong atau menistakan manusia lainnya. Makin dalam manusia mengenali dirinya, makin paham pula manusia dengan Tuhannya.

Mengunjungi tanah kelahirannya akan mengingatkan kenangan lama tentang keluarga dan lingkungan yang membesarkannya. Ia ternyata bukan siapa-siapa. Jika kini ia dianggap sukses, maka kesuksesannya di rantau karena doa dan perjuangan orang tuanya. Mudik mengajaknya untuk tawadhu menjalani hidup.  

Dalam menjalani hidup, manusia mesti paham untuk apa mereka hidup dan apa tujuannya. Tanpa mengetahui tujuan hidup yang jelas, manusia berpotensi tersesat dari kesejatian tujuan hidupnya. Islam mengajarkan, tujuan hidup manusia (sebagai abid) untuk pengabdian kepada Allah Swt. Sebagian khalifah, manusia bertugas memakmurkan bumi dan menebarkan rahmat bagi alam semesta. Tujuan hidup manusia sangat jelas, tidak sekedar pemenuhan kebutuhan duniawi semata.

Dalam perjalanannya, manusia juga harus paham kemana ia kembali. Sejauh manapun seorang pergi, ia pasti ingin dan akan kembali. Keluarga menjadi tempat teduh setelah lelah bepergian. Kampung halaman menjadi pengingat kebahagiaan yang dirasakan waktu kecil. Kampung akhirat menjadi destinasi akhir perjalanan hidup seseorang. Tuhan merupakan tempat kembalinya seluruh alam semesta. 

Esensi Pendidikan
Pertanyaan tentang sangkan paraning dumadi juga bisa diterapkan pada dunia pendidikan. Sejatinya, apa hakikat pendidikan itu? Untuk apa kita menyelenggarakan pendidikan? Tujuannya apa? Pertanyaan-pertanyaan itu bisa diperpanjang hingga paling teknis, seperti kurikulum, evaluasi, sarana dan prasarana, tugas guru dan dosen, termasuk gelar akademik dan seterusnya.

Para tokoh pendidikan telah merumuskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan beragam sudut. Secara teoritis, pendapat-pendapat itu benar adanya. Secara praktis, implementasi semua gagasan besar pendidikan bisa beragam, tergantung pengalaman dan mazhab pemikiran pendidikan yang dianutnya. 

Pendidikan nasional sebenarnya memiliki kiblatnya sendiri sesuai dengan kekhasan yang tumbuh dari jiwa bangsa. Di sisi lain, tidak salah pula apabila pikiran dan praktik terbaik dalam dunia pendidikan yang tumbuh dan dipraktikkan di negara lain, diadopsi di negeri ini. Yang paling penting dan harus disadari oleh para pengambil kebijakan adalah bahwa Indonesia merupakan negeri dengan ciri khas dan berbeda dengan negara lainnya.   

Saya meyakini, pendidikan merupakan cara terbaik untuk memanusiakan manusia secara manusiawi. Memanusiakan manusia berkait erat meningkatkan pengetahuan dan peradaban, hingga manusia mampu berdiri sendiri dan bahkan sanggup berkontribusi bagi kehidupan manusia lainnya. Sebenarnya, ketika pendidikan sudah mampu mengajak anak didik untuk mampu memahami dan mengenali dirinya sendiri sehingga ia sanggup hidup secara beradab dalam situasi apapun di kemudian hari, maka tujuan pendidikan manusia telah tercapai. Tetapi, dalam konteks modern, tujuan pendidikan seperti itu saja dianggap kurang cukup. Mereka harus memiliki skill yang memadai, baik untuk mengisi maupun menciptakan lapangan kerja.

Pemerintah terus berjuang agar dapat menyediakan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau untuk seluruh anak bangsa. Pada saat yang sama, seluruh elemen masyarakat dapat bergerak menuju titik yang sama. Persoalan kualitas pendidikan perlu ‘dikeroyok’ bersama, dan tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja. Berbagai persoalan yang menjadi akarnya, perlu ditemukan agar penyelesaiannya tepat dan konkrit. Ekosistem pendidikan yang berkualitas harus diciptakan, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan lain sebagainya.

Tepat rasanya bila pada momentum perayaan Idul Fitri ini, dunia pendidikan juga perlu dimudikkan. Siapa tahu, esensi pendidikan yang sudah terlupakan mulai kita perhatikan kembali. Seluruh stakeholder pendidikan nasional perlu muhasabah agar kualitas pendidikan dapat tercapai dan mampu berdiri sejajar dengan negara maju lainnya.

Abu Rokhmad, Staf Ahli dan Plt Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abu Rokhmad Musaki
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo