Arina.id -- Ingatan pada hewan boleh melampaui sekadar peliharaan, makanan (daging), minuman (susu), dan kendaraan atau tunggangab. Kehidupan dalam dunia binatang, semisal di beberapa buku maupun film, derajatnya dibuat hampir-hampir seperti manusia. Mereka dilukiskan punya beragam karakter, warna kesukaan, tempat favorit, dan kompleksitas emosi. Bahkan konon, Nabi Sulaiman dikisahkan pernah bicara dengan pimpinan semut. Itu berarti, mungkin saja kehidupan hewan tidak hanya makan, bereproduksi, lalu mati, tetapi layaknya manusia, memiliki peran sebagai pemimpin, orang tua, anak, guru, dan pencipta kebijaksanaan.
Pada peran ‘pencipta kebijaksanaan’, hewan banyak ditemukan dalam beragam literatur. Penemuan itu merujuk pada kisah-kisah bijak yang menarik pikiran untuk merenungkan hakikat hidup, permasalahan sosial, dan eksistensi diri. Para binatang dimengerti sebagai penyampai pesan tanpa tendensi menggurui, mendikte, dan menyalahkan.
Dalam buku Hayy bin Yaqdzon gubahan Ibn Tufail yang dibuat kisaran abad ke-12, seekor rusa dikisahkan menjadi orang tua bagi anak manusia. Rusa itu menjadi penghantar bagi Hayy untuk merenungi hakikat hidup dan melontarkan kritik keimanan. Buku ini menjadi penting di zamannya dan tetap dibaca hingga saat ini. Wassenberg dan Essabane mengalih wahanakan buku itu menjadi bacaan anak, terjemah dalam bahasa Indonesia adalah Anak Rusa Mencari Tuhan (2024).
Tertulis dalam buku: “Saat itu ia telah berada dibawah asuhan induk rusa selama tujuh tahun. Karena tubuhnya semakin tumbuh dan berkembang, ia mulai menemukan kesulitan dalam memperbaharui dedaunan yang ia gunakan untuk menutupi auratnya.” Buku itu bermuatan teologis sekaligus filsafat. Pembaca dibuat terbangun dari keyakinan-keyakinan dogmatis yang dianut tanpa kesadaran. Cukup berat dan membuat pusing. Namun, bobot kesukaran teks dalam buku itu terselamatkan karena pembaca diajak berimajinasi bersama para hewan.
Ada lagi kisah hewan yang dilekatkan dengan pengasuhan anak. Bukan dalam buku, melainkan film.Mama (2013) garapan Andres Muschietti adalah film genre horor yang menampilkan sosok hantu perempuan pengasuh dua bocah yang ditinggal bunuh diri orang tuanya. Hantu itu sering mewujudkan diri dalam bentuk kupu-kupu. Penonton bisa menangis sekaligus jantungan, sebab banyak adegan menampilkan kisah haru sekaligus ngeri. Sinema ini menyandingkan hewan dengan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya tanpa batasan dan pamrih.
Buku bertajuk Kumpulan Cerita dan Fabel (2021) gubahan Jalaludin Rumi juga memuat sosok hewan yang sering ditampilkan sebagai kurir kebijaksanaan. Salah satu kisah yang menarik berjudul Merak. Cerita itu mengandung paradoks kehidupan dan rasa syukur. Begini kisahnya:
Dikisahkan suatu hari seorang tabib sedang berjalan-jalan di padang rumput rimbun dekat rumahnya. Dari kejauhan, ia melihat seekor merak jantan yang amat cantik. Ia berupaya melihat burung itu lebih dekat dengan cara mengendap-endap. Namun, hatinya merasa janggal ketika melihat burung mencabuti bulu indahnya. Si tabib bingung dan memutuskan untuk menyelidiki perlahan-lahan, didekatinya burung itu.
“Halo makhluk indah mengapa mencabuti bulu indah itu?” tanyanya lembut, “bagaimana engkau sanggup menghancurkan keindahan seperti itu. Bulumu dikagumi di seluruh dunia. Para penghafal Al-Quran menggunakannya sebagai penanda dan bangsawan menggunakannya untuk mengipasi diri saat cuaca panas. Apakah engkau sadar, siapa yang menciptakan kemuliaan tak tertandingi mu itu! Bisa-bisanya engkau menyingkirkan pemberian Tuhan dengan begitu tak tahu terima kasih!”
Ketika mengungkapkan pemikirannya, seraya berharap si burung bersedia mendengarkan, tabib bijak itu menyadari bahwa mungkin dia terlalu tergesa-gesa mempertanyakan tindakan si burung sejak awal. Mungkin dia juga terlalu cepat memberikan nasehatnya; Setiap tindakan memiliki alasannya sendiri-sendiri dan dia tidak menghormati realitas fundamental ini. Namun demikian, si tabib hampir tidak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat si burung melanjutkan pencabutan atas bulunya sendiri
"Menyingkirlah dariku," seru burung merak, jelas-jelas kesal. "Engkau masih terganggu oleh keindahan superficial! Tidak bisakah kau melihat bahwa karena bulu-bulu ini aku harus menanggung begitu banyak kesulitan. Setiap kali aku berbalik ada pemburu yang menguntitku. Aku tidak bisa melindungi diri dari bahaya; tubuhku memang besar, tapi sebenarnya aku cukup lemah. Jika aku tidak bisa menjauhkan bahaya, maka sebaiknya aku membuat diriku terlihat tidak pantas! Aku ingin bisa berkeliaran kemana pun sesukaku, dengan damai dan tanpa rasa takut. Bulu-bulu ini penyebab egoismu, bulu-bulu membawa banyak kerugian yang tak perlu bagiku. Saatnya aku menyingkirkan semua hiasan seperti itu! Hanya Tuhan yang bisa memahamiku."
Si Merak Kembali mencabuti bulu yang tersisa, mengabaikan si lelaki yang terus menyaksikan tanpa suara sementara air matanya mengalir tak terkendali.
Dalam teks lain, melalui buku karya Anthony de Mello SJ bertajuk Burung Berkicau (1985), penulis menghidangkan masalah manusia modern dalam cerita pendek berjudul Perumpamaan Tentang Hidup Modern. Permasalahan yang kompleks, menyangkut eksploitasi, kapitalisme, objektifikasi, fast living dan krisis makna hidup dikemas dengan amat menarik dalam percakapan antar hewan.
Begini ceritanya:
Binatang-binatang mengadakan sidang dan mulai mengeluh, bahwa manusia selalu mengambil apa-apa saja dari mereka.
"Mereka mengambil susuku," kata lembu.
"Mereka mengambil telurku," kata ayam.
"Mereka mengambil dagingku," kata babi.
"Mereka memburuku untuk mengambil minyakku,” kata ikan paus. Dan selanjutnya.
Pada akhirnya siput berbicara: “Aku mempunyai sesuatu yang mereka inginkan lebih daripada segala sesuatu. Mereka tentu akan merampasnya dariku seandainya dapat. Aku mempunyai waktu.”
Editor: Kendi Setiawan


