Kiai As'ad tak sekadar murid Kiai Khalil Bangkalan dan Kiai Hasyim Asy’ari Jombang. Ia adalah penghubung sekaligus khadam bagi kedua gurunya. Peran Kiai As’ad menjelang kelahiran Nahdlatul Ulama begitu signifikan. Kesaksiannya menjadi rujukan sejarah yang tak terbantahkan.
Bernama lengkap As’ad Syamsul Arifin. Ia lahir di Sy’ib Ali, lingkungan Masjidil Haram, Makkah, 1897. Kiai As’ad mewarisi pondok pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dari ayahnya, Kiai Syamsul Arifin. Pesantren Salafiyah Syafi'iyah adalah tempat perhelatan Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar 1984 NU. Dari pesantren ini pula, lahir keputusan yang cukup mengejutkan; penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal negara.
Sebagaimana dua gurunya, ketokohan Kiai As’ad di lingkungan NU dan pesantren begitu sentral. Majalah Tempo menyebut Kiai As’ad sebagai pemimpin di belakang layar. Kharismnya di kalangan NU belum ada tandingannya. Wajah Kiai As’ad pun berulang kali menjadi sampul majalah tersebut. Tercatat lima kali Tempo menerbitkan fotonya sebagai cover halaman depan.
Tempo edisi September 1989 menyajikan liputan khusus tentang Kiai As’ad. M. Baharun, jurnalis Tempo mewawancarai dan memuat dalam kolom memoar yang memakan space hingga 11 halaman. Beragam topik dibicarakan; dari kehidupan masa kecil, latar belakang keluarga, pendidikan, proses pendirian NU, hingga penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal.
“K. H. As’ad Syamsul Arifin, Pemimpin di Belakang Layar” menjadi judul besar melengkapi foto Kiai As’ad. Pada diskripsi berikutnya Kiai As’ad disebut: “Kian Uzur Kiai Melangit, Kharismanya di Kalangan NU belum ada Tandingannya!”.
Di majalah Tempo edisi ini, Kiai As’ad memberikan kesaksian lebih spesifik tentang sejarah berdirinya NU. Melengkapi cerita yang beliau kisahkan dalam rekaman dan video yang sudah banyak beredar di berbagai platform media.
Ide Pendirian Nahdlatul Ulama dari Kiai Wahab Chasbullah
Kiai As’ad menyebut secara tegas bahwa ide pembentukan organisasi atau jam’iyah NU berasal dari Kiai Wahab Chasbullah. Dan menurut Kiai As’ad, ide pendirian jam’iyah ini untuk mengantisipasi tindakan Wahabi yang menjalar sampai ke Indonesia.
Ide tersebut disampaikan pada Kiai Hasyim Asy’ari. Dan menurut Kiai As’ad, Kiai Hasyim menyetujui ide-ide tersebut. Hanya saja, lanjut Kiai As’ad— Kiai Hasyim tidak buru-buru menerima. Ia masih harus melakukan riyadah dan istikharah. Kiai As’ad di majalah Tempo menyebut:
“Mula-mula yang saya tahu Kiai Wahab Chasbullah menyampaikan ide membentuk jam’iyah itu pada K. H. Hasyim Asy’ari. Pada dasarnya Kiai Hasyim sangat menyetujui ide-ide Kiai Wahab, hanya saja Kiai Hasyim Asy’ari sebelumnya mau mohon petunjuk kepada Allah Swt. Lebih dulu lewat salat malam istikharah, salat mohon petunjuk ini penting sebagai suatu ikhtiar untuk mencari kemantapan hati…”
Kiai Khalil Bangkalan sebagai Konsultan Spiritual Pendirian NU
Pada paragraf selanjutnya Kiai As’ad mengisahkan bahwa yang dihubungi berkali-kali adalah Kiai Khalil Bangkalan. Kenapa yang dihubungi Kiai Khalil? Jawaban Kiai As’ad, sebab Kiai Khalil adalah guru Kiai Hasyim. Kiai As’ad menyatakan:
“Sehubungan dengan itu (yakni petunjuk Allah untuk pendirian jam’iyah atau organisasi), yang dihubungi berkali-kali oleh Kiai Hasyim adalah Kiai Khalil Bangkalan. Karena beliau memang guru Kiai Hasyim”.
Kiai As’ad sebagai Khadam
Lalu di mana posisi Kiai As’ad? Posisi Kiai As’ad adalah sebagai “penyambung” dua tokoh ini. Kalau dalam bahasa Kiai As’ad sendiri beliau bertugas sebagai “khadam kurir dua ulama besar Ahlussunah waljamaah itu”. Tongkat dan tasbih adalah “simbol” restu dari Kiai Khalil pada Kiai Hasyim untuk pendirian NU atas ide dari Kiai Wahab.
Tiga Sosok “Kurir”: Undangan Rapat Pertama Pendirian NU
Nyatanya Kiai As’ad bukan hanya bertugas sebagai “khadam” tongkat dan tasbih Kiai Khalil dari Bangkalan kepada Kiai Hasyim di Jombang. Dalam kesaksiannya, Kiai As’ad mengaku bahwa beliau juga adalah orang yang diminta oleh Kiai Hasyim Asy’ari untuk mengantarkan surat undangan kepada para ulama untuk menghadiri rapat atau pertemuan pertama pembentukan Jam’iyah NU. Kiai As’ad menyampaikan dalam dokumen Majalah Tempo:
“Barangkali atas petunjuk itu pula, pada tahun 1926, saya mendapat kepercayaan lagi, Kiai Hasyim mengutus tiga orang santri untuk menyampaikan undangan kepada para ulama. Ketiga santri itu adalah saya, dari Pondok Sukorejo, Mahfudz Shiddiq—saudara sulung Achmad Shiddiq, kini Rais Aam PBNU dari Jember dan Asnawi Kudus. Para ulama itu diundang untuk menghadiri rapat atau pertemuan pertama pembentukan jam’iyah NU”.
Demikian kesaksian Kiai As’ad Syamsul Arifin tentang proses pendirian Nahdlatul Ulama. Lalu ada pertanyaan, “apakah yang tidak disebutkan Kiai As’ad dalam ceritanya menujukkan bahwa sesuatu yang tidak disebut itu tidak ada?” Tentu tidak seperti itu. Bisa atau sangat mungkin ada. Hanya saja tidak boleh asal klaim, lalu orang lain dipaksa meyakini dan memberi bukti kebalikan klaim tersebut.
Mekanisme dari Nabi Muhammad Saw. adalah al-Bayyinatu ala al-Mudda’i, bukti dibebankan pada pihak yang melakukan klaim. Selama tidak ada bukti berarti klaim tersebut tidak perlu diperhitungkan. Di sinilah pentingnya ilmu dan data sebagai basis pembuktian.
Di akhir tulisan ini, saya teringat sebuah syair yang berbunyi:
وكل يدعي وصلاً بليلى # وليلى لا تقر له بذاك
Semua mengklaim memiliki ikatan (cinta) dengan Layla # sementara Layla tidak pernah mengakui adanya klaim itu.
Ahmad Husain Fahasbu
Pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur. Nominator Kepustakaan Islam Award 2024 Kementerian Agama Kategori Penulis Masyarakat.
Editor: Muhammad Zunus


