Katakanlah : "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat..." Al-Qashash 72
***
Sebuah pertanyaan retoris dari Tuhan untuk para makhluk-Nya. Banyak pertanyaan sejenis, bertebaran dalam firman-firman-Nya. Pertanyaan serupa ini, bisa mendidik kita agar bersikap kritis dan suka rela menggugat pola pikir yang hegemonik atas suatu perkara. Bisa juga menjadi alat ukur atas apa yang sekian lama jadi landasan perspektif kita. Pertanyaan di atas, dengan sinikal menghentak kesadaran kita, antara lain, terkait rutinitas dalam hidup.
Termasuk sebuah bulan yang rutin datang menemui kaum Muslimin-Muslimat. Sudah sejak dua minggu lalu. Tidak pernah ingkar janji. Ia berputar dari ujung timur, bergerak menuju ufuk, lalu tenggelam. Datang menabur harapan dan terbenam membawa catatan amal manusia. Ia bukan dari alam nasut, tapi ia tak pernah menyelisihi Tuhan. Ia rutin berotasi. Ia patuh menjalankan tugas, yang sejak awal penciptaan melekat pada dirinya. Persis trilyunan makhluk luar angkasa lain yang tak pernah berhenti berputar.
Itulah bulan Ramadhan. Persis bulan-bulan lainnya, sekawanan 12 jumlahnya, Ramadhan menjadi tanda kekuasaan dan keberadaan Tuhan. Seperti sudah jadi ketetapan-Nya, Ramadhan dirancang Tuhan memanggul tugas khusus bagi umat Islam dibanding bulan lain. Di bulan ini, manusia diingatkan tentang ajaran kesucian, tentang fitrah, tentang "mishbah" Allah swt di dalam "misykat". Misykat yang ditafsir Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, sebagai Nurullah--Cahaya Allah saat kelahiran Nahdlatul Ulama.
Di dalam misykat, berpendar caya tempat Tuhan berbisik kepada orang-orang beriman. Ia harus dijaga dan dilindungi dari maksiat agar nyalanya tetap menyinari lorong batin manusia. Agar tidak jauh-jauh meninggalkannya, sebab itu akan menyulitkan makhluk untuk pulang kepada-Nya. Ramadhan adalah ruang berlatih mudik ke kampung halaman ; "Lalu, kepada-Ku 'lah kalian akan mudik." (Al-Qur'an)
***
Anda bosan karena rutintas yang mendera? Anda jemu karena yang Anda dapati itu-itu juga? Anda cemas, karena setiap hari bertemu orang yang sama dalam sekian tahun? Anda sebal, karena kegiatan di tempat kerja jarang sekali berubah? Anda mulai jengah karena take home pay hanya di angka itu? Anda menyoal semua yang rutin dan ingin menolak rutinitas?
Sering, rutinitas kita jadikan alasan untuk mengabaikan sesuatu, yang seakan jalan di tempat. Termasuk ketika Ramadhan tiba. Hatta, meski bulan ini disebut sebagai bulan suci. Muncul perasaan, seakan mengulang yang sama. Setiap tahun, seakan itu itu juga yang dilakukan. Sebelum Covid-19 mewabah di negeri ini dan jadi pandemi global, kegiatan Ramadhan tidak berubah dari tahun ke tahun.
Bangun pagi. Sahur bersama keluarga. Membolak balik menu puasa. Mengutip chef anu dan chef lainnya. Memindah saluran analog ke youtube. Ada yang suka rela dibangunkan dini hari tapi tak sedikit yang kurang berkenan. Karena "dipaksa" tradisi, semua dilakukan demi menjalankan rutinitas. Meski ada salat subuh berjemaah, tapi terbukti tidak semua yang puasa suka ke masjid.
Menahan kantuk, mencoba ambil air wudu, lalu membuka lembar demi lembar kitab suci. Ada yang dengan benar dibaca tapi boleh jadi ada sejumlah firman yang tak fasih dibaca. Bahkan, mungkin tidak sesuai ilmu membaca Alquran yang paling sederhana; ilmu tajwid. Yang penting mengikuti kebiasaan dan memastikan kebiasaan itu bisa dilakukan setiap tahun.
Anda tidak suka rutinitas? Mari simak kutipan ayat suci pada ayat 72 surah Al Qashash. Allah swt dengan lugas bertanya. Pertanyaan untuk semua orang. Tidak spesifik memberi jawaban soal rutinitas. Tapi simaklah dengan tenang. Renungi tantangan Allah itu. Apa pendapat kita, kalau Allah menjadikan siang berkelanjutan hingga hari kiamat?
Saat situasi normal, penduduk di kota-kota besar, serta para komuter lain, berjejal-jejal menginvasi kota sejak fajar baru menyingsing. Mandi jam segitu, seperti mengguyur tubuh dengan air es. Karena kondisi jalan yang selalu crowded, tiba di kota jam 07.30 suhu tubuh sudah meningkat. Hangat. Menjelang tengah hari, jalan-jalan protokol memuai. Jam 12 an, temperatur antara 32 hingga 34 derajat celsius.
Hanya dua jam setelahnya, sekitar jam 14.00 an, bentangan aspal yang melapisi Jl Panglima Sudirman hingga Jl MH Thamrin, Jakarta, misalnya, terlihat menebar asap. Bisa jadi, panas di permukaan jalan-jalan di Jakarta sudah antara 48 hingga 50 derajat. Lapisan atmosfer setebal 1000 km, tak kuasa menahan terjangan sinar matahari menembus semua pori-pori bumi.
Dapatkah kita membayangkan jawaban macam apa untuk pertanyaan retoris Allah di awal tulisan ini? Bagaimana jika matahari mendadak berhenti, persis di tengah-tengah langit, selurus di atas ubun-ubun kita? Tidak bergerak ke tempat biasa terbenam? Selamanya? Siang tak pernah berganti malam? Terik menyengat. Panas yang membuat kulit melepuh. Misalnya, selama dua hari alias 2 kali 24 jam? Temperatur bisa mencapai ribuan derajat celsius.
Kalau itu terjadi, maka semua cairan di muka bumi akan menguap. Semua lautan akan mengering. Samudera akan tinggal palung meranggas. Salju di dua kutub, utara dan selatan, akan meleleh. Menciptakan benua baru yang gersang. Kalau siang berlanjut dua hari lagi, maka semua cairan di dalam tubuh kita lenyap. Darah kita akan mengering. Daging di tubuh kita akan menyusut, sebab mayoritas terdiri atas cairan.
Maka, untuk menyudahi kehidupan, kita tak perlu menunggu Hari Kiamat tiba. Hanya butuh siang hari selama seminggu, maka kehidupan semua makhluk akan tinggal catatan. Allah cuma mengingatkan, bahwa semua pergerakan alam semesta diatur Allah dengan kodrat-Nya. Termasuk perjalanan memutar matahari, dari horison hingga ke ufuk sepanjang Allah kehendaki.
Maka, jangan terlalu sering bertanya, mengapa matahari secara rutin mengunjungi manusia. Sebab, sekali berhenti berotasi, kehidupan akan berakhir. Rutinitas itu rahasia Allah. Rutinitas itu sudah jadi ketetapan Allah sejak alam azali. Rutinitas itulah yang menjaga kehidupan. Anda bisa membayangkan tidak rutin menarik nafas? Tidak rutin makan dan minum? Tidak rutin tidur dan bangun?
Maka, berhentilah menghidup-hidupkan perasaan bosan akibat Ramadan datang secara rutin. Ramadan datang, didisain Allah demi terjadinya perubahan sikap manusia dalam memaknai hubungannya dengan Allah. Sebelas bulan penuh dosa, bisa dinetralkan dengan berkah yang dikandung Ramadan. Maka, jangan bosan apalagi sebal. Ramadan adalah rutintas yang jadi isyarat kasih sayang Allah untuk hamba-Nya.
***
Jadi, masih bosan akan rutinitas???
Ishaq Zubaedi Raqib adalah jurnalis arina.id
Ishaq Zubaedi Raqib
Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi (LTN) PBNU
Editor: Kendi Setiawan


