Manusia pasti membutuhkan makanan dan minuman sebagai penopang utama dalam kehidupan. Sebab dari makanan dan minuman tersebut, seseorang akan mendapatkan kekuatan untuk beraktifitas dan menjaga kesehatan. Hal ini merupakan nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya.
Tidak sedikit manusia abai akan status makanan maupun minuman yang mereka konsumsi, apakah halal ataukah haram, sehingga menimbulkan ragam efek pada diri mereka. Pasalnya, makanan dan minuman yang telah dikonsumsi akan memengaruhi tingkah laku seseorang.
Dalam surat ‘Abasa ayat 24 disebutkan:
فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ
Artinya: “Hendaknya manusia memperhatikan tentang makanannya”
Maksud dari ayat ini hendaknya manusia benar-benar berpikir bagaimana makanan diciptakan dan diatur untuknya.
Wahbah Zuhaili dalam Tafsir al-Wajiz menjelasakan bahwa maksud ayat di atas adalah hendaknya manusia berpikir dan introspeksi, bagaimana Allah menyediakan berbagai makanan untuk mereka sebagai bekal kelangsungan hidup mereka.
Berkaitan dengan ayat di atas, dalam tafsir Qurtubi disebutkan:
لَمّا ذَكَرَ جَلَّ ثَناؤُهُ ابْتِداءَ خَلْقِ الإنْسانِ ذَكَرَ ما يَسَّرَ مِن رِزْقِهِ، أيْ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ طَعامَهُ. وهَذا النَّظَرُ نَظَرُ القَلْبِ بِالفِكْرِ، أيْ لِيَتَدَبَّرْ كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ طَعامَهُ الَّذِي هُوَ قِوامُ حَياتِهِ، وكَيْفَ هَيَّأ لَهُ أسْبابَ المَعاشِ، لِيَسْتَعِدَّ بِها لِلْمَعادِ
Artinya: “Ketika Allah memulai penciptaan manusia, Allah menyebutkan rezeki yang mengiringinya. Maksudnya, hendaknya manusia memikirkan bagaimana Allah memberikan rezeki kepadanya. Berpikir dalam ayat ini adalah merenung dalam hati agar dia bisa berpikir jernih bagaimana Allah memberi anugerah berupa makanan kepadanya sebagai sumber kehidupan dan bagaimana Allah menganugerahi pekerjaan yang menghasilkan rezeki sehingga dia terbantu untuk beribadah”.
Seperti yang disebut di atas bahwa makanan dan minuman menjadi penting untuk diperhatikan sebab kebaikan dan keburukan dapat muncul dari keduanya; apabila makanan itu berasal dari perkara yang halal, maka kebaikan akan menyertainya. Sebailknya, jika makanan dan minuman itu berasal dari perkara yang haram, maka keburukan yang akan timbul.
Allah berfirman:
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
Artinya: Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al A’raf: 157).
Salah satu hadis menyebutkan:
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بِشِيْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِيْ الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ. أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً. أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهيَ اْلقَلْبُ رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Artinya: Diriwayatkan dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya perkara yang halal itu telah jelas dan perkara yang haram itu telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang (samar), tidak diketahui oleh mayoritas manusia. Barangsiapa yang menjaga diri dari perkara-perkara samar tersebut, maka dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Barangsiapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, maka dia telah terjatuh kepada perkara haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan (hima), dikhawatirkan dia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja itu memiliki area terlarang, ketahuilah bahwa area terlarang milik Allah adalah segala yang Allah haramkan. Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik maka baik pula seluruh tubuhnya dan apabila daging tersebut rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa makanan dan minuman adalah nikmat yang harus disyukuri dan direnungkan hikmahnya. Di dalam makanan dan minuman terdapat anugerah yang Allah berikan. Selain itu, berhati-hati untuk mengkonsumsi makanan dan minuman terkait halal, haram maupun syubhatnya harus tetap ditingkatkan.
Editor: Muhammad Zunus


