Ada kesepahaman di lingkungan para penstudi Jawa bahwa, slametan dipandang sebagai ritual paling sinkretis. Menggambarkan tradisi kejawen yang paling dominan hingga saat ini.
Meski begitu, sangat jarang penstudi yang memberi perhatian pada asal-usul ritual slametan, terutama pada aspek kulinernya. Para ahli secara umum hanya menyebut, elemen kuliner slametan datang dari masa pra-Islam. Titik. Tanpa melakukan pelacakan yang meyakinkan.
Apa saja aspek diakronik yang bisa dilacak dari elemen-elemen kuliner dalam hidangan slametan, benar-benar lepas dari pandangan umum mereka. Berangkat dari itu, Jiri Jakl mencoba melacak hal ini melalui sastra Kakawin, lalu diperbandingkan dengan ritual sama yang masih ditemukan di Bali pada masa modern ini.
Upaya tersebut tergolong baru dan segar. Jakl menyuguhkannya dalam Cooking for Demons, Soldiers, and Commoners: History of a ritual meal in Java (2019). Melalui kajian ini, ia memastikan bahwa ada kesamaan unsur yang dominan, baik elemen-elemen pokok maupun makna simbolik, hidangan slametan di Jawa dibandingkan dengan wilayah Asia Timur.
***
Dalam kajian antropologi Jawa, pandangan umum tentang slametan memang selalu dikaitkan dengan apa yang direpresentasikan oleh Clifford Geertz (1960: 10-15). Slametan dipandang sebagai ritual utama yang menandai identitas keagamaan kelompok Muslim abangan dan priyayi.
Inilah ritual yang menggambarkan serapan terhadap elemen-elemen animistik dan Hindu, lalu dipadu-padankan dengan tradisi Islam. Praktik ritual itu sendiri menandai sinkretisme Islam dengan ritual penghormatan terhadap leluhur. Ritual yang identik dan lazim ditemukan pada periode pra-Islam, terutama animisme.
Pandangan ini mendapat tantangan besar dari banyak antropolog, terutama Mark R. Woodward (1989) yang menetapkan slametan sebagai praktik Islam normatif. Dalam kaitan ini, Woodward melihat pentingnya slametan tidak hanya dilihat dalam kacamata antropologi, tetapi sekaligus dipahami melalui hermeneutik.
Dengan mempertimbangkan normativitas Islam, slametan dipandang sebagai praktik Islam lokal yang mendapat pengaruh dari Arab dan Asia Selatan. Itulah mengapa praktik slametan identik dengan pembacaan doa yang merujuk langsung pada normativitas Islam. Inilah ritual yang tersebar luas di komunitas Islam untuk mendapatkan keberkahan.
Doa dalam slametan pun, secara khusus ditujukan kepada Nabi Muhammad, para wali, dan leluhur-leluhur yang berjasa membawa Islam ke tanah Jawa. Slametan juga identik dengan kegiatan haul untuk memeringati kematian orang-orang alim, para wali, dan seterusnya. Bisa dilakukan di masjid atau rumah, juga digelar di makam para wali.
Itulah mengapa slametan juga sering disebut sebagai kenduren. Istilah yang secara konseptual bisa dilacak kepada teks Urdu Kanduri, yang datang dari Indo-Persia, juga lazim dikaitkan dengan Imam Syafi'i (Woodward 1988: 64). Atas dasar inilah Woodward menyangkal slametan sebagai serapan unsur animisme dan Hindu dalam praktik Islam.
***
Melalui menggunakan pendekatan antropologi-hermeneutik sekalipun, pandangan Woodward tersebut masih sangat spekulatif. Dalam ihwal slametan misalnya, unsur pokok selain nasi tumpeng dan bubur sumsum atau bubur merah, umumnya slametan juga menggunakan apem atau apam.
Tentu saja, apem lebih banyak--atau bahkan hanya digunakan--untuk slametan yang terkait dengan peringatan kematian. Dalam kaitan ini, Woodward secara sembrono mengaitkan apem dengan makanan yang lazim dikenal di India dan Timur Tengah. Padahal, dari aspek kebahasaan saja, apem yang dikenal luas di Indo-Malaysia, merupakan serapan dari appam, yang diambil dari bahasa Tamil.
Pada prinsipnya adalah, tidak ada bukti komparasi yang memadai untuk mengaitkan unsur-unsur hidangan dalam slametan, bisa dikaitkan dengan tradisi Asia Selatan, dan apalagi Timur Tengah. Berpijak dari hal ini, Jakl memulai lacakannya dari sastra Kakawin dan sejumlah informasi prasasti. Lalu, dibandingkan pula dengan perubahan metode memasak sebagai defusi budaya.
Kerangka umum pembacaan Jakl merujuk pada pandangan Anthony Reid (1988) tentang karakter umum ritual keagamaan di Asia Tenggara pada masa pra-modern, yang selalu diwarnai oleh hidangan daging dan minuman arak. Semua dipraktikan dalam kerangka ritual yang dikaitkan dengan pengorbanan hewan.
Hal ini juga berlaku di Jawa, terutama karena ditemukan buktinya dalam Kakawin Bhamantaka. Informasi Kakawin tergolong istimewa, karena menyertakan setidaknya enam belas pupuh yang berisi informasi jamuan ritual mengawali perang. Ritual yang sama-sama ditandai dengan korban hewan.
Kerangka inilah yang akan membawa kita pada jenis hidangan, sebagai bagian tak terpisah dari sistem ritual persembahan, beserta makna simboliknya. Melalui Bhamanataka diketahui bahwa, di masa lalu, sebelum abad ke-15 M, perang biasa diawali dengan ritual pengorbanan, dengan sajian utama; daging dan arak. Setidaknya, tersebut 98 jenis hidangan yang terdiri dari ragam sayur dan berbagai bagian daging hewan yang dikorbankan.
Ini merupakan pesta besar, dan melibatkan banyak tukang masak laki-laki. Unsur utama daging yang lazim digunakan adalah jeroan, hati, usus, limpa, babat, sum-sum, dan seterusnya. Dipotong dan dicincang menyerupai salad, lalu dicampur dan lemak hewan, dan darah yang sudah dikentalkan (laban nikana mira-mirah). Biasanya dihidangkan secara mentah, dan disantap secara komunal.
Jakl berpandangan bahwa sistem kuliner ritual seperti ini, tidak pernah bisa dilepaskan dari pengaruh tantrisme, baik dari pengaruh Sivaisme maupun Buddhisme. Suatu praktik yang diperkaya oleh unsur-unsur lokal, tetapi juga selalu bisa dilacak persamaannya dengan pengaruh India. Menariknya, sistem kuliner seperti ini masih ada jejaknya hingga masa Mangkunegara I, setidaknya pada 1780-an akhir.
Praktik ritual dan sistem kuliner ritual yang sama juga dengan mudah ditemukan di Bali hingga periode modern. Semua memahami, bahwa relasi Bali dan Jawa bukan hanya berdekatan secara budaya, tetapi kuliner ritual di Bali sekaligus menggambarkan mutasi budaya Jawa yang telah hilang dalam rentang waktu panjang, sesudah abad ke-15 M.
Sebenarnya model ritual persembahan hewan juga ditemukan dalam upacara penetapan desa atau kawasan sima. Ini merupakan kawasan yang mendapat piagam dari raja sebagai kawasan istimewa karena dianggap berjasa, dan karena itu dibebaskan dari pajak. Dalam upacara-upacara penetapan desa sima yang direkam oleh berbagai prasasti sejak abad ke-9 hingga ke-14 M, upacara pengorbanan hewan dengan sistem kuliner seperti digambarkan di atas, juga menjadi hal yang sangat lumrah di Jawa.
Adapun penggunaan beras ketan atau ragam jenis bubur atau sereal, yang dikembangkan dari beras ketan, seperti lazim digunakan dalam slametan, Jakl cenderung melihatnya dari aspek transformasi metode memasak, dari pola menanak ke metode mengukus, bersamaan dengan berbagai temuan teknologi atau alat memasak yang menyertainya.
Penggunaan bahan beras ketan dan varian-varian makanan yang bisa diolah dari bahan material tersebut, lazim dikenali bersumber dari kawasan Cina Selatan, dan berdefusi ke wilayah Asia Timur dan seluruh Asia Tenggara, tidak terkecuali Indonesia. Menariknya, di beberapa wilayah Asia Tenggara, beras ketan bukanlah makanan pokok, tetapi lazim diperlakukan sebagai makanan festival atau ritual.
Penggunaan beras ketan dan varian bubur ketan dengan warna-warna simboliknya, seperti bisa ditemukan dalam kuliner slametan hingga saat ini, dengan begitu lebih merupakan pengaruhan Cina dibandingkan dengan pengaruh India. Dengan kata lain, kuliner slametan adalah suatu mosaik yang menyimpan ragam defusi dan mutasi kebudayaan yang tidak bisa dengan mudah dispekulasikan bersumber dari satu kanal kebudayaan saja.
Dalam kuliner slametan hingga saat ini, masih ditemukan adanya unsur-unsur ritual pengorbanan hewan, seperti penggunaan ayam ingkung dan lainnya. Hilangnya penggunaan darah sebagai elemen pokok kuliner, dan tentu saja arak, sangat besar karena pengaruh Islam. Tetap aja, ditemukan jejak tantrisme dalam kuliner slametan. Adapun penggunaan beras ketan dan ragam varian makan sereal, menggambarkan suatu defusi yang berjalan sedemikian panjangnya dalam rentang kebudayaan Nusantara.
Akhol Firdaus
Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) UIN SATU Tulungagung
Editor: Muhammad Zunus


