Salah satu kudapan Lebaran yang kerap diburu emak-emak adalah kue nastar. Kue kering dengan isian selai nanas yang manis dan legit ini kerap menjadi primadona di meja tamu.
Berdasarkan survei terbatas yang dilakukan StatsMe pada 17-24 Maret 2025, nastar mendominasi perolehan suara sebagai kue kering favorit Lebaran dengan persentase 51 persen. Angka ini mengungguli kue-kue populer lainnya seperti kastengel (17 persen), putri salju (16 persen), dan semprit (11 persen).
Kue yang identik dengan bentuk bulat bewarna kuning keemasan ini seiring berkembangnya tren kuliner dan kreativitas para pembuat kue, mulai bervariasi.
Belakangan ini, unggahan di media sosial Instagram dipenuhi reels yang menampilkan nastar berbentuk bebek berwarna kuning yang tampak mirip miniatur mainan bebek, bahkan ada pula yang dibuat menyerupai karakter kartun seperti Pokemon.
Penulis pun tergoda untuk mencoba membuat nastar bebek dengan mengikuti tutorial di YouTube. Gong! Hasilnya bukan main. Nastar berbentuk bebek itu justru tampak terpisah antara bagian kepala dan tubuhnya. Beberapa buah juga terlihat retak pada bagian badan.
"Tidak selamat bebekku,” gumam saya dalam hati.
Nastar bebek itu seolah ikut “terpuruk”, mirip berita-berita politik yang sedang ramai hari ini. Kadang yang terlihat rapi di awal justru berakhir retak ketika keluar dari “oven” kenyataan.
Nastar bebek yang retak itu mengingatkan bahwa dalam politik global pun sering terjadi hal serupa. Rencana yang terlihat mulus di atas meja strategi bisa berubah bentuk ketika berhadapan dengan panasnya konflik. Amerika, Israel, dan Iran hari ini seperti adonan yang sama-sama berada di dalam oven geopolitik semakin lama dipanggang, semakin besar risiko retaknya keadaan.
Bedanya, di dapur kita masih bisa memperbaiki adonan yang retak atau mencoba memanggang ulang nastar yang gagal. Sementara di dunia nyata, setiap retakan konflik sering membawa dampak jauh lebih besar bagi manusia yang hidup di sekitarnya.
Lantas, apa yang membuat kue nastar begitu istimewa di Hari Raya?
Menurut Chef Devina Hermawan, sebagai keturunan Tionghoa yang juga merayakan Imlek, nastar dipercaya melambangkan kemakmuran dalam budaya Tionghoa.
"Arti secara literal dari kue nastar dalam bahasa Hokkien atau China itu ‘pear emas’ yang melambangkan kemakmuran. Sama halnya juga dengan buah nanas. Jika dilihat dari bentuknya yang bertumpuk-tumpuk, itu juga melambangkan kemakmuran,” ujar Chef Devina melalui kanal YouTube pribadinya saat membagikan resep kue nastar, dikutip pada Minggu (15//20263).
Melansir Indonesian Chef Association, kue nastar dipercaya berasal dari Belanda, negeri kincir angin. Nama nastar sendiri berasal dari bahasa Belanda, yakni ananas yang berarti nanas dan taart/tart/pie yang berarti kue. Dari sinilah masyarakat Indonesia kemudian mengadaptasinya menjadi “nastar”.
Pada awalnya, kue pie khas Eropa biasanya menggunakan isian buah seperti blueberry atau apel. Namun, bahan tersebut cukup sulit ditemukan di Indonesia pada masa lalu. Karena itu, masyarakat kemudian menggantinya dengan buah nanas yang lebih mudah didapat.
Selain itu, agar lebih praktis disantap, masyarakat Indonesia juga memodifikasi ukuran pie khas Eropa yang biasanya disajikan dalam loyang besar menjadi bulatan-bulatan kecil. Dari situlah lahir kue nastar yang kini identik dengan suguhan Hari Raya.
Lebaran seolah mengingatkan bahwa masih ada hal-hal kecil yang layak dirayakan: aroma kue dari dapur rumah, tawa keluarga, dan sepiring nastar yang disajikan untuk tamu yang datang bersilaturahmi meskipun obrolannya juga soal politik.
Editor: Kendi Setiawan


