Umat Islam baru saja menggelar berbagai ritual keagamaan melalui perayaan malam Nisyfu Sya’ban. Munajat dilangitkan agar berbalas maghfirah serta kebaikan di dunia maupun di akhirat. Bacaan yasin tiga kali hingga shalat tasbih dilaksanakan untuk memperoleh berkah menjelang Ramadhan.
Setelah Nisyfu atau pertengahan Sya’ban berlalu, umat Islam kini berganti ritus dan tradisi menyambut datangnya bulan puasa (tarhib ramadhan). Hampir semua komunitas Islam dari berbagai wilayah di Indonesia memiliki budaya penyambutan Ramadhan dengan nama bercorak berlainan.
Beberapa ritus keagamaan menjelang Ramadhan terkadang dikemas dengan hiburan, namun aspek spiritualnya tetap menonjol. Megengan, Munggahan, dugderan, nyadren, termasuk tradisi Dandangan di Kudus atau festival rakyat sejenis digelar oleh masyarakat atau komunitas masjid untuk menyambut keberkahan bulan Ramadhan.
Biasanya ritual sya’ban dikombinasikan dengan pemberian infaq dan sadaqah kepada yang membutuhkan. Seluruh tradisi itu dimaksudkan untuk membersihkan diri di bulan Sya’ban dan menumbuhkan kegembiraan dalam rangka menyambut Ramadhan.
Sya’ban Istimewa
Dari namanya saja, Sya’ban memiliki arti spesial: bulan di mana berbagai kebajikan dikumpulkan (innahu yatasya’a’abu fihi khairun katsirun). Dalam kitab Durratun Nasihin, Rasulullah Saw membandingkan bulan Sya’ban dengan bulan-bulan lainnya, ibarat keutamaan Rasulullah Saw dengan nabi-nabi lainnya (fadhlu sya’bana ‘ala sairi al-syuhuri kafadhli ‘ala sairi al-anbiya).
Keistimewaan Sya’ban di mata Rasulullah Saw, setidaknya ditunjukkan oleh hadits riwayat Sayyidah Aisyah bahwa Nabi tidak berpuasa pada satu bulan lebih banyak selain di bulan Sya’ban. Seolah-olah beliau berpuasa sebulan penuh di bulan ini (lam yakun al-nabiyyu yashumu syahran min sya’bana. Fainnahu kana yashumu sya’bana kulluhu).
Sikap Rasulullah Saw terhadap bulan ini membuat Usamah bin Zaid penasaran. Suatu kali, Usamah bertanya: “Ya Rasul, saya tidak pernah menjumpai engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban"
Rasulullah Saw menjawab: “Sya’ban banyak dilupakan orang karena posisinya di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Sya’ban adalah bulan laporan amal kepada Allah Swt. Maka saya senang amal saya dilaporkan sementara saya dalam kondisi berpuasa (fa uhibbu an yurfa’a ‘amali wa ana shaimun).
Para ulama memaknai hadits di atas dengan tafsir yang beragam namun kontekstual. Jika dipahami dalam rangkaian menuju bulan Ramadhan, maka Yahya bin Mu’adz memiliki pandangan yang menarik. Pertama, Rajab adalah bulan untuk mensucikan badan (li tathhir al-qalbi). Caranya dengan memperbanyak membaca istigfar dari segala dosa (memohon ampunan kepada Allah Swt atau lil istigfar min al-dzunub).
Kedua, Sya’ban adalah bulan untuk mensucikan hati (li tathhir al-qalb) dari berbagai aib (li ishlah al-qalbi min a-‘uyub), dan; Ketiga, Ramadhan untuk mensucikan ruh (li tathhir al-ruh) dengan menyinari hati (li tanwir al-qulub) seperti laku puasa (menahan hawa nafsu) yang hakikatnya mempertajam mata batin. (Durratun Nasihin: 218).
Indahnya Islam Nusantara
Setiap orang pasti memiliki kesalahan dan kekurangan kepada orang lain, entah bagi mereka yang sudah meninggal atau masih hidup. Kesalahan kepada orang yang sudah meninggal diwujudkan dengan nyadran (ziarah kubur secara personal) atau tahlil arwah jamak (ziarah kubur atau gelaran bacaan tahlil di masjid secara massal) kepada leluhur.
Nyadran hakikatnya memohon ampunan kepada Allah Swt atas dosanya dan dosa leluhurnya yang sudah meninggal. Dengan demikian, hatinya bersih dari aib, kesalahan, dan dosa, baik kepada yang sudah meninggal maupun kepada Allah Swt. Memasuki bulan Ramadhan, hatinya sudah bersih dan niat yang tulus untuk membersih di bulan suci.
Selain nyadran, ulama nusantara juga mengenalkan ritual bancakan, yaitu upacara selamatan dengan cara membagi-bagikan makanan kepada tetangga kiri-kanan. Salah satu simbol makanannya berupa jajajan apem. Apem berasal dari kata ‘afwan yang artinya mohon maaf lahir dan batin.
Ucapan sejenis ini biasanya akan menghiasai media sosial sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ucapan tulus meminta maaf kepada sanak-saudara-teman hakikatnya merupakan upaya mensucikan hati dari salah dan khilaf selama menjalin hubungan dengan sesama.
Begitulah muslim di Indonesia. Kaya dengan budaya dan tradisi yang diinspirasi dan terbalut dari ajaran-ajaran Islam yang luhur.
Abu Rokhmad Musaki
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI
Editor: Muhammad Zunus


