Dark
Light
Dark
Light

Data dan Doa: Di Persimpangan Pengetahuan

Data dan Doa: Di Persimpangan Pengetahuan

Saat cahaya sains semakin memberi terang pada dunia, justru manusia Indonesia merasa hidupnya makin temaram saja. Kemajuan teknologi yang memudahkan segalanya dalam kehidupan sehari-hari, hadir ruang sunyi yang tak terjamah logika. Di sisi itu cara pandang lama pelan berbisik, menegaskan tidak semua hal bisa dijelaskan data, ada sesuatu yang lebih halus dari sekadar pengetahuan, yakni bijaksana.

Hari-hari ini, manusia Indonesia laiknya berjalan di dua sisi yang tak kunjung bertemu. Di satu sisi, sains dan teknologi disanjung tinggi, seakan mantra baru yang bisa simsalabim memenuhi semua aspek yang dibutuhkan dan diinginkan, namun di sisi berlainan, masyarakat masih saja mudah tersulut isu mistik atau kepercayaan pada hal-hal yang tak kasat mata. Dalam pendar cahaya layar yang memantulkan pengetahuan, justru tumbuh bayangan kebingungan. Ada kesaksian yang paradoks, menegaskan bangsa yang semakin digital tetapi juga semakin tak pasti menentukan arah berpikir dan melangkahnya.

Fenomena di atas mengingatkan pada gagasan dalam jurnal Sustainability (2023) berjudul Incorporating Traditional Knowledge into Science-Based Sociotechnical Measures in Upper Watershed Management. Meski penelitian tersebut berfokus pada pengelolaan daerah aliran sungai, namun menyampaikan pesan yang lebih luas, tentang pengetahuan tradisional dan ilmu modern seharusnya tidak saling meniadakan, namun satu sama lain saling melengkapi. Dalam konteks Indonesia, dapat dikatakan menyeimbangkan warisan leluhur dengan disiplin berpikir ilmiah.

Dalam realitas sosial hari ini sering memperlihatkan jurang yang lebar juga dalam antara keduanya. Mereka yang memuja sains kerap menertawakan nilai-nilai lama sebagai takhayul, sementara mereka yang mencintai tradisi menuduh sains sebagai penyebab hilangnya spiritualitas. Ironinya, semua itu menegaskan akan kehilangan yang sama, yakni arti dan makna hidup. Di era digital, sains sering direduksi menjadi alat produksi keuntungan, sementara tradisi dijadikan komoditas tontonan, dari ritual spiritual hingga kehidupan religius, semuanya disajikan untuk rating dan viral semata.

Satu dekade terakhir ini, kita dapat menyaksikan bagaimana ruang-ruang yang dahulu sakral kini menjadi konsumsi publik. Kamera dan media sosial menyorot kehidupan pendidikan moral dan keagamaan serta tradisi spiritual, dengan sudut pandang objektivitas visual. Apa yang dulu hidup dalam kesunyian kini diubah menjadi narasi yang bisa diatur, disunting, dan laku dijual. Modernitas, dalam bentuk media dan sains, mengklaim sebagai pembuka kebenaran, padahal sering hanya menyingkap kulit dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Kamera bekerja dengan gelap-terang, tetapi maknanya tetaplah tak teraba bahkan kadang tak terasa.

Masyarakat modern yang mengaku rasional justru begitu mudah percaya pada ilusi digital. Mereka menolak mistisisme, tetapi percaya pada ramalan algoritma dan kultus popularitas. Kita menolak dukun, tapi tunduk pada dukun data yang menentukan sekiranya layak dibaca-ditonton serta dipercaya. Paradoks ini menunjukkan bahwa manusia modern tak sepenuhnya bebas dari mitos, melainkan mitosnya berganti bentuk.
Relevansi pemikiran dari Sustainability (2023) kembali terasa. Penelitian dalam jurnal itu menekankan pengetahuan tradisional dan ilmu sains harus saling belajar: sains membawa ketepatan dan rasionalitas, sementara tradisi membawa kedalaman dan arti dalam kehidupan. Bila keduanya berjumpa dalam kesadaran saling menghormati, maka lahirlah bentuk pengetahuan yang utuh, cerdas serta manusiawi.

Dalam konteks sosial-budaya Indonesia, prinsip itu berarti membuka ruang dialog antara cara berpikir logis dan nilai-nilai spiritual. Tradisi pesantren, misalnya, selama berabad-abad menjaga etika belajar yang menekankan adab, kesabaran, dan pembentukan karakter. Sains modern menekankan kecepatan dan efisiensi, tapi tradisi mengingatkan bahwa pengetahuan sejati tidak hanya mengisi kepala, melainkan juga menata hati. Dua hal itu tidak harus bertentangan, justru bisa saling menyempurnakan. Namun dalam praktik sosial, hibridisasi sering berubah menjadi kontradiksi yang getir. Kita memuja teknologi, tapi kehilangan arti kemanusian. Begitu pula kita memuja tradsi, tapi sering mengabaikan kelogisan sesuatu. Dalam situasi seperti ini, pendidikan, media, serta kebijakan publik sering gagal membangun jembatan antara keduanya.

Dampaknya, yang lahir bukan dialog, melainkan kebingungan kolektif, manusia yang tampak modern tapi berpikir feodal, atau sebaliknya, manusia yang religius tapi terjebak dalam logika pasar digital.

Barangkali di sinilah letak tantangan terbesar manusia Indonesia hari ini, keberanian untuk tidak memilih hanya satu jalan. Keberanian untuk mengakui bahwa ilmu dan iman, serta data dan doa, semuanya diperlukan agar manusia tetap utuh. Ilmu pengetahuan memang mengajarkan cara berpikir benar, tetapi tradisi mengajarkan cara menjadi manusia. Sains mengajari kita mengukur, tapi tradisi mengingatkan bahwa tidak semua yang penting bisa diberlakukan demikian.

Manusia hidup di zaman ketika cahaya teknologi begitu benderangnya hingga menyilaukan banyak orang lalu kehilangan arah. Dalam terang yang berlebihan itu, bayangan menjadi lebih panjang. Tradisi yang dulu tenang kini tampak mencolok, dan ilmu yang dulu membebaskan kini terasa menghakimi. Maka mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak ilmu, melainkan lebih banyak kebiijaksanaan, kemampuan untuk tahu kapan harus melihat, dan kapan harus menundukkan pandangan, serta mengukur diri sendiri.

Di antara algoritma dan adab, manusia Indonesia kini berdiri di persimpangan. Jika mampu menjadikan ilmu dan tradisi sebagai dua sayap yang bekerja bebarengan, mungkin saja bisa kembali terbang menuju keseimbangan yang lama hilang. Tapi selama satu pihak terus ingin menyingkap, dan pihak lain merasa disingkap, yang tumbuh hanyalah jarak. Sementara menjadi bijaksana selayaknya matahari sore, hidup di ruang yang tak sepenuhnya terang, tapi juga tak hilang dalam gelap.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo