Dark
Light
Dark
Light

Dari Pendidik hingga Sineas: Biografi Tokoh-tokoh Muhammadiyah Penuh Inspirasi

Dari Pendidik hingga Sineas: Biografi Tokoh-tokoh Muhammadiyah Penuh Inspirasi

Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Dikenal karena kiprah sosial dan pendidikannya, di Muhammadiyah juga banyak sosok besar yang telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi perkembangan umat dan bangsa.

Tokoh-tokoh tersebut, baik yang lahir di awal abad ke-20 maupun kekinian, memiliki perjalanan hidup yang penuh perjuangan, dedikasi, dan semangat. Mereka hadir dalam berbagai ruang, baik di bidang pendidikan, dakwah, politik, akademik, aktivis, militer, hingga sineas.

Setiap tokoh memiliki kontribusi yang tak ternilai bagi perkembangan Islam yang berkemajuan. Berikut adalah biografi singkat beberapa tokoh Muhammadiyah yang sangat menginspirasi untuk diketahui:

1. KH Ahmad Dahlan (1868–1923)
KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah (1912) yang lahir pada tanggal 1 Agustus 1868, di Kauman, Yogyakarta. Beliau mula-mula bernama Muhammad Darwisy, namun selepas belajar di Mekkah dan kembali ke kampung halaman pada tahun 1888, beliau mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan.  

KH Ahmad Dahlan merupakan seorang ulama progresif sekaligus pelopor pendidikan modern yang berhasil memadukan ajaran Islam dengan modernitas. Dalam dakwah dan perjuangannya, beliau selalu menekankan pentingnya pendidikan, reformasi sosial, dan pemberantasan takhayul di masyarakat.

Muslich Shabir dalam buku Muhammadiyah Kini dan Esok (1990) menuliskan bahwa pada awal abad ke-20, saat pendidikan terbagi antara konservatif (hanya mementingkan akhirat) dan pragmatis (hanya berorientasi pada dunia), KH Ahmad Dahlan berupaya menjembatani jurang di antara keduanya dengan melakukan pembaharuan dalam pendidikan. Pembaruan yang dimaksud meliputi dua segi, yaitu cita-cita dan segi teknik.

Beliau mendirikan sekolah modern yang menggabungkan kurikulum agama dan umum. Upaya itu dilakukan untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas dalam bidang agama tetapi juga permasalahan sosial. Inovasi itu membawa Muhammadiyah sebagai pelopor pendidikan Islam yang inovatif.

Pengaruhnya sangat besar dalam membangun Islam yang berkemajuan di Indonesia. Atas jasa-jasanya, Pemerintah menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no.657 tahun 1961. Film Sang Pencerah (2010) garapan Hanung Bramantyo adalah salah satu media untuk mengenal lebih dalam sosok KH Ahmad Dahlan.

2. Hj Siti Walidah (1872-1946)
Hj Siti Walidah atau yang lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, adalah istri dari Ahmad Dahlan sekaligus tokoh penting dalam Muhammadiyah yang lahir pada tanggal 3 Januari, 1872, di Yogyakarta. Beliau merupakan pendiri Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah yang berdiri tahun 1917.

Sebelum lahirnya Aisyiyah, Siti Walidah mendirikan Sopo Tresno pada tahun 1914. Sopo Tresno adalah gerakan semacam kelompok diskusi yang berfokus pada mendalami makna Al-Qur’an, terutama ayat-ayat tentang perempuan. Selain itu, perkumpulan itu juga menjadi wadah bagi para perempuan untuk belajar membaca dan menulis serta mengkaji berbagai ilmu pengetahuan.

Siti Walidah adalah salah satu tokoh emansipasi perempuan Indonesia abad ke-20 yang kontribusinya bagi Indonesia sangat besar. Beliau memperjuangkan pendidikan dan pemberdayaan perempuan, khususnya melalui pengajian dan kegiatan sosial. Pada 1971, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia.

3. Buya Hamka (1908–1981)
Buya Hamka atau yang bernama asli Abdul Malik Karim Amrullah, merupakan seorang ulama, sastrawan, sekaligus pemikir Islam Indonesia. Beliau lahir di Sumatera Barat pada tanggal 17 Februari 1908. Hamka tumbuh dalam ekosistem keluarga yang lekat dengan pengetahuan. Ayahnya, yakni Haji Abdul Karim Amrullah, adalah salah satu tokoh pembaharu islam terkemuka di Minangkabau. Ibunya, Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria merupakan keturunan Syekh Guguk Katur.

Hamka dikenal luas karena karya-karyanya dalam bidang sastra dan pemikiran Islam. Karya monumental beliau adalah novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1938). Dalam ruang keislaman, beliau benyak menulis prihal tafsir Al-Qur'an, fiqh, dan pemikiran Islam. Salah satunya adalah Tafsir al-Azhar, sebuah tafsir yang sangat dihargai di dunia Islam.

Selain berkarir di bidang sastra dan keilmuan, Buya Hamka juga aktif dalam organisasi Muhammadiyah dan sempat menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada masa awal pembentukannya. Pemikirannya tentang Islam yang moderat, serta pentingnya pendidikan dan kebudayaan, membuatnya menjadi figur yang sangat dihormati hingga kini.

Buya Hamka dianugerahi gelar Pahlawan Nasional lewat SK No.113/TK/2011. Film Buya Hamka (2023) disutradarai Fajar Bustomi, adalah salah satu media untuk mengenal lebih dalam kehidupan Buya Hamka.

4. Jenderal Soedirman (1916–1950)
Sebelum terjun dalam dunia militer dan menjadi Jenderal bintang lima pertama di Indonesia, Soedirman aktif dalam organisasi kepemudaan Pandu Hizbul Wathan dan pernah menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah, Cilacap. Beliau diberikan gelar sebagai Bapak TNI karena memimpin TKR dalam pertempuran Ambarawa, memimpin PETA melucuti senjata Jepang, mendirikan BKR, dan memimpin gerilya selama Agresi Militer II tahun 1948-1949.

Jenderal Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Januari 1916. Beliau dikenal sebagai tokoh perjuangan yang memimpin gerilya melawan penjajah selama Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Meskipun menderita penyakit paru-paru, semangat dan kepemimpinannya tetap kuat.

Jenderal Soedirman menjadi simbol keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air. Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 10 Desember 1964 lewat Keppres No.314 Tahun 1964. Film Jenderal Soedirman (2015) garapan Viva Westi, adalah salah satu media untuk mengenal lebih dalam sosok Jenderal Soedirman.

5. AR Fachruddin (1916-1995)
Abdul Rozak Fachruddin atau yang lebih akrab dikenal A.R Fachruddin merupakan ulama dan tokoh Muhammadiyah yang menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah terlama, yaitu dari tahun 1968 hingga 1990. Beliau lahir pada tanggal 14 Februari 1916, di Pakualaman, Yogyakarta.

AR Fachruddin adalah ulama besar yang berwajah sejuk dan bersahaja. Kesejukannya sebagai pimpinan umat islam turut juga dirasakan oleh umat beragama lain. Dilansir dari Muhammadiyah.or.id, ketika menyambut kunjungan pimpinan Vatikan, Paus Yohanes Paulus II di Yogyakarta, beliau menyampaikan kritikan kepada umat Katholik terkait upaya kristenisasi dengan rayuan materi, tetapi kritik itu disampaikannya secara halus dan sejuk berupa sebuah surat terbuka.

Dalam tulisannya kepada Paus Yohanes Paulus II itu, AR Fachruddin menyampaikan bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh ummat lain karena disampaikan dengan lembut dan sejuk dalam bahasa Jawa halus, serta dijiwai semangat toleransi yang tinggi.

Selain mengelola Muhammadiyah, beliau juga aktif memberikan ceramah yang dikenal memiliki gaya bahasa sederhana namun mendalam.

Ada salah satu kisah menarik yang masih dijadikan simbol persaudaraan antara NU dan Muhammadiyah hingga kini. Mengutip Muhammadiyah.or.id, kisah ini terjadi saat Pak AR Fachruddin mengunjungi sahabatnya, Ketua Umum PBNU, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng pada bulan Ramadhan.

Dikisahkan suatu waktu, Gus Dur meminta Pak AR mengisi khutbah sekaligus menjadi imam shalat tarawih. Menyanggupi dorongan itu, Pak AR pun izin kepada jamaah seperti biasa. "Ini mau pakai tarawih NU atau Muhammadiyah?" tanya Pak AR kepada jamaah. “enNUUUUUUUU…..,” jawab ratusan jamaah kompak dengan penuh semangat.

Seperti biasa, Pak AR tersenyum. Beliau lalu berbalik badan dan mulai mengimami ratusan jamaah NU dengan tuma'ninah, pelan, dan disertai bacaan surat al-Quran yang panjang. Dengan cara Muhammadiyah itu, durasi shalat tarawih 8 rakaat tentu melampaui durasi shalat tarawih NU lazimnya.

Tentu saja, ratusan jamaah NU menjadi gelisah. Setelah salam di rakaat kedelapan, Pak AR berhenti dan memutar badan menghadap jamaah shalat. Beliau kembali bertanya: “Ini mau dilanjutkan tarawihnya cara NU yang 23 atau Muhammadiyah yang 11 rakaat?” kata Pak AR terkekeh.

Para jamaah yang gelisah itu otomatis tertawa dan menjawab: “Tarawih Muhammadiyah saja..,” sahut para jamaah dengan tawa bahagia sekaligus masygul. Pak AR pun menurutinya dan memimpin shalat witir tiga rakaat.

Selesai salat, Gus Dur bangkit dan berkata kepada para jamaah: “Baru kali ini ada sejarahnya warga NU di kandang NU di-Muhammadiyah-kan secara massal oleh satu orang Muhammadiyah saja,” kata Gus Dur yang disambut gelak tawa oleh para jamaah.

6. Buya Syafii Maarif (1935–2022)
Buya Syafii Maarif merupakan seorang ulama, intelektual, dan tokoh Muhammadiyah yang sangat dihormati di Indonesia. Beliau lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada tanggal 31 Mei 1935. Buya Syafii dikenal sebagai pemikir yang moderat dan progresif dalam memperkenalkan Islam yang ramah terhadap perbedaan dan keberagaman.

Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1998–2005), Buya Syafii memainkan peran kunci dalam mengembangkan dan memperkuat organisasi ini. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah lebih menekankan pentingnya moderasi beragama, toleransi, dan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman yang humanis. Beliau juga terlibat aktif dalam membangun hubungan lintas agama dan budaya yang sangat relevan dengan semangat pluralisme Indonesia.

Buya Syafii juga dikenal sebagai penulis dan intelektual yang produktif. Ada begitu banyak karya buku yang ditulis semasa hidupnya, salah satu buku terkenalnya, Membumikan Islam (2019) mencerminkan pemikiran-pemikiran mengenai pentingnya mengembangkan keislaman di tanah air dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan.

7. Alimatul Qibtiyah (1971-)
Alimatul Qibtiyah atau yang akrab disapa Mbak Alim merupakan Guru Besar bidang kajian gender, peneliti, penulis, sekaligus komisioner Komnas Perempuan. Beliau lahir di Ngawi, pada tanggal 19 September 1971. Publik mengenalnya sebagai feminis islam Indonesia yang aktif menyuarakan persoalan perempuan dan anak.

Sejak tahun 2000 beliau diajak oleh Susilaningsih Kuntowijoyo untuk terlibat dalam Pimpinan Pusat Aisyiyah. Semenjak itu, Alim aktif di ‘Aisyiyah di Majelis Dikti, Majelis Tabligh, di LPPA (lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah), PP ‘Aisyiyah, dan sebagai anggota di Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang fokus terhadap isu perempuan dan anak.

Alim turut hadir dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia atau. Beliau terlibat dalam pembahasan mengenai perempuan dan radikalisme juga perempuan dan kekerasan seksual. Alim berupaya mengakses sumber dan rujukan tentang persoalan kesetaraan dan keadilan gender sebagai inspirasi untuk disebarluaskan di ruang publik. Sebuah upaya untuk mendorong terwujudnya ruang aman bagi perempuan dan anak di Indonesia.

8.  Hanung Bramantyo (1975-)
Setiawan Hanung Bramantyo atau yang akrab dengan nama Hanung Bramantyo adalah seorang Sutradara Indonesia yang lahir pada tanggal 1 Oktober 1975, di Yogyakarta. Beliau dikenal melalui film-filmnya yang konsisten mengangkat tema keluarga, sosial, dan agama. Karyanya kerap mengundang perenungan bagi para penonton. Hanung berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Piala Citra.

Karya film Hanung dikenal berani sekaligus menghibur. Beberapa filmnya yang dianggap kontroversial adalah Perempuan Berkalung Sorban (2009), yang mengangkat permasalahan perempuan dan tradisi islam konservatif, lalu Tanda Tanya (2011), yang mengulik tentang pluralisme agama di Indonesia. Beberapa judul film lainnya yang terkenal adalah Ipar adalah Maut (2024), Miracle in Cell No 7 (2022), dan Ayat-Ayat Cinta (2008).


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo