Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan tak hanya soal bendera yang berkibar atau upacara yang khidmat. Peringatan HUT Kemerdekaan juga berarti refleksi, harapan, dan keberanian untuk melihat beragam masalah.
Di tengah semangat 17 Agustus, ketiga hal tersebut dapat dilakukan dengan menonton film. Sinema bisa menjadi media menyenangkan sekaligus bermakna untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia ke-80.
Namun, kali ini rekomendasi film akan sedikit berbeda dari umumnya. Deretan judul film yang disuguhkan tidak bercerita mengenai sejarah atau perjuangan fisik melawan penjajah, melainkan tentang perjuangan melawan ketidakadilan gender, kesenjangan sosial, kemiskinan struktural, dan sistem pendidikan yang belum merata.
Film-film bisa mengajak para penonton ikut merenungkan sebuah pertanyaan: apakah kita sudah benar-benar merdeka?
1. Pink (2016, Aniruddha Roy Chowdhury)
Film Pink mengisahkan tiga perempuan muda: Minal, Falak, dan Andrea, yang terlibat dalam insiden kekerasan setelah salah satu dari mereka melukai seorang pria bernama Rajveer dalam upaya membela diri dari pelecehan seksual. Rajveer, yang berasal dari keluarga berpengaruh, membalas dengan menuduh mereka melakukan percobaan pembunuhan dan menyebarkan fitnah.
Ketika sistem hukum dan sosial mulai menekan mereka, seorang pengacara pensiunan bernama Deepak Sehgal (diperankan oleh Amitabh Bachchan) memutuskan untuk membela mereka di pengadilan. Film ini menggambarkan perjuangan hukum yang menyoroti isu persetujuan, stereotip terhadap perempuan, dan bias sosial yang masih kuat di masyarakat India.
Di Indonesia, persoalan kekerasan terhadap perempuan juga masih menjadi permasalahan yang menggunung. Berdasarkan data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024, satu dari empat perempuan di Indonesia, yaitu yang berusia 15-64 tahun, pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual, baik dari pasangan maupun selain pasangan. Pink menjadi salah satu film yang bisa membantu merefleksikan pola kekerasan yang banyak dialami oleh perempuan.
Film ini sangat relevan untuk tema kemerdekaan modern karena bicara tentang hak atas tubuh, keadilan, dan keberanian melawan sistem yang timpang.
2. Freedom Writers (2007, Richard laGravenese)
Freedom Writers mengangkat kisah nyata Erin Gruwell, seorang guru muda yang mengajar di sekolah menengah di Long Beach, California, yang dipenuhi oleh murid-murid dari latar belakang ras dan budaya yang berbeda.
Di tengah-tengah ketegangan rasial, kekerasan geng, dan rendahnya harapan terhadap masa depan, Erin menggunakan pendekatan empati dan jurnal pribadi untuk membangun kepercayaan dan membuka hati para muridnya.
Lewat tulisan mereka, para siswa mulai menyuarakan pengalaman hidup yang kelam dan menemukan harapan baru melalui pendidikan. Film ini menunjukkan bagaimana kekuatan mendengarkan, menghargai, dan memberi ruang bisa mengubah kehidupan; dan bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kebebasan untuk berpikir, bermimpi, dan didengar.
Film ini sangat cocok untuk menyambut kemerdekaan ke-80 karena bisa menjadi bahan refleksi yang menyoroti isu pendidikan, kesetaraan, dan identitas sosial yang belum terselesaikan di Indonesia.
3. Hindi Medium (2017, Saket Chaudhary)
Raj dan Meeta Batra adalah pasangan kaya di Delhi yang ingin anak mereka, Pia, masuk ke sekolah berbahasa Inggris yang bergengsi. Mereka percaya bahwa pendidikan elite akan membawa Pia pada kehidupan sosial yang lebih tinggi. Namun, karena latar belakang mereka berasal dari sekolah "Hindi medium" dan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, mereka kesulitan mendapatkan akses.
Demi mewujudkan impian itu, mereka rela berpura-pura menjadi keluarga miskin agar bisa memanfaatkan kuota pendidikan untuk masyarakat kurang mampu. Film ini menyindir keras sistem pendidikan yang tidak adil, obsesi terhadap bahasa Inggris, dan ketimpangan sosial yang masih terjadi di India.
Meski mengambil latar di India, film ini mengandung kritik terhadap kesenjangan kualitas sekolah antara negeri dan swasta yang banyak terjadi di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Hindi Medium menjadi sangat relevan untuk tema kemerdekaan modern karena merefleksikan masalah kesetaraan akses pendidikan dan jurang ekonomi dalam masyarakat.
4. Capernaum (2018, Nadine Labaki)
Capernaum mengangkat kisah seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Zain yang hidup di tengah kemiskinan ekstrem di Beirut, Lebanon. Setelah menjalani hukuman penjara karena tindak kekerasan, Zain mengejutkan dunia dengan menggugat orang tuanya atas kelalaian; karena telah melahirkannya ke dunia penuh penderitaan tanpa kasih sayang dan perlindungan.
Dalam perjalanan hidupnya, Zain bertahan di jalanan, merawat bayi dari seorang imigran ilegal, dan menghadapi kerasnya hidup tanpa identitas resmi. Capernaum adalah potret menyayat hati tentang anak-anak yang terpinggirkan, sistem sosial yang gagal, dan perjuangan untuk mendapatkan hak paling dasar: hidup yang layak dan bermartabat.
Film ini sangat relevan menyambut perayaan kemerdekaan karena menarik penonton untuk memikirkan arti kemerdekaan bagi anak. Di dalamnya mengandung kritik yang menyentuh tentang hak anak, identitas, dan keadilan sosial.
5. Parasite (2019, Bong Joon-ho)
Parasite mengisahkan keluarga Kim yang hidup dalam kemiskinan di sebuah apartemen semi-basement di Seoul. Ketika putra mereka, Ki-woo, mendapat kesempatan menjadi tutor anak dari keluarga Park yang kaya raya, ia membuka jalan bagi seluruh keluarganya untuk menyusup ke rumah tersebut dengan menyamar sebagai pekerja profesional.
Awalnya tampak seperti keberuntungan, namun hubungan antara kedua keluarga berubah menjadi penuh ketegangan dan rahasia kelam. Dengan gaya satir dan penuh simbolisme, Parasite menggambarkan ketimpangan sosial, ambisi, dan konflik kelas yang tajam; hingga berujung pada tragedi yang mengguncang. Film ini cocok dinikmati di hari kemerdekaan karena menyoroti ketidakadilan struktural dan perjuangan hidup di tengah jurang sosial yang lebar.
Editor: Kendi Setiawan


