Rakernas Kementerian Agama kali ini membuka celah berpikir untuk memperkuat dan mempertajam berbagai terobosan baru.
Sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis menikmati menjadi salah satu peserta dalam Rakernas (Rapat Kerja Nasional) Kementerian Agama di Semarang, Jawa Tengah, 4-6 Februari, 2024. Rakernas kali ini diikuti 11 pejabat eselon 1, 54 dari eselon 2, 34 Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) seluruh Indonesia, 30 Rektor Universitas Islam Negeri, 31 Rektor Institut, dan 10 Kepala Sekolah Tinggi. Bukan hanya formasinya yang terbilang lengkap tapi banyak hal yang patut menjadi perhatian dari Rakernas kali ini. Jalannya diskusi, materi yang disampaikan narasumber, dan respons para peserta.
Di pengujung tugasnya di Kementerian Agama, karena akan adanya suksesi nasional dalam hitungan hari yaitu Pemilu 2024, 14 Februari nanti, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas justru merancang banyak hal. Kemajuan beberapa tahun ini dan rancangan bidang-bidang yang ada di Kementerian pada 2024, satu persatu dilihat ulang untuk menangkap berbagai kesempatan. Bahkan Gus Menteri terus serius mengawal Rakernas hingga jam 2 dini hari.
Sebenarnya, Kementerian Agama telah menorehkan berbagai prestasi. Banyak program pemerintah dalam bidang moderasi beragama, reformasi pengelolaan seputar industri halal, pelayanan jamaah haji yang inklusif, juga seputar profesionalisme aparatur sipil negara (ASN). Langkah-langkah terobosan itu menghasilkan berbagai penghargaan dari berbagai badan.
Namun bukannya sedikit santai, karena akan tugasnya segera berakhir , justru sebaliknya. Menteri Agama kembali menajamkan berbagai terobosan terhadap perbaikan, peningkatan layanan, digitalisasi data, dan inovasi di sektor-sektor yang ada di Kementrian Agama. Gus Yaqut mendengar dan berkomentar satu persatu semua rencana eselon satu yang berkoordinasi dengan eselon di bawahnya. Hal yang sama pun dilakukan pada perguruan tinggi di bawah Kementrian Agama, di bawah direktorat jendral pendidikan tinggi. Satu persatu dilihat dan dirancang untuk tahun ini.
Perguruan tinggi di bawah koordinasi Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi menjadi perhatian Rakernas ini. Dalam paparannya, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Muhammad Ali Ramdhani menerangkan rancangan pada tahun ini. Program digitalisasi masih menjadi perhatian utama, selain karena teknologi informasi ini akan memudahkan proses belajar bagi peserta didik bagi semua level dari dasar sampai perguruan tinggi, digitalisasi juga akan menjadi senjata bagi Kementrian Agama dalam konteks kompetisi nasional dan global.
Selain itu, pembangunan fasilitas pendidikan dan peningkatan kualitas pendidik tetap menjadi program prioritas. Khusus untuk perguruan tinggi, alih status kelembagaan menjadi perhatian utama, baik dari Sekolah Tinggi ke Institut ataupun penegerian yang perguruan tinggi yang masih berstatus masih swasta. Khusus untuk perguruan tinggi Katolik dan Hindu mendapat perhatian untuk alih status kelembagaan ini.
Saatnya Go International!
Dalam paparan Dirjen juga menyebut beberapa kemungkinan mendorong arah internasionalisasi. Perguruan tinggi kita perlu didorong untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi di luar Indonesia melalui berbagai program pertukaran siswa dan Guru Besar. Hal itu akan menjadi prioritas, bersamaan juga dengan kolaborasi riset dan penulisan.
Perguruan tinggi di bawah Kementrian Agama harus dipacu untuk berinovasi ke arah unggul dan bersiap-siap pada kompetisi global. Para Guru Besar didorong untuk mendapatkan program sabbatical leave (tinggal di luar negeri) selama satu hingga dua semester di perguruan tinggi di negara maju. Sehingga mereka mendapatkan pemutakhiran pengetahuan dan berbagai pengalaman dengan para Guru Besar di negara lain.
Tentu saja hal ini merupakan langkah maju yang harus diapresiasi. Perguruan tinggi di Kementrian Agama harus dipacu untuk keunggulan kualitasnya dan juga ranking dunia. Sejalan dengan itu, UIN Sunan Kalijaga, yang penulis pimpin, telah melakukan kolaborasi internasional.
Sebanyak 16 program studi di kampus yang penulis pimpin telah mendapatkan akreditasi internasional FIBAA (Foundation International Business Administration Accreditation). Lalu ada juga 9 program studi yang mendapatkan akreditasi dari AUN-QA (Asian Univeristy Quality Assurance).
Penulis menyadari bahwa semua itu dapat tercapai dari sebuah kerja keras dan teamwork UIN Sunan Kalijaga bekerja keras, cerdas, dan selaras dalam mengawal setiap saat proses visitasi akreditasi. Hal itu juga yang membuat UIN Sunan Kalijaga, mendapat terakreditasi unggul sejak 2021 sekaligus menjadi perguruan tinggi pertama di bawah Kementrian Agama yang pertama meraihnya.
Sekali lagi, penulis benar-benar menikmati rakernas kali ini. Para peserta bisa berbagi pengalaman dengan para rektor dan pejabat-pejabat lain. Rakernas kali ini membuat kita berfikir untuk mengukur diri dan merenung seberapa banyak celah yang bisa diisi untuk memperkuat dan mempertajam terobosan-terobosan baru.
Al Makin, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Al Makin
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Editor: Muhammad Zunus


